Menjadi Guru sebagai Pilihan Hidup, Bukan Sekedar untuk Hidup

Oleh Ali Irfan

Bagi saya, menjadi guru adalah pilihan hidup, bukan sekedar untuk hidup. Sekali lagi saya tegaskan, inilah pilihan hidup, dan bukan sekedar hidup!

Tanpa motivasi yang besar, guru-guru di Sekolah Islam Terpadu mungkin sudah mati. SDIT-SDIT tidak akan ada. Kerja-kerja guru sebenarnya berefek masa depan. Tidak bisa dirasakan dalam hitungan hari atau bulan. Motivasi yang tidak kalah mendasar adalah bahwa ini bagian dari proses berbagi. Seperti dalam konsep sedekah, apa yang kita bagi tidak akan pernah berkurang, tapi justru bertambah.

Tempat kita bekerja, di Sekolah Islam Termahal, eh, Terpadu, itu bukan sebagai alternatif lagi, tapi sudah menjadi pilar utama. Ketika sekolah negeri belum buka pendaftaran, SDIT-SDIT sudah menutup pendaftaran. Ini hampir terjadi di mana-mana. Keunggulannya diakui.  Keunggulan SDM-SDM guru juga sudah diakui. Sumber Daya Manusia ini bisa unggul karena ada sarana-sarana yang memadai dan, punya fasilitas-fasilitas yang representative, tapi sejatinya yang menjadikan unggul itu tak lain adalah motivasi!

Sudah banyak terdengar kisah, dimana-mana guru-guru SDIT luar biasa, kehidupannya juga tentu luar biasa. Ini tidak lepas dari apa yang sudah kita miliki. Motivasi, orientasi yang kita miliki dan kita perdalam.

Bagaimana bisa seperti ini? Kuncinya hanya satu, mengucapkan benar kalimat basmallah yang mantap, kemudian meningkatkan kualitas basmallah kita. karena jika memulai sesuatu dari yang Maha Besar, maka kita  akan mengakhiri pekerjaan ini untuk juga yang Maha Besar. Keberadaan kita di sini adalah untuk sesuatu yang besar yang akhirnya membuahkan hasil yang besar.

Mari kita mulai menjadi pendidik yang sadar bahwa dari apa yang kita kerjakan ini akan mendapat kemuliaan Allah Swt. Apa yang  kita kerjakan bisa menjadi investasi terbesar di sisi Allah Swt, yang akan menentukan arah perjalanan umat manusia ke depan. Maka tak ada cara lain dengan menjadikan profesi ini sebagai pilihan hidup.

Sebenarnya mahal sekarang bukan menjadi ukuran, tapi melihat apa yang bisa ditawarkan dari sekolah mahal. Saat ini bahkan ada sekolah-sekolah Islam Terpadu yang melabrak pakem sebagimana lazimnya.

Di Sumatra, telah berdiri sebuah sekolah SMPIT MADANI yang punya tagline “Sekolah gratis dan berkualitas,” sekolah ini ditujukan untuk anak-anak dhuafa. Uniknya lagi, meski sekolag gratis, tapi gaji gurunya lebih besar dari guru PNS. Gaji pertama saja 2.750.000, Setiap tahun kenaikan 25%. Secara proses, dan juga out put sekolah ini banyak menimbulkan kecemburuan.

Yang cemburu adalah para kaum aghniya, yang ingin anaknya disekolahkan di sekolah ini, bayar pun tidak apa-apa. Tapi kan, tidak mungkin, kecuali aghniya itu berubah status menjadi dhuafa, hehe…

Bagaimana bisa mendirikan sekolah gratis dan berkualitas, dan memberikan gaji yang besar? Ini karena penyelenggara mampu menggandeng banyak kaum aghniya untuk menjadi donatur tetap. Tentu kita berharap, akan banyak sekolah-sekolah sebagaimana konsep madani.

author
No Response

Leave a reply "Menjadi Guru sebagai Pilihan Hidup, Bukan Sekedar untuk Hidup"