Pertama Nulis itu Susahnya Bukan Main, Tapi Begitu sudah Nulis yang Susah Mengakhirinya

Ali Irfan

Baru-baru ini saya ketemu dengan Master Cerita Ngocol Indonesia, Boim Wong! Eits, sebentar-sebentar sepertinya ada masalah dengan nama tadi. Maaf saudara-saudara, maksud saya adalah Boim Lebon.

Kedatangannya ke Tegal dalam rangka liburan, tapi berhubung tempat liburan di Tegal, ya, cuma itu-itu saja, maka kesempatan itu kami manfaatkan dengan mengadakan pengajian, yang diisi sharing kepenulisan bagaimana caranya agar bisa membuat ketawa lengkap dengan tajwid-gharibnya.

Ini merupakan pertemuan pertama saya dengan Boim Lebon, mulanya saya hanya kenal nama. Wajahnya entah, saya tak pernah merasa penasaran seperti apa wajahnya. Apakah putih, tampan, tinggi, atau apalah. Saya tak tertarik. Maaf ya, Mas Boim, tentang Lupus juga hanya pernah dengar namanya saja, baca bukunya sama sekali belum pernah. Kalau saya sih, positif sinting (eh, thinking!) aja, mungkin ketemu dulu sama penulisnya, baru baca cerita Lupusnya.

For your information nih, bagi yang belum tahu, nama Lebon dibelakang Boim itu dibaca seperti huruf “e”pada kata “Cirebon,” bukan “e” seperti pada kata, “Express”

Boim Lebon memang layak disebut Master Derita Ngocol, eh, maksudnya cerita. Buktinya waktu dua jam seperti berputar sangat cepat, tak terasa tahu-tahu sudah 2 jam lewat. Mungkin ada yang penasaran, bagaimana materi yang disampaikan Boim Lebon, yang tak lain adalah “perkenalan?”

Jangan lanjutkan membaca bagian berikutnya sebelum ada keputusan!

Ingat waktu untuk memutuskan hanya setengah detik! Pilih salah satu, biar dapat sembilan!

  1. “Ya, saya ingin tahu.”
  2. “Ya, saya sangat ingin tahu.”

Sudah?

Baik kalau sudah, silahkan untuk menikmati hasil ingatanku yang pada kesempatan itu hanya sempat mencatat di selembar kertas bekas ganjel LCD proyektor, karena netbook yang saya bawa, (yang sejatinya untuk notulen, dipinjam buat presentasi Boim Rebon, eh, Lebon.

***

Salah satu slide presentasi, Boim menampilkan fotonya bareng artis ibu kota, Giring Nidji dan Dude Herlino. Maklum, dia termasuk dekat dengan para artis, karena saat ini dia menjadi produser program di RCTI.  Katanya saat menjelaskan foto tersebut.

“Alasan foto sama Giring ini karena saya ada kesamaan, Giring itu rambutnya kribo, dulu saya juga kribo, bahkan tiga kali lebih kribo dari Giring. Nah, kalau sama Dude ini banyak yang bilang saya saudara kembar!”

Para peserta yang saat itu hadir tertawa terbahak-bahak, setelah itu gubrak!!

***

“Pengalaman punya rambut Kribo ini ada manfaatnya sekaligus pernah dimanfaatin. Dulu, kalau malas pakai helm pas mau naik motor, ya tinggal jalan saja naik motor, karena disangka polisi kan saya pakai helm. Lagian kalau pakai helm, masukin helm ke kepala lamanya minta ampun.”

Beruntung para peserta tak ada yang rambutnya kribo, jadi kalau naik motor tetep pakai helm ya… (Pak Polisi, saya kampanye cara berkendara yang aman nih, J)

***

“Pernah juga dimanfaatin sama teman waktu sekolah. Teman yang ingin memanfaatkan saya biasanya duduk di belakang saya. Rambut saya ternyata dijadikan sarang kebetan, lembar contekan. Kalau pas mau nyontek ditarik, pas sudah lepas langsung masuk ke rambut kribo saya. bayangkan kalau ada anak sepuluh yang kayak gitu.”

Kalau saja saya yang jadi gurunya, di rambut kribo itu akan aku pasangi bunga beserta vas-nya. Hehehe…

***

Saat bicara karakter sebuah cerita, Boim mengocok telur pakai garpu sampai warnanya agak pucat, lalu didadar di atas perapian yang di atasnya sudah diletakkan wajan berisi dua sendok makan minyak sayur yang sudah panas.

Oh, No! There’s something wrong again!!

