Shalatlah Berjamaah, Lihatlah Perubahan yang Terjadi

Oleh Ali Irfan

Seketika perhatian jamaah shalat jumat, langsung tertuju pada kata-kata sang khatib. Kata demi kata yang keluar semakin menambah rasa penasaran ujaran berikutnya. Ketika biasanya saat shalat jumat banyak yang ‘tertidur’, bisa saya pastikan saat itu tak ada yang memejamkan mata. Kesempatan khutbah itu disampaikan Ustad Teguh Rusyanto dengan penuh semangat, jelas, dan tajam. Bagi yang merasa jadi ‘sasaran’ pasti serasa ditampar berkali-kali. Benar-benar nancep jleb!

Jika ingatan saya tak berkhianat, sang ustadz menyampaikan petikan Al Qur’an surat yasin ayat 60. “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu  tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu yang nyata bagi kamu.” 

Sudah menjadi budaya, surat ini paling sering dibaca oleh sebagian masyarakat kita, terutama malam jumat. Mulai baca sendirian sampai dibaca berjamaah. Sayangnya sebagian besar hanya sekedar membaca, tanpa mengkaji tafsirnya, tanpa tahu maknanya. Memang tetap ada pahala membaca Al Qur’an, meski tidak tahu artinya. Istilahnya adalah termasuk ibadah mustakilah. Ibadah yang tetap mendapatkan pahala meski tak tahu artinya. Tapi bukanlah lebih baik, kita baca, kita kaji, lalu paham maknanya, lantas kita amalkan?

Konteks menyembah di sini meski tidak berupa ritual penyembahan terhadap setan, ini juga berlaku agar kita tidak mengikuti setiap yang dibisikki. Bisikan-bisikan yang indah namun sebenarnya melenakan, rayuan-rayuan menggoda namun menyesatkan, lupa waktu, mengabaikan yang wajib, menunda yang wajib, adalah pola-pola kerja setan yang sudah selayaknya ditinggalkan.

Dari surat itu Allah sudah sangat jelas mengingatkan agar jangan pernah ikuti setan, jangan sekali-kali meneladani setan.

Lantas kemanakah kita ketika adzan subuh berkumandang? Kenapa jamaah subuh jumlahnya jauh lebih sedikit, hanya bisa dalam hitungan jari? Sebutan apalagi yang bisa diungkapkan selain tidak mengikuti setan?

Ketika adzan berkumandang, setan membisikki orang-orang yang sedang tertidur agar terus terlelap, lelap, dan lelap dalam mimpi melenakan. Setan tak akan pernah berhenti membisikkan kalimat-kalimat ‘indah’ agar keturunan Adam tidak melaksananakan perintah Allah. Anda perlu waspada, ketika subuh tiba, lantas ada isyarat, intuisi, perasaan, bahkan pikiran yang meninabobokan kita terus berlindung dibalik selimut. Tahukah anda, setan tertawa penuh kemenangan ketika anda bangun pagi saat matahari terbit, dan hari sudah benar-benar cerah.

Apalagi kalau kita sudah haji, yang telah melempar jumrah sebagai isyarat permusuhan terhadap setan, simbol perlawanan terhadap setan. Sebutan apakah yang pantas disematkan ketika pulang dari haji, ada suara adzan subuh, malah berlindung dibalik selimut, melanjutkan tidur, mengiyakan bisikan setan, “Teruslah  tidur, masih malam!” Setan bukannya dilawan dengan mengerjakan amal-amal terbaik sebagaimana diperintahkan Allah, tapi ini malah berkawan dengan setan. Naudzubillah!

Ya, hanya orang-orang bodoh yang shalatnya di rumah, bukan di masjid, terutama shalat subuh. Dua puluh tujuh tentu jauh lebih banyak, sementara shalat sendirian hanya satu. Bahkan ada yang merasa seperti belum shalat kalau hanya sendirian. Biasa dapat dua puluh tujuh, ini malah dapat satu. Apa nggak rugi? Seorang pebisnis pun tentu akan lebih memilih yang dua puluh tujuh daripada yang satu. Seberapapun kualitas bacaan kita, ketika shalat sendirian tetap akan dinilai satu. Sungguh perbandingan  yang jauh, bahkan amat jauh.

Anak kecil pun saat disuruh memilih, akan memilih yang  banyak daripada yang sedikit. Dengan demikian, jangan dulu ngaku ganteng jika shalat saja masih sendirian di rumah. Dan jangan dulu ngaku-ngaku cerdas, kalau ada seruan shalat jamaah di masjid saja masih ogah-ogahan.

Ingin tahu efek shalat jamaah? Silahkan praktekkan dulu, lalu lihatlah perubahan apa yang terjadi? [ali]

author
No Response

Leave a reply "Shalatlah Berjamaah, Lihatlah Perubahan yang Terjadi"