Menjadi Guru Cerdas dan Berkarakter

1 comment 196 views

Bukan zamannya sekarang guru mengeluh tentang sarana pembelajaran, sudah terlalu banyak sarana-sarana yang bisa kita pakai untuk pembelajaran anak,  kalau M Nasih Ulwan menulis tarbiyatul aulad, Benjamin S. Bloom pada tahun 1956 tiga kategori kemahiran dan objektif yang ingin dicapai oleh pelajar dalam taksonomi ini iaitu kognitif(pemikiran), afektif(rohani) dan psikomotor(jasmani)[1].  Howard Gardner’s multiple intelligence theories model menawarkan konsep multiple intelegences selanjutnya lebih banyak dibahas oleh Munif chatib dalam banyak buku-buku yang di tulis. Ini adalah buku-buku sumber pokok ilmu yang harus dimengerti oleh para pendidik untuk lebih dapat berhasil dalam mengantarkan anak didik menjadi orang sukses.

Saat ini jutaan siswa kita bersekolah di sekolah-sekolah dengan guru dan metoda pembelajaran yang justru membuat mereka tertekan, depresi, menjadi nakal dan bodoh, mati kreatifitas. Tak peduli pada potensi anak. Tak peduli pada kemanusiaan mereka yang hakiki, sebagai anak manusia yang ingin tumbuh besar dewasa dan menjadi mandiri dan dapat menyumbang bagi kehidupan. “Dan UN merupakan salah satu masalah terbesar dalam pendidikan nasional kita,” keluh Haidar Bagir.[2]

Masalah klasik kelangkaan sarana prasarana pembelajaran sebenarnya bukan hal pokok untuk menjadi alasan seorang guru untuk bisa aktif, kreatif dan inovatif dalam menyajikan bahan pelajaran kepada anak. Di  Pare  ( Kediri) orang bisa menciptakan desa menjadi menjadi kampung Inggris (kelas). Banyak kita belajar dari para pejuang pendidikan di tanah air yang mampu menyulap rumah menjadi sebuah sekolah favorit, menyulap garasi mobil menjadi sebuah sekolah bermutu, menyulap ruang keranda mayat sebuah masjid kecil menjadi sekolah besar, tentunya ini bukan kerjakan sembarang guru, tapi guru yang mempunyai pikiran besar untuk menghadirkan generasi bermutu.

Alat peraga pembelajaran merupakan media pembelajaran yang sangat efektif untuk memberikan penjelasan pelajaran kepada anak. Dengan peraga langsung anak-anak akan belajar dengan obyek kongkrit  berpikir realistis dan aplikatif terhadap semua ilmu yang dipelajarinya. Ketika pelajaran yang diberikan kepada anak suatu yang abstrak menjadikan anak malas untuk mengikuti materi yang kita sampaikan.  Tugas seorang guru adalah bagaimana menyajikan pelajaran itu menjadi sesuatu yang kongkrit, dapat dipahami anak sesuai tingkat pengetahuannya  dan menyenangkan bagi anak. Maka kreatifitas, inovasi dan kecerdasan guru dalam hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan guru dalam mengajar.

Guru kadang merasa kebingungan atau tidak terbiasa untuk kreatif menggunakan alat peraga pembelajaran, setiap ada kata peraga yang terpikirkan adalah alat-alat untuk membuat peraga seperti gunting, kertas, lem, cat dll. Padahal kalau kita mau kreatif sedikit banyak sekali peraga pembelajaran yang ada disekitar kita tanpa kita repot untuk membuat ;  benda-benda disekitar kelas dan lingkungan rumah , sekolah  dan alam sekitar kita adalah alat  peraga paling efektif untuk memberikan pengalaman langsung terhadap aplikasi sebuah pembelajaran.

Sebagai contoh kita bisa menggunakan batu kali, pecahan bata untuk belajar menghitung, rumput tamanam disekitar kita bisa kita gunakan untuk praktek / peraga IPA (sains), kantin, warung dan pasar bisa kita gunakan untuk pembelajaran IPS , bahkan kita bisa menggunakan barang-barang bekas sebagai peraga untuk pembelajaran seperti kaleng bekas, botol bekas, kotak , kardus untuk menghitung ruang dan luas bangun, yang jelas pembelajaran secara langsung dengan peraga akan memberikan kesan mendalam dan memori yang lebih kuat melekat dalam pikiran anak ketimbang hanya dengan modal buku paket dan gambar. Karena ketika kita menggunakan alat peraga langsung ada beberapa indra kita yang terlibat didalam menginformasikan sebuat data yang kita pelajari.

Tentunya kalau kita mau mengkaji kembali  kita akan sangat kaya alat peraga pembelajaran, tergantung kejelian kita dan kreatifitas berpikir kita untuk mampu mengemas pelajaran menjadi sebuah pembelajaran kontektual. contextual learning atau PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan.[3]

Hari guru yang hari ini tengah dirayakan dengan upacara dan kegiatan yang lain seyogyanya tidak melengahkan kita kepada tugas utama sebagai seorang arsitek peradaban yang dipundaknyalah sebuah nasib peradaban ini berlangsung. Hiruk pikuknya kita disibukkan dengan gonta gantinya kurikulum kita semoga merupakan sebuah proses menuju kurikulum yang terbaik untuk mendidik anak bangsa Indonesia tercinta ini. Jangan lupa guru tidak hanya memberikan transfer ilmu kepada peserta didik sehingga ketika buku yang kita bawa tidak tebal seakan tidak bermutu padahal bisa jadi buku-buku yang kita pakai untuk pedoman memberikan pengetahuan kepada anak berupa sampah-sampah informasi yaitu informasi yang tidak terkait dengan standar kompetensi yang ditargedkan kepada anak, sehingga guru tak ubahnya hanya seperti penyiar berita.

Guru juga bertugas sebagai juru dakwah (transfer of value) sehingga harus dipahami dengan sadar bahwa disetiap Standar Kompetensi  (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ada tugas mulia seorang guru untuk menyentuh ranah kalbu (afektif ) peserta didik untuk memberikan nilai yang harus ditanamkan sebagai menjadi sikap dan perilaku yang terpatri dalam kehidupan anak sehari-hari sehingga menjadi karakter. Inilah tugas yang teramat mulia dari seorang guru sebagai arsitek peradaban dan merekalah para peserta didik sebagai batu bata peradaban itu. ( by : Wi                 )

Penulis adalah Kepala SIT MI Luqman Al Hakim Slawi Tegal



[1] Posted by Faizal Mohamad Twon Tawi 15 July 2008

[2] Teachers Guide/2 Mei 2009.

author
One Response
  1. author

    Habib Junaedi5 years ago

    benar, karena kita adalah ingin menjadi guru bagi alam

    Reply

Leave a reply "Menjadi Guru Cerdas dan Berkarakter"