Saya ulangi, saat bicara karakter Boim sukses mengocok perut, saat memeragakan waktu melakukan percakapan telepon dengan temannya yang bernama Sri dari Solo. Dilihat dari namanya, Boim itu memang cuek, tegas, gaya bahasanya two ball point,  maksud saya, to the point!

“Sri, ibu kamu ada nggak?” kata Boim singkat.

“Oh, Mas Boim… sebentar…. saya tengok dulu ke belakang…. ibu saya ada… atau ndak… Soalnya…”

“Sri ngomongnya cepat dikit, Sri!” terdengar suara Boim dari balik telepon. Padahal Boim khawatir pulsa cepat habis, tapi maksud menelepon nggak kesampaian.

“…dari tadi… saya belum melihat ibu…bla blab la…” jawab Sri panjang lebar dengan dialek Solo, yang pelan, halus, hati-hati, dan amat santun.

“Gini-gini aja wis, tolong kamu sampaikan saja sama ibu, aku jadi pesan batik, ya,” ucap Boim jelas

“Oalah… tentu saja bisa Mas Boim…., nanti aku sampaikan sama ibu…. kalau Mas Boim mau pesan batik sama ibu…” masih dengan dialek Solo, yang lembut, perlahan, nggak sampai-sampai.

“Sri, pulsa Sri, pulsa..” Boim mulai cemas, ini kok yang diajak telepon malah curhat

“Memangnya…. Mas Boim mau pesan batik berapa kodi…. buat oleh-oleh…”

“Sudah, Sri. Sudah, nanti aku ke sana saja, assalamualaikum!”

Si Sri masih asyik ngomong bla-bla-bla padahal telepon sudah ditutup sama Mas Boim. Nelpon yang harusnya hanya satu menit, sama Sri bisa sampai satu jam, nggak kelar-kelar. Pulsa yang baru diisi sepuluh ribu, langsung habis!

***

Karena suka menulis, saya sudah terbiasa berkomunikasi sama istri dengan bahasa tulisan. Misalnya pernah ketika mau tidur, saya menuliskan pesan di atas selembar kertas, yang bunyinya begini,

“BU, TOLONG BANGUNKAN AKU JAM EMPAT PAGI.”

Lewat selembar kertas pula istri saya itu langsung menjawab,

“YA, SIAP!”Guru

Tapi paginya saya justru kesiangan, saya malah bangun jam enam pagi! Saya pun marah-marah sama istri. Eh, pas marah balik dimarahin.

“Bu, kenapa saya nggak dibangunin jam empat tadi? Jadi kesiangan gini shalat subuhnya.”

“Siapa yang nggak bangunin? Kan ibu sudah bangunkan bapak dari tadi.”

“Bangunin gimana?”

“Lewat tulisan juga. Tuh!” kata istri saya sambil menunjuk selembar kertas yang isinya, “

“PA, BANGUN, SUDAH JAM EMPAT PAGI!”

***

Sempat ada peserta yang bertanya,

“Mas Boim, di kepala saya punya banyak ide, tapi pas nulis di  tengah jalan tiba-tiba macet, nggak bisa nulis lagi. Kenapa ya”

“Memang bagi pemula mengawali menulis itu susahnya luar biasa. Tapi kalau sudah menulis, yang terjadi akan sulit mengakhirinya. Nah, kalau pas di tengah jalan macet, cobalah sesekali ke pinggir jalan, biar nggak bikin macet, kan banyak mobil yang mau pada lewat. Hahaha…”

***

Boim juga cerita pengalaman temannya yang suka sama pelajaran Bahasa Indonesia, terutama puisi. Temannya ini paling suka menghafal puisi, menjengkelkannya lagi, dalam komunikasi sehari-hari pun, bahasanya bahasa puisi.

Saat di absen sama gurunya, Boim langsung tunjuk tangan, “Saya Bu Guru!” tapi begitu nama Gusur yang disebut. “Gusur?” Gusur menjawab dengan puisi, “Wahai guruku yang baik, ketika matahari sudah meninggi, terbit di timur, tenggelam di barat, aku sudah lebih dulu di sini,”

Lagi saat  guru selesai mengajar, dan mengajukan pertanyaan, “Sampai sini, ada yang belum jelas?” Semua diam, gurunya sangat berharap yang angkat tangan itu bukan Gusur. Tapi ini yang angkat tangan malah benar-benar Gusur?

“Ya, silahkan Gusur.” Kata gurunya dengan penuh perasaan sebal.

“Wahai guruku yang baik, saat rumput basah tersengat mentari, saat saat gelombang samudera menghantam karang, aku masih belum begitu terang.”

***

Kisah berikutnya kalau ditulis bisa sangat panjang, dan inilah kisah yang paling konyol yang disampaikan Boim Lebon.

