Siti dan Setan Penggoda

4 comments 158 views
Wush-wush wush….
Angin berhembus kencang di pagi hari sebelum fajar. Angin itu menerobos celah-celah sebuah rumah yang ditinggali seorang ibu dan seorang anaknya, yang bernama Siti. Siti masih terlelap dalam tidurnya. Dingin angin pagi membuatnya semakin lelap. Apalagi selimut masih membaluti tubuhnya yang kurus dan mungil. Padahal seharusnya dia sudah bangun untuk makan sahur, tapi karena udaranya masih dingin, Siti pun enggan beranjak dari tempat tidurnya.
Rumah itu tidaklah mewah. Siti dan ibunya hanya menempati rumah yang dindingnya banyak yang bolong. Sehingga sangat  memungkinkan sekali, angin melewati celah-celah rumahnya. Wush-wush…! Angin kencang mampu menerbangkan selimut Siti. “Duh, anginnya kenceng sekali sih, sampai selimutku terbang,” ungkap Siti. Dengan mata masih setengah terbuka, Siti mengambil kembali selimut tipisnya itu. Kemudian ia pakaikan kembali untuk menutupi tubuhnya kembali tidur. Angin tampak sedang asyik mengerjai Siti. Ia singkapkan kembali selimut itu. Mungkin itulah cara angin membangunkan Siti untuk tidur makan sahur.
“Tok-tok-tok!” terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Siti.
“Duh, siapa sih yang ketuk-ketuk pintu. Aku kan masih ngantuk. Males ah, enak tidur lagi.”
“Siti, ayo bangun nak, kita makan sahur,” ternyata itu suara ibu.
Pada saat itulah muncul sosok bayangan dengan rupa jelek menghampiri Siti. “Hoahahaha…..,” ternyata itu adalah suara Setan Penggoda.
“Hai anak kecil, tidurlah kembail. Tidurlah kembli karena tidur itu menyenangkan,” rayu Setan Penggoda.Tanpa takut sedikit pun Siti malah bertanya. “Eh, eh, kamu siapa?”
“Aku temanmu,” kata Setan Penggoda.
“Tok jelek?”
“Kamu menghinaku ya anak kecil?”
“Memang kamu jelek.”
“Ngaku teman kok nggak tahu namaku. Aku juga ga tahu nama kamu.”
“Baiklah, kita kenalan. Namaku Setan Penggoda. Kalau kamu siapa namanya, wahai anak kecil?”
“Namaku…,” Siti menghentikan menyebut namanya. “Tapi jangan diketawain ya, kalau dengar namaku.”“Memang siapa namamu anak manis?” Setan Penggoda tampaknya penasaran?
“Nama pendek apa nama panjang?”
“Dua-duanya boleh.”
“Om Setan ingin tahu atau ingin tahu banget sih namaku?”
“Ingin tahu banget dong, kan kita mau temenan?”
“Tapi jangan diketawain ya, Om Setan harus janji.”
“Baik-baik. Om setan janji, nggak akan ketawa.”
“Namaku…. Namaku…. Ahh…. Benar ya, Om Setan jangan ketawain aku…” Siti agak ragu, meungkin malu karena namanya tak sebagus nama anak-anak lain untuk ukuran zaman sekarang.
“Sebutkan saja namanya, wahai anak manis,” Om Setan masih sabar menunggu anak kecil itu menyebutkan namanya.
“Baiklah, namaku Siti. Siti Tukijo Tukiyem!”
“Hahahaha.. hahaha…. Hahaha…” Om Setan tak kuat menahan tawa begitu mendengar nama anak kecil itu. Tapi buru-buru ia minta maaf. “Eh, maaf, aku keceplosan namanya.”
“Tuh, kan sudah aku bilang jangan ketawa. Memang mau ngapain kamu ke sini,” Tanya Siti.“Aku mau  mengajakmu pergi ke suatu tempat bersamaku.”
“Kemana?”
“Ke neraka!!”
“Hahh?!!!” Siti terperanjat. Ia baru sadar kalau yang ia ajak bicara adalah setan yang selalu akan menggoda manusia agar terus bermalas-malasan, dan tidak mau berbuat kebaikan. Kali ini Siti sedang digoda oleh om Setan agar tidak usah beranjak dari tempat tidur untuk makan sahur, dan lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya. Percakapan antara Siti dan Setan Penggoda itu tidak terdengar oleh ibunya yang sedang  mengetok pintu membangunkan sahur.
“Siti, ayo bangun sayang. Kita makan sahur.”
“Eh, ibu. Sebaiknya aku pilih ikut Om Setan atau ibu ya? Jika aku pilih om Setan maka akan akan diajak ke neraka. Ih, serem. Tapi jika aku ikut ibu, nurut sama ibu, pasti aku akan dapatkan syurga,” Tanya Siti dalam hati.Akhirnya Siti memutuskan pilihan yang tepat. Ia lebih memilih ibu. Meski matanya masih berat. Tapi ia lebih memilih Syurga yang dijanjikan oleh Allah jika kita patuh sama ibu. Dengan mengucap taawudz dan bismillah, Siti  mengucapkan doa bangun tidur.
“Jangan-jangan kau ucapkan kata-kata itu,” pintu Om Setan dengan wajah pucat.
“Alhamdulilahilladzi ahyana, ba’dama amatana wailaihinusur. Amiin…”
Om Setan lari terbirit-birit namun usahanya sia-sia, karena hanya dalam beberapa detik setelah Siti mengucapkan doa, tubuh Setan Penggoda itu terbakar.
*** 
Dongeng ini disampaikan Kak Tedi saat acara sanlat MI Luqman Al Hakim. Dituliskan kembali oleh Ali Irfan
author
4 Responses
  1. author

    Saya Soiman4 years ago

    Kecerdasan siti memilih Ibu daripada Om Setan karena Siti rajin makan sayur dan buah yang mampu membuang sisa makanan dalam perut yang merupakan sarang setan jika tidak terbuang

    Reply
  2. author
    Author

    admin4 years ago

    Ayo, siapa tidak doyan sayur?

    Reply
  3. author

    galang awal4 years ago

    lomba duduk rapi, egh aegg egh agh egh

    Reply
  4. author

    Ghina Hananti4 years ago

    @Galang : Hahaha 😀

    Reply

Leave a reply "Siti dan Setan Penggoda"