This is My Passion. What is yours?

1 comment 186 views

                                                                                Oleh Ali Irfan

Passion itu sebuah suasana ketika kita merasa nyaman mengerjakannya. Ada gairah yang menyertai ketika kita melakukannya. JIka belum tahu benar apa passion anda, cari segera. Jangan tunda. Sekarang juga. Lebih cepat menemukan passion sangat baik. Mumpung masih punya banyak energi, waktu, dan juga tenaga. Segera temukan passion anda.

Saya sendiri menemukan passion ketika kuliah. Tepatnya ketika bergabung di majalah kampus. Sebelumnya saya sama sekali nggak tahu apa tujuan hidup saya di dunia? Orientasi akhirat sudah jelas, mencitakan syurga. Tapi jalan untuk menuju ke sana kan mesti di tempuh di dunia. Nah, inilah yang sedang saya coba formulasikan biar apa yang saya  kerjakan mendulang keberkahan dunia, sekaligus akhirat.

SMA saya masih lurus-lurus saja. SMP masih terlalu polos. SD lebih polos lagi. Awal masuk kuliah pun, begitu-begitu saja. Saking begitu-begitunya, sampai-sampai mudah terbawa arus, gampang diprovokasi. Entah kenapa mau saja digiring ke sebuah ruangan, eh, nggak tahunya ternyata diajak demo. Sudah begitu, mau-maunya lagi bayar iuran buat beli kertas, spidol, dan operasional selama demo. Parahnya lagi yang didemo rektor sendiri. Mahasiswa baru demo rektor tahu apa? Waktu itu saya merasa nggak nyaman. Bahkan sudah berani memutuskan nggak akan lagi pernah ikut demo-demo begituan. saya merasa itu bukan passion saya. Jadi saya putuskan stop!

Barulah passion itu saya  temukan ketika ketemu anak-anak majalah kampus. Kayaknya enak ya, saya merasa nyaman. Liputan, wawancara, menulis berita, terbitkan majalah. Ada banyak proses menantang. Dan saya tahu untuk mencapai itu tidak terjadi begitu saja. Saya putuskan benar-benar bergabung,dan diawal pendaftaran saya merasakan passion itu mulai menguat. Inilah passion saya!

Ternyata benar! Saya merasa nyaman dengan dunia literasi. Saya jadi mulai cinta buku. Menyisihkan uang saku setiap bulan untuk beli buku. Bahkan saya sempat populer gara-gara nulis. Karena tulisan saya merambah ke koran juga. Berkat menyeriusi di bidang yang cintai, saya pun diterima kerja jadi wartawan. Kerja sambil kuliah!

Selesai kuliah pun masih terus lanjut jadi wartawan. Ketika memutuskan keluar dari tempat kerja yang pertama, eh, ada tawaran lagi mengelola tabloid. Ya saya  terima. Ujung-ujungnya jadi wartawan lagi. Lama-lama saya mikir, eman-eman juga ijazah  yang saya miliki. Sayang, nggak terpakai.

Akhirnya saya resign mengelola media,kemudian beralih profesi di jalur yang benar. Sebagai guru! Alasannya sederhana, biar dapat dua-duanya. Kalau saya jadi wartawan, saya nggak bisa manfaatin ijazah yang saya punya, nggak bisa jadi guru yang ngajar di sekolah. Tapi kalau jadi guru saya masih bisa jadi wartawan. Masih bisa nulis.

Itu terbukti, selama menjadi guru saya sering diminta buat berita kegiatan sekolah lalu dikirimkan ke koran. Begitu ada event sekolah, saya selalu diminta menulis rilis. Cukup lihat, amati, ngobrol sedikit, jadilah berita. Alhamdulilah, sejak jadi guru juga sudah ada beberapa tulisan yang sudah jadi buku. Mulai dari kumpulan cerpen, sampai buku best practice yang mengisahkan pengalaman saya mengajar di sekolah.

Alhamdulilah, saya juga dipercaya mengelola mading sekolah. Dan itu berlanjut, berkat passion yang saya miliki, pengelolaan mading itu berubah jadi ekskul jurnalistik. Masih pada saat yang bersamaan, Alhamdulilah ada sebuah perusahaan yang memanfaatkan jasa saya untuk mengelola majalah internal, Insya Allah terbit pertengahan September ini. Semua itu berkat passion. Saya menikmati pekerjaan ini.

Satu lagi passion yang saya miliki adalah saya merasa nyaman berbagi ilmu dan pengalaman. Makanya saya selalu menerima tawaran untuk mengisi berbagai pelatihan kepenulisan, atau training jurnalistik, selama waktunya tidak bertabrakan dengan jadwal lain. Tidak hanya dalam kota, tapi luar kota pun sering saya lakukan. Inilah passion saya berikutnya, menjadi trainer, pembicara, motivator kepenulisan.

Saat ini saya sedang menjadi mentor sebuah sekolah tingkat SMP yang sedang ikut kompetisi mading mlebu koran. Targetnya, Insya Allah memenangkan kompetisi ini. Saya optimistis tentang target ini. Apalagi didukung semangat tim mading sekolah.

Dengan demikian sudah ada tiga passion yang saat ini saya merasa nyaman di dalamnya. Passion saya adalah menjadi teacher, writer, and trainer.  Saya punya visi punya lembaga pendidikan, mulai dari penitipan anak, play group, TK, sampai SD. Awal focus itu dulu. Tidak hanya itu, saya juga mulai merintis untuk mengembangkan Ali Irfan Media Consultant, yang bergerak di bidang penerbitan majalah internal. Dan untuk memantapkan visi itu, saya harus memantaskan diri, saya harus ikut training-training berkelas. Target tahun ini bisa  ikut training bersama Jamil Azzaini dan training bersama Ippho Santosa.

That’s my passion. What’s your passion?

author
One Response
  1. author

    bagus 6c5 years ago

    terbang meraih mimpi

    Reply

Leave a reply "This is My Passion. What is yours?"