Menjinakkan Harimau

1 comment 125 views

Oleh Dwi Apriliani

 “Ustadzah! Afkar ngamuk. Mau mukul Nanda pakai sapu.” Aku yang baru saja menyuapkan satu sendok nasi makan siangku mendadak berhenti mengunyah. Reflek aku bangun dari tempat duduk dan bergegas mengikuti anak yang baru saja melapor. Afkar dengan sapu ditanganya sedang mengejar Nanda yang menangis ketakutan. Secepat kilat aku langsung memeluk Afkar dari belakang. Afkar meronta-ronta berusaha melepaskan pelukanku sambil mengeluarkan kata kata kasar.

”Istighfar mas..istighfar..ayo duduk dulu sama ustadzah.” Aku berusaha menenangkan Afkar dan membujuknya untuk duduk. Bukannya tenang malah menangis sambil berteriak-teriak dan semakin berontak. Untung saja badanku agak besar sehingga bisa lebih erat memeluk Afkar yang terus meronta. Sementara Nanda ngumpet di belakang pintu masih dengan muka yang ketakutan dikelilingi teman-teman yang lain.

”Tolong…tolong..tolong teman-teman, harimau ustadzah mau lepas. Siapa yang mau menolong ustadzah, harimaunya kuat banget, tapi sebenarnya harimaunya baik lho, sudah jinak kok…” Reflek aku pura-pura berteriak minta  bantuan. Spontan anak-anak yang lain tertawa. Seketika Afkar berhenti menangis dan malah akan tertawa, sedangkan Nanda tersenyum, seperti hilang rasa takutnya.

“Alhamdulillah..harimaunya sudah tenang. Nah sekarang harimau sudah tidak perlu sapu lagi untuk menangkap kancil, harimaunya minum dulu sambil duduk disini”

Aku menuntun Afkar untuk duduk dan memberinya minum. Suasana menjadi tidak tegang lagi. Setelah tenang aku bertanya kronologis mengapa Afkar mau memukul Nanda pake sapu

“Nanda menendang kaki aku Ustadzah…”

“Enggak Ustadzah, aku nggak sengaja” Nanda membela diri

“Enggak Ustadzah, aku lihat Afkar kesenggol kakinya Nanda yang lagi duduk, terus Afkar  jatuh,” Najwa memberi penjelasan.

“Allah meyayangi anak-anak yang jujur. Anak yang tidak jujur tidak akan dipercaya sama orang lain. Tapi ustadzah percaya kok, kalian bisa berkata jujur” Aku berusaha menyakinkan mereka agar berkata yang sebenarnya.

”Aku jujur Ustadzah. Bener Ustadzah” Najwa meyakinkan dengan muka serius. Afkar menunduk, tidak berani menatapku. Sedang Nanda menatap Afkar sambil merengut kesal.

”Nanda, benar kamu menendang Afkar?”

“Enggak Ustadzah bener. Aku lagi duduk, terus Afkar lewat kesenggol kakiku, terus Afkar jatuh,” jawabnya.  “Afkar, betul yang dikatakan Nanda dan Najwa tadi? Afkar diam.

”Afkar, kamu dengar pertanyaan Ustadzah? Sekali lagi aku menegaskan

“Tapi kakiku sakit banget ustadzah.” Afkar menjawab lirih sambil tetap menunduk. Sebuah jawaban pembelaan yang cukup meyakinkan kalo Afkar sudah berbohong.

 ”Afkar, Nanda, kalian istighfar karena sudah bertengkar. Nanda, maukah kamu memaafkan Afkar?” Nanda mengangguk pelan.

“Afkar maukah kamu minta maaf sama Nanda?” Afkar menyodorkan tangannya kepada Nanda. Mereka bersalaman.

”Kalo ada teman yang tidak sengaja menyakiti kalian, boleh tidak kalian membalasnya?”

“Nggak boleh Ustadzah, kan nggak sengaja..”Kali ini fawaz yang menjawab.

***

Foto: Araf Hakim

author
One Response
  1. author

    galang awal4 years ago

    wah ceritanya menarik

    Reply

Leave a reply "Menjinakkan Harimau"