Misteri Ustadzahku

10 comments 309 views

                                                                                      Foto: Araf Hakim

Oleh : Nabilah Kharisma Aulia

Seperti biasanya,  pagi ini aku berangkat ke sekolah. Hari ini aku bangun agak terlambat begitu juga adikku Kayla. Jam dinding menunjukan pukul 06.40, berarti aku punya waktu 20 menit lagi supaya sampai sekolah tidak terlambat. Kalau lebih dari pukul 07.00, wiihhh, pasti tamatlah riwayatku. Sederet hukuman terbayang dibenakku mulai dari menyapu kelas, menjadi pesuruh teman-temanku, mengambil snak Ustadzah dan lain-lain. Ditambah omelan Ustadzahku yang bikin jantung mau copot,  pakai logat batak lagi, uhhhh… serem…, bikin lutut siapapun jadi lemes.  Inilah yang membuat aku harus terburu-buru sembari membentak-bentak adikku supaya cepat berkemas.

Waktu menunjukan pukul 06.45, ada waktu 15 menit untuk sampai sekolah. Aku berharap dan berdo’a tidak terlambat sampai sekolah. Aku dan Kayla sudah duduk dimobil dan abiku mulai menyalakan mobil. Mobil pelan-pelan melaju, sesekali aku mengingatkan abiku untuk mempercepat laju mobil.  Perasaan was-was takut terlambat semakin bertambah melihat lalu lintas pagi itu cukup padat. Ditengah-tengah padatnya lalu lintas depan pertokoan, tiba-tiba terdengar suara “tit…tot…tit…tot…tit..tot…” suara sirine tanda kereta mau lewat dan palang pintu segera ditutup.  “Masya Allahhhh…., ada-ada saja” gerutuku.  Mobil berhenti tepat dideretan terdepan.  Sesaat kemudian sebelah kiri dan kanan mobil sudah berjejal sepeda ontel, motor, dan becak.  Rasa cemasku semakin bertambah.

Sambil menunggu kereta lewat, mataku menatap kosong ke depan. Tiba-tiba muncul bayangan sosok Ustazdah di depan mataku.  Tanpa sadar aku mengajak berbicara dengan  bayangan itu.   “Us, kenapa ustazdah harus buat aturan yang bikin repot orang?”.  Bayangan Ustadzah tetap membisu menatap tajam ke arahku. Aku beranikan diri untuk tetap mengajaknya bicara, ”Padahal Us,  kata pak Ustadz yang ceramah di mushola dekat rumahku, orang yang baik adalah orang yang mempermudah urusan orang lain, orang yang baik adalah orang yang gampang memaafkan kesalahan orang lain.  Tapi…., kenapa Ustadzah membuat aturan-aturan yang merepotkan dan menyusahkan orang lain.  Jangankan  memaafkan yang datang terlambat misalnya, yang ada cuma hukuman ini, hukuman itu, tugas ini, tugas itu.  Sarapan rutin  setiap pagi, bukanya bubur ayam apa bubur kacang hijau, eehhh sarapannya soal matematika.  Uhh… pokoknya sebel dech.  Kenapa harus seperti itu sih, Us?. Kenapaaa….? Jawab, Us……jawabbbb…..!!”.

Suara gemuruh kereta yang mulai lewat  menyadarkan aku dari lamunanku.   Bayangan sosok Ustadzahku sudah lenyap dan kembali rasa gelisah, was-was, marah menyelimutiku.  Palang pintu pun sudah dibuka dan langsung mobilku tancap gas menuju ke sekolahku.  Singkat cerita sampailah aku di halaman depan sekolahku.  Suasana sudah agak sepi, aku pikir pasti aku terlambat.  Segera aku dan adikku terburu-buru turun dan langsung berlari menuju ke dalam sekolahan.  Adiku langsung menuju ke kelasnya dan aku segera berlari menaiki tangga demi tangga menuju kelasku yang berada di lantai atas.  Tasku yang penuh buku dan berat ini membuat nafasku semakin tersengal-sengal.

Sampai di kelas pelajaran belum dimulai.  Alhamdulillah aku berhasil masuk didetik-detik akhir pelajaran dimulai. “Perjuangan yang luar biasa. Yess…yess…yess…aku berhasil…aku berhasil” bisiku dalam hati seperti Dora sambil aku sandarkan punggungku yang pegal ke belakang kursi.

Pelajaranpun segera dimulai.  Ketika aku sedang mengeluarkan buku tulis dan pulpen dari dalam tasku, terdengar suara pintu dibuka.  Masya Allah, temanku si Edi dengan nafas yang tersengal-sengal tampak muncul dari balik pintu.   Sesaat kemudian suara teriakan ustadzahku bergema “Ediii….Ustadzah sudah bilang, bilang dan biiii ….lang, jangan sampai terlambat..mbat…mbat…mbat.   Kalau kamu mau jadi dokter, kamu harus disiplin. Sekarang Ustadzah tidak akan bertanya keee…naaa…paaa ka…mu ter…lam…baaaat?.  Yang harus kamu kerjakan adalah menerima hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku di kelas ini, pahammmm?”.  Aku lihat muka si Edi yang katanya ingin menjadi dokter tampak pucat dan kakinya gemetar.  Dengan terbata-bata diapun menjawab “Pa..pa..paham Uss…”.  “Hukuman pertama, ayo cepat kamu ambil snack ustadzah di kantor, cepatttt….!!” teriak Ustadzah.   Edi terperanjat kaget dan segera berbalik keluar, berlari untuk mengambil snack jatah Ustadzah.

Selama pelajaran berlangsung, aku tidak bisa konsentrasi.  Banyak pertanyaan yang berkecamuk dibenakku.  Ya, pertanyaan tentang kenapa ustadzah seperti ini? Mengapa ustadzah seperti itu?  Ya, aku mencoba untuk mencari jawaban dari pertanyan-pertanyaan dalam hatiku ini.  Aku yakin pasti suatu saat aku akan tahu jawaban dari misteri Ustadzah.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan.  Ujian tengah semester pun segera dimulai.  Aku dan teman-temanku mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi ujian yang cukup penting ini.  Singkat cerita aku dan teman-temanku selesai mengikuti ujian tengah semester dan saatnya menunggu hasil ujian.

Saat yang cukup mendebarkanpun tiba.  Hasil ujian tengah semester segera diumumkan.  Aku merasa tidak yakin kalau nilai hasil ujianku bagus.  Satu per satu teman-temanku dipangil.  Akhirnya tibalah giliranku.  Sebendel nilai hasil ujianku sudah berada di tanganku dan pelan-pelan aku buka satu per satu lembar lembar demi lembar.  Matematika 90, IPA 96, Bahasa Indonesia 98 dan seterusnya.  Alhamdulillah nilai ujianku tidak begitu mengecewakan.  Begitu juga nilai ujian teman-temanku semuanya mendapatkan nilai yang bagus.

Setelah masing-masing mendapatkan hasil ujian.  Teman-temanku kembali duduk tenang dibangku masing-masing untuk mendapatkan penjelasan dari ustadzah.   “Anak-anak  hari ini kalian masing-masing sudah tahu nilai hasil ujian kalian.  Itulah hasil kerja keras kalian selama ini. Ustadzah berpesan teruslah giat belajar, karena kedepan pelajaran akan semakin berat.  Kalian harus lebih tekun lagi belajar”.  Ruang kelas tampak hening.  Sambil berjalan pelan mendekati kami Ustadzah melanjutkan “Ustadzah merasa senang dengan nilai ujian yang kalian dapatkan. Ustadzah merasa kalau kalian telah mengantarkan Ustadzah dekat dipinggir surga.  Bagi Ustadzah mengantarkan kalian semua menjadi anak-anak yang pandai adalah bagian dari keinginan Ustadzah meraih surganya Allah”.

Aku terhenyak mendengar penjelasan Ustadzah.  Kata-kata Ustadzah sepertinya merupakan jawaban dari misteri yang selama ini belum terjawab.  Hmm,  aku mulai paham dan sudah mendapatkan jawaban kenapa ustadzah selama ini menerapkan aturan-aturan yang bagi kami merepotkan dan menjengkelkan.  Hmmm….ternyata Ustadzah menghendaki kami semua menjadi anak-anak yang pandai.

Kami semua terdiam, tertegun dan menyesal selama ini penilaian kami salah.  Ya,  kata-kata itu telah menjawab semua misteri tentang Ustadzahku.  Aku masih ingat sekali kata-katanya, “Ustadzah merasa kalian semua sudah membawa Ustadzah  dekat di pinggir surga.   Mengantarkan kalian menjadi anak yang pandai adalah bagian dari keinginan Ustadzah meraih surganya Allah”.

Ternyata sungguh mulia cita-cita Ustadzahku.  Aku selama ini telah salah sangka.  Maafkan aku, Us.

*****

Nama              : Nabilah Kharisma Aulia
Kelas              : VI
Sekolah         : MI Lukman Al Haqim Slawi Tegal Jawa Tengah
author
10 Responses
  1. author

    Nafis_6c4 years ago

    Ceritanya keren…

    Reply
  2. author

    Nafis Awwalia Mahardika4 years ago

    critanya,KEREN…

    Reply
  3. author

    fathiyah (hanan) rahadatul aisy4 years ago

    keren banget

    Reply
  4. author
    Author

    admin4 years ago

    Itu cerita dari Kharisma, mana cerita kalian? Kirim ke arafhakim@yahoo.com

    Reply
  5. author

    oema4 years ago

    I love u all…so much

    Reply
  6. author

    kharisma4 years ago

    makasih nafis yg cantik banget..hehehe

    Reply
  7. author

    galang awal4 years ago

    cayani wis like aq sm critanya

    Reply
  8. author

    rizal IV A4 years ago

    CERITA NYA AGAK LUCU

    Reply
  9. author

    tari4 years ago

    terusberkarya ya sayangku Kharisma…………

    Reply
  10. author

    Nafis3 years ago

    Cerita bagussssss…..Banget…..Bikin lagi dong…hehehe……

    Reply

Leave a reply "Misteri Ustadzahku"