Boim punya teman, Namanya Gusur (namanya benar nggak ya, ingat lupa ingat, soalnya). Anak ini hobinya menolong orang, tapi sekali menolong keadaannya malah bukannya menjadi baik, tapi malah semakin parah. Meski demikian niatnya menolong orang sangat tinggi. Pernah suatu ketika ia melihat nenek-nenek mau menyeberang  jalan, lalu lintas kendaraan padat sekali. Karena tergerak mau nolong, ia pun seketika menghampiri nenek itu.

“Nek, mau nyeberang ya. Tunggu sebentar Nek, saya bantu,” kata Gusur, anak yang  hobi nolong tadi.

Seketika Gusur langsung maju ke tengah jalan, dan menyetop kendaraan yang melajut cepat. yang terjadi mobil ngerem mendadak, mobil-mobil lain yang dibelakangnya, menabrak mobil di depannya. Brak-brak brak! Dengan kalem si Gusur mempersilahkan nenek itu berjalan,

“Mari, Nek. Silahkan jalan, jalannya sudah bisa buat menyeberang!” katanya dengan penuh percaya diri nan gagah.

Karena menjadi penyebab kecelakaan beruntun, Gusur pun ditangkap polisi. Tapi ia dibebaskan setelah polisi mendapat keterangan dari Pak RT.

“Gusur itu orangnya rada-rada Pak Polisi. Dia pernah jatuh, dan kepalanya terbentur, sejak saat itu ia mulai korslet. Jadi percuma saja kalau Gusur di penjara, bisa-bisa malah bikin repot Pak Polisi. Saya berjanji akan mengawasi gerak—gerik Gusur Pak Polisi.”

Dari situlah akhirnya Gusur dibebaskan, nggak jadi di penjara. Di tengah perjalanan pulang, Pak RT menyampaikan nasihat panjang lebar,

“Gusur, sudah kesekian kali kamu berbuat olah. Mulai sekarang, kamu nggak boleh menolong orang lagi.”

“Tapi, Pak RT. Saya itu ingin nolong orang. Ini sudah jadi hobi saya,”

“Eiit, tidak bisa. Soalnya kalau kamu menolong orang, bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah bikin masalah yang lebih besar lagi!”

“Tapi Pak RT,…”

“Eitss! Tidak bisa.” buru-buru Pak RT menyanggah kata-kata Gusur sambil mengacungkan jari telunjuk. Maksud Pak RT jelas, agar dia tak bisa kasih alasan. Melihat bibir Gusur yang seperti mau ngomong, Pak RT langsung bersikap,

“Eitss!” masih dengan tudingan jari telunjuk.

“Saya belum ngomong Pak RT” kata Gusur

“Oh, iya, ya.”

“Nanti kalau saya ingin nolong gimana Pak RT?”

“Tidak boleh, pokoknya tidak boleh kamu menolong orang lagi. Titik! Eitts!”

Keputusan Pak RT sudah bulat, demi menghindari hal-hal yang  tidak diinginkan sama Gusur, ia pun melarang habis-habisan Gusur untuk menolong orang!

Gusur hanya bisa diam, ia tak bisa membela dirinya sendiri. Ia merasa Pak RT mengada-ada, masa menolong saja nggak boleh, padahal hobi saya kan menolong orang!

Di hari berikutnya Gusur melihat ada tukang ojek yang motornya mogok. Tukang ojek itu tampak kerepotan memperbaiki motornya. Naluri menolong Gusur seketika muncul.  Ia paling tidak bisa berdiam diri melihat orang  butuh pertolongan.

“Wah, bang. Perlu bantuan  ya, bang. Sini biar aku bantu,” pinta Gusur. Merasa ada yang bantu, tukang ojek itu senangngya bukan kepalang, ia langsung mempercayakan sepenuhnya pada si Gusur. Tapi naas yang terjadi, motor itu dipreteli habis-habisan sampai bentuknya kecil-kecil,

“Wah! Kamu apakan motor saya, jadi kecil-kecil gini.”

“Justru ini, kita lagi cari sumber masalahnya dimana sama motor ini,”

Lagi-lagi Gusur dipanggil Pak RT.

“Sudah berkali-kali saya bilang, jangan pernah bantu orang lagi. Ini sudah kejadian yang ke tiga ratus enam puluh lima kali dalam setahun!”

“Tapi, Pak RT….” Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Pak RT tiba-tiba menimpali

“Eits! Tidak bisa. Kamu tidak boleh menolong orang lagi! Titik!”

Si Gusur pun akhirnya mengadu, dan  menemui guru ngajinya yang saat itu lagi bersih-bersih di masjid.

“Pak Ustad, kenapa sih saya nggak boleh menolong orang?”

“Siapa bilang nggak boleh saling menolong. Agama kita bahkan mengajarkan untuk saling tolong menolong,”

“Jadi, saya boleh menolong orang Pak Ustad?”

“Boleh”

“Saya  bisa bantu-bantu Pak Ustad ngepel lantai masjid, pak Ustad?”

“Tentu saja, boleh.”

Tak diduga, tanpa dinyana, si Gusur asal main ngepel saja. Gusur bukannya menyingkapi karpet-karpet masjid lebih yang pertama kali Gusur lakukan adalah menyiram seluruh karpet masjid kemudian dipel  layaknya ngepel lantai!

Bikin ulah lagi, Gusur pun dilaporin lagi sama Pak RT. Dipanggil lagi sama Pak RT.

“Gusur… sudah ribuan kali saya bilang, sekali-kali jangan menolong orang lagi! Sudah saya tegaskan di sini, mulai detik ini juga saya melarang kamu untuk menolong orang siapapun, kapanpun, dan dimanapun.!

“Eits!” Pak RT langsung menimpali barangkali mau Gusur mau menyangkal.

“Nggak Pak RT, saya cuma bilang, ya sudah kalau begitu mau Pak RT. Keputusan ini saya terima. Saya tidak akan menolong orang, siapapun, kapanpun, dimanapun!” walaupun Gusur cemas juga, tapi akhirnya ia menerima keputusan Pak RT, agar ia tidak menolong orang lagi.”

Tengah malam Gusur kepikiran terus dengan perkataan Pak RT tadi siang. Ia tak boleh menolong lagi. ia berpikir beratus kali akankah ia bisa hidup tanpa bisa menolong? Ia pikir, mungkin perkataan Pak RT ada benarnya juga. Saat lagi asyik-asyiknya merenung, tiba-tiba terdengar suara burr! Ada sesuatu yang terjatuh ke dalam sumur. Tidak biasanya suaranya sekencenng ini.

Seketika ia keluar, ingin melihat apakah gerangan yang jatuh ke dalam sumur. Tapi, ia ingat kata-kata Pak RT.  Ia benar-benar dilema, lihat, tidak, lihat tidak, lihat, tidak. Terus menerus ia berada dalam keraguan. Namun diam-diam naluri ingin menolongnya muncul. Sampai akhirnya tak tertahankan, ia menuju sumur itu. Gusur kaget bukan kepalang, ternyata ada orang  jatuh ke dalam sumur! Ia lebih kaget lagi ternyata orang itu adalah Pak RT!!!

Melihat Gusur di atas sana, Pak RT senangnya bukan main. Ia akan segera mendapat pertolongan.

“Gusur!!” teriak Pak RT dari dasar sumur.

“ Pak RT!!” teriak Gusur dari atas sumur.

“Gusur…!!” teriak Pak RT dari dasar sumur, sambil melambaikan tangan.

“Pak RT!!” teriak Gusur dari atas sumur, sambil melambaikan tangan juga.

“Gusur..!!” teriak Pak RT masih melambaikan  tangan.

“ Pak RT!!” teriak Gusur melambaikan tangan juga.

“Gusur, tolongin Pak RT!”

“Maaf, Pak RT. Aku nggak boleh nolong orang lagi.”

“Tapi ini beda, Gusur.”

“Sama Pak RT…!”

“Saya benar-benar butuh pertolongan Gusur, saya sudah kedinginan di dalam sumur ini…!!!” teriak Pak RT sambil menggigil.

“Maaf, Pak RT. Kan Pak RT sendiri yang bilang, saya tidak boleh menolong siapapun, dimanapun, dan kapanpun…!!” teriak Gusur lagi.

Percakapan antara dua orang  dari dasar sumur dan di atas sumur itu berlangsung mulai jam duabelas malam sampai jam empat pagi.

Pak RT kecewa, karena tak bisa meyakinkan Gusur untuk menolongnya. Gusur pergi meninggalkan Pak RT menuju masjid untuk shalat subuh. Pas selesai shalat, Gusur menceritakan nasib Pak RT kepada Pak Ustadz.

“Pak Ustadz, Pak RT kecebur sumur!”

“Innalilah, kenapa segera tak kau bantu, Gusur!!”

“Pak RT sendiri yang bilang saya tidak boleh bantu siapapaun, dimanapaun, dan kapanpun!”

“Kali ini boleh, ayo segera angkat Pak RT dari dasar sumur.”

Kali ini barulah Gusur mau membantu Pak RT menaikkan Pak RT yang kecebur sumur.

Dari peristiwa itu Pak RT sadar, bahwa tindakannya melarang Gusur menolong orang itu keliru. Gusur hanya perