Aku (Tidak) Bisa!

4 comments 198 views

Oleh Daiman

Tahun pelajaran 2010 / 2011 saya dipercaya mengajar kelas VI , ada yang unik di kelas VI tersebut anak – anak  luar biasa aktifnya . Hari pertama tahun pelajaran itu diadakan upacara pengumuman wali kelas , satu persatu wali kelas diumumkan dari kelas terendah. Sampailah pengumuman untuk wali kelas VI.

Ustadzah Oemah : “saya bacakan, untuk wali kelas VI B  adalah Mister Die…”

biasa ustadzah Oemah kalau memanggilku seperti itu.

Anak – anak kelas VI B bertepuk tangan gembira. Setelah upacara saya tidak langsung ke kantor, kusambangi anak – anak , ku sapa dan ku salami satu – persatu sambil menuju ruang kelas ku ngobrol – ngobrol ringan.

“Gimana mas Azzam  kabarnya ?” tanysaya

Al hamdulillah ustadz, saya sehat…. Jawab  Azzam  agak malu – malu.

Sengaja saya menyapa dia karena sebelumnya saya mendapatkan info kalau dia kesusahan dalam belajar, bahkan kata orang tuanya jika ada tugas matematika dia ngambek dan akhirnya nangis. Prestasinya pun kurang memuaskan.

Neee…t, neeee…t, neeee….t  bel tanda masuk berbunyi, ku ajak anak – anak untuk masuk kelas. Setelah semua masuk dan duduk  saya mulai mengucapkan salam dan memulai pertemuan perdana dengan membaca basmallah.

Anak – anak, ustadz ingin bertanya sesuatu kepada kalian, semua terdiam menunggu apa yang akan saya tanyakan.

Silakan ust…. Kata Fais.

Dengan nada semangat ku tanyakan kepada mereka “Siapa di kelas ini yang pintar ?

Serempak anak – anak menjawab Firdaus

Lalu siapa di kelas ini yang pandai matematika ?  merekapun menjawab Firdaus

Saya bertambah semangat untuk bertanya dengan pertanyaan – pertanyaan yang lain.

Kemudian apa yang kalian lsayakan selama di sekolah saat jam pelajaran ?

Adakah ilmu yang kalian dapatkan sehingga kalian tidak pandai seperti Firdaus ?

Semua terdiam, dalam hatiku berharap mereka berfikir dan ada perubahan yang baik.

“Ku minta kepada kalian tulis sepuluh keinginan kalian di kelas VI ini !” pinta ku.

Semua anak  sibuk menulis apa yang akan ia  inginkan, ada yang menulis pingin seperti Firdaus,  ada yang ingin menjadi lebih baik lagi,  ada yang ingin lulus dengan nilai yang memuaskan.

Sepuluh menit kemudian anak – anak mengumpulkan ke inginannya yang sudah mereka tulis.

Satu – persatu tulisan mereka  saya baca dan ku komentari,  sesekali ku panjatkan doa.

“Ustadz harap kalian sungguh – sungguh dengan apa yang sudah  kalian tulis”. kata ku

“Allah akan merubah kalian jika kalian mau berusaha dan berdo’a, Ingat barang siapa yang sungguh – sungguh akan berhasil,” nasehatku kepada mereka.

Ketidak sungguhan kalian dalam belajar merupakan salah satu bentuk kedurhakaan terhadap orang tua, merekalah yang telah membesarkan kalian, mereka berharap agar kelak kalian menjadi anak yang baik dan bermanfaat, jadi mulailah ditahun ini kalian wujudkan impian dan harapan kalian serta hadiahkan kepada orang tua kalian sebuah kebaikan prestasi.

Semua terdiam,  seakan terhipnotis dan bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata. Sebuah pertemuan awal yang mengesankan.

Neeeeet, neeeeeeeet, neeeeeeeet bel istirahat berbunyi.

“Mari kita akhiri pertemuan ini dengan membaca Hamdallah dan doa kafarotul majelis.”  ajak ku

Jangan lupa sholat dhuha dan berdoa, adukan semua keinginanmu kepada Allah, semoga Allah mengabulkan  permintaan kalian.

Saya kemudian mempersilakan anak – anak untuk keluar kelas, dan saya mengiringi mereka ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuha. Setelah sholat dhuha mereka membeli jajan di kantin sekolah.

“Ustadz…. Kasihan tuh si Azzam, gelepotan sekali kalau ngerjain matematika, perkalian saja masih bingung apalagi pembagian kayak nya ngebleng”  kata fais.

Walau pun saya sebagai seorang guru sudah punya seribu rencana buat Azzam, tapi saya menghormati komentar muridku yang satu ini, saya sungguh kagum,  ternyata ia perhatian terhadap teman yang prestasinya masih berada di bawahnya.

Azzam memang sudah putus asa, seakan – akan sudah maksimal usahanya dan tidak mungkin lagi dapat memahami pelajaran yang satu ini, yaitu matematika. Ketika ku beri kesempatan untuk maju ia selalu mengelak, selalu bilang tidak bisa dan tsayat salah. Bahkan orang tuanya pun suatu hari menemuiku dan menceritakan keterbatasan anaknya dalam mata pelajaran matematika. Orang tuanya bilang jika ada pekerjaan rumah atau tugas – tugas matematika selalu saja menangis yang akhirnya tugas itu diselesaikan oleh kakanya.

Hari sabtu selesai senam, seperti biasanya saya mengadakan pembinaan di kelas dan mengerjakan soal – soal. Sabtu itu saya memberikan lima soal matematika  setelah duapuluh menit soal  tersebut dibahas, ternyata Azzam hanya betul satu.

Ia terdiam dan memerah wajahnya, sepertinya ada rasa kecewa yang sangat dalam. Iapun menulis sebuah kalimat “Saya Tidak Bisa”. Ia remas – remas kertas itu, di genggam begitu eratnya dan dibuangnya di tong sampah yang berada di pojokan kelas.  Kertas itu saya ambil lalu ku simpan, keesokan harinya disaat jam istirahat saya temui dia, seperti biasa  saya mendekati tempat duduk anak – anak yang menjadi target nasihat atau motifasi dan duduk di sampingya.

“Mas azzam…. Ustadz tertarik dengan kalimat yang kamu tulis kemarin, boleh kah ustadz meneruskan  beberapa kata untuk kalimat itu ?” tanysaya.

“Kata – kata apa yang akan ustadz tambahkan dibelakng kalimat itu ?” ia mbalik menayakan

Lalu kutulis beberapa kalimat  di belakang  kata – kata yang di tulis olehnya. Ku ajak ia untuk turut membaca ketika ku tulis kalimat itu, satu persatu kalimat itu ia baca.

  1. Saya tidak Bisa  DIAM UNTUK BERFIKIR
  2. Saya Tidak Bisa  BERHENTI UNTUK BELAJAR
  3. Saya Tidak Bisa DIAM UNTUK BERTANYA SESUATU YANG BELUM BISA
  4. Saya tidak Bisa DIAM UNTUK BERLATIH
  5. Saya Tidak Bisa MEMBIARKAN SAYA MALAS BELAJAR
  6. Saya Tidak Bisa MEMBIARKAN  KEBODOHAN ADA PADA DIRIKU

Cobalah kamu baca dengan penuh semangat, ustadz minta kamu kepalkan tanganmu dan letakkan diatas dadamu lalu ucapkan kalimat – kalimat itu. Iapun menuruti apa yang saya minta.

Mas Azzam…… cobalah kamu baca kalimat itu  setiap hari, tanamkan dalam hatimu bahwa kamu sanggup untuk berubah.

Masa hanya Azzam yang dikasih motivasi ?  ah ustadz tidak adil, ustadz curang…. Ustadz hanya sayang sama Azzam, kata anak – anak secara berjamaah.

Oke…….. sekarang kalian tulis apa yang sedang dipegang Azzam, lalu kita ucapkan bersama – sama dengan penuh semangat, jadikan itu sebagai semboyan kita dalam menuntut ilmu, pintsaya kepada anak – anak,

Siaaaaaaaaaap  ustadz !! jawab anak – anak serempak.

Seketika itupula seluruhnya menulis kalimat – kalimat itu, setelah selesai semua kemudian saya menyuruh ketua kelas membacakan kalimat itu satu – persatu dan diikuti oleh seluruh teman – temannya. Saya merasakan ada sesuatu yang beda pada hari – hari berikutnya, anak – anak lebih semangat dalam belajar lebih tertib dalam mengikuti proses belajar.

Ulangan tengah semester pun tiba, ada sesuatu yang luar biasa, si Azzam mendapatkan nilai enampuluh untuk mata pelajaran matematika, ia belum pernah mendapatkan nilai sebesar itu, karena khusus matematika selalu mendapat nilai di bawah enampuluh. Ku katakana kepada seluruh temannya enampuluh untuk Azzam adalah 100 untuk Firdaus, Fais, Rizal dan lainya yang tidak pernah bosan mendapat nilai baik. Ustadz yakin Allah akan memberikan sesuatu yang lebih untuk Azzam jika Azzam mau berusaha lagi. Dan tidak menutup kemungkinan azzam akan masuk sepuluh besar bahkan tiga besar , karena masuk sepuluh besar atau tiga besar adalah hak setiap warga belajar di kelas ini.

Wah kanyanya ini tantangan serius, kata anak – anak  seperti Firdaus, Rizal, Fais dan Nofal  yang sering menjadi juara kelas.

Saya melihat keseriusan Azzam dalam berlatih mengejar ketertinggalan materi matematika, hampir tiap hari ia  meminta dua sampai tiga soal matematika kepada ku untuk dikerjakan  dan ia rajin bertanya  sesuatu yang dirinya  tidak paham, setelah di kerjakan lalu ia meminta saya untuk mengoreksi hasil pekerjaannya, begitu hari demi hari ia lsayakan tanpa bosan bahkan buku tulis matematikanya sudah ganti lima belas kali dalam dua bulan, bukan karena hilang atau disobek – sobek untuk bikin kapal – kapalan tapi karena penuh dengan  soal – soal yang ia tulis.

Ulangan Semester satu dimulai saya melihat ia semakin mantap dalam menghadapi yang namanya semesteran, bahkan orang tuanya menyampaikan kepadsaya bahwa ia sekarang sudah percaya diri, lebih serius dalam belajar di rumah dan saya sebagai orang tua tidak pusing lagi seperti sebelum ini.

Alhamdulillah ya Allah… Engkaulah yang maha Pandai, Maha Pemberi dan Maha Mendengar, mungkin Allah menjawab apa yang telah ia adukan kepada Nya dalam doa – doa yang ia baca setiap selesai sholat.

Hari Rabu hari ketiga dilaksanakannya  ulangan semester satu, kebetulan pelajarannya matematika dan PKn. Bel tanda mengerjakan soal berbunyi, anak – anak langsung membaca Basmallah dan mulai mengerjakan soal. Usai mengerjakan soal ku tanya anak – anak tentang soal yang barusan dikerjakan.

“Gimana mba soalnya ?” tanysaya kepada anak perempuan.

“Al hamdulillah ustadz, sedikit sekali yang saya tidak bisa”  jawabnya

Ku samperi Azzam yang baru keluar kelas dan kutanyakan tentang soal matematika yang baru saja dikerjakan. “Alhamdulillah saya bisa mengejakan, walaupun kemungkinan nilai saya tujuh puluhan .” ceita Azzam.

Subhanallah kamu sudah bisa memprediksi perkiraan nilaimu, bukan asal bicara tapi ia tau mana yang dapat ia kerjakan, mana yang ragu – ragu dan mana yang tidak bisa sama sekali.

Tak sabar rasanya  ingin segera mengoreksi pekerjaan matematika anak – anak ku, satu – persatu saya koreksi dengan sangat teliti, giliran lembar jawaban milik Azzam ku koreksi, subhanallah kali ini ia mendapat nilai delapan puluh, lonjakan yang sangat luar biasa. Besoknya ku bagikan lembar jawaban yang sudah saya nilai kepada mereka.

Anak – anak,  lembar jawab   yang sudah dinilai akan ustadz bagikan, tolong kalian berikan kepada orang tua dan minta ditandatangani, besok kembalikan lagi karena nilai kalian belum ustadz masukan ke daftar nilai, katsaya kepada mereka.

Azzam terlihat cemas dan gelisah, ia meminta agar hasil ulangan tidak usah ditanda tangani orang tua, rupanya ia tsayat kalau hasilnya tidak memuaskan. Sebelum ku bagi hasil ulangan mereka, saya ceramahi dulu, saya yakinkan bahwa apapun hasilnya haruslah bangga karena kalian mengerajakan dengan penuh kejujuran dan sportif, jika saat ini belum mendapatkan seperti yang kalian harapkan , yakinlah  dengan kejujuran kalian  Allah akan memberikan yang lebih baik dilain waktu Insya allah. Amiiiiiiiiin jawab anak – anak serempak.

Satu – persatu saya panggil nama anak – anak , giliran nama Azzam ku sebut, ia seakan – akan kaget dan enggan menerima lembar jawabnya. Ia maju berjalan menuju tempat dudukku, ia terima lembar jawabnya dan ia berteriak kegirangan . Al Hamdulillaaaaah, Subhanallaaaah… teriak Azzam. Ia langsung sujud syukur melihat nilai yang  diperoleh  diatas perkiraannyan. Tak terasa air matsaya menetes melihat drama singkat luapan kegembiraan buah hasil kerja dan doa yang ia lsayakan setiap hari. Ku harap ada Azzam – azzam lain di kelas ini.

Liburan semester tiba, ku adakan acara mabit khusus kelas VI B, ku susun acara yang penuh dengan keceriaan, kuputarkan film motivasi. Ku ajak mereka ngobrol tentang apa yang sudah mereka dapatkan selama satu semester di kelas VI dan ku tanyakan pula apa yang tidak mereka sukai dari gaya mengajar sampai penampilan ku.

Dua minggu sudah berlalu, masa liburan semester satu pun berakhir, hari Senin sudah mulai babak baru memasuki semester dua yang waktunya sangat pendek, anak – anak akan di hadapkan dengan  Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, namun mereka tidak menjadikan ujian – ujian itu seperti makhluk yang mensayatkan, yang ada di benak mereka bahwa ujian adalah sebuah ulangan biasa yang berubah nama saja.

Hari – demi hari kegiatan belajar – mengajar berjalan dengan penuh semangat, ku seting kelasku dengan tempat duduk melingkar dan kubiarkan di tengah – tengah kosong seperti lapangan futsal, ku bawakan bola – bola tenis untuk mereka sebab saya tahu mereka sangat menyukai permainan bola, kelaspun terkadang berubah menjadi lapangan futsal bahkan kursi dan meja banyak yang difungsikan sebagai tempat meletakkan tas dan botol minum saja, mereka lebih suka memilih belajar di lantai.

Suatu ketika setelah makan siang, sambil menghabiskan sisa waktu istirahat,  ku sempatkan untuk melsayakan pendekatan kepada beberapa siswa yang menjadi target tausiahku. Ku dekati beberapa anak yang sedang duduk menggerombol di pojokan kelas.

“Assalamu alaikum….. anak ustadz, Asyik banget nih, bagi – bagi dong ?”  sapsaya kepada mereka

“Wa alaikum salam ….. eh ustadz, mau …..tadz ?” jawab salah satu dari mereka.

Ku ambil beberapa butir pilus yang sedang ia genggam,dan  ku ucapkan terima kasih kepada mereka. Lalu kulanjutkan dengan obolan – obrolan  ringan. Mereka  mengomentari obrolan – obrolanku sehingga suasana semakin akrab dan bertambah seru. Neeeeeeeet, neeeeeeet, neeeeeet waktu istirahat habis. Mereka agak kecewa sebab sedang seru – serunya ngobrol.

“Ust……. nanti dilanjut ya…..?” pinta beberapa anak.

“Oke….”  jawabku singkat

Semua anak – anak masuk dengan tertib, setelah  suasana sudah tertib ku ucapkan salam dan mengajak mereka untuk membaca Basmallah sebagai permulaan kegiatan .

Ku ingatkan mereka bahwa ujian sudah dekat,  kurang dua bulan lagi.  Saya meminta mereka  untuk menuliskan besaran nilai setiap mata pelajaran yang ingin dicapai setiap anak pada ujian nanti, dan ditempelkan di dinding kelas .

“Ustadz harap kalian tulis nilai yang ingin kau raih, dan tulis pula usaha apa yang akan kalian lsayakan untuk menggapainya.” pintsaya kepada mereka.

Setelah semua menulis apa yang saya minta, maka mulailah satu – persatu mereka menempelkan di dinding kelas.

Subhanallah …. Betapa terharunya saya, melihat tulisan Azzam, ia menuliskan sebuah kalimat khusus untuk mata pelajaran matematika. “ Takkan ku biarkan kekuranganku menghalangi semangatku untuk meraih nilai 100 “. Sebuah kalimat yang membangkitkan gelora belajarnya dan mencambuk teman – temannya untuk tidak kalah dalam menggapai sebuah keinginan.

Al hamdulillah…. Azzam yang dulu kurang menguasai matematika, selalu menangis ketika diajari matematika oleh orang tuanya yang juga guru matematika di sebuah sekolah SMP dan mudah menyerah, kini bangkit melawan segala sesuatu yang menghalanginya untuk berprestasi.

Trimakasih ya Allah Kau memberikanku sesuatu yang lebih .

Dua bulan sudah berlalu kutulis disudut atas papan tulis UN kurang 10 hari, setiap hari berkurang angkanya sampai akhirnya hari Ujian nasional tiba, kuucapkan selamat berjuang kepada seluruh anak VI.

“anak – anak , cukup sudah ustadz memberi bekal kalian , sekarang saatnya kalian buktikan kepada sekolah ini, kepada orang tuamu, dan kepada warga kabupaten tegal bahwa kamulah yang terbaik, siaaaaap ! tausiahku penuh semangat.

Anak – anak menyambut dengan semangat “siaaaaaaaaaap!”

UjianNasional  telah usai ,  tinggal menunggu hasil pengumuman nilai UN, tepat tanggal 26 Juni hasil Ujian Nasional diumumkan bapak kepala sekolah memanggilku untuk melihat nilai UN .

Subhanallah  sungguh sangat terkejut saya,  ternyata banyak sekali anak kelas VI B yang mendapat nilai sempurna . anak – anak yang dulunya terkalahkan prestasinya oleh anak – anak perempuan pada akhirnya mereka membuktikan bahwa merekapun bisa.

Tak henti – hentinya ku memuji Allah yang telah memberikan sebuah anugerah yang luar biasa, bahkan ketika ku lihat nilai yang diraih Azzam , Subhanallah ia mendapat  nilai matematika pada  Ujian Nasional  9,50.

Setelah nilai diumumkan kepada anak – anak , Azzam langsung mendekatiku mengucapkan terimakasih , ku katakan kepadanya perjuanganmu belum berakhir negri ini menantimu, menanti anak – anak yang semangat sepertimu  . “Siap ustadz!”, sambut Azzam.

 

(Daiman, Guru SIT MI Luqman Al Hakim Slawi)

 

author
4 Responses
  1. author

    Ghina Hananti4 years ago

    (y)

    Reply
  2. author

    M.Khairul Rizal4 years ago

    bikin terus ceritanya ustadz!!!!

    Reply
  3. author
    Author

    admin4 years ago

    M. Khairul Rizal kirim cerita juga, dong.

    Reply
  4. author

    galang awal4 years ago

    to admin: cerita ust, mana??????? 😛

    Reply

Leave a reply "Aku (Tidak) Bisa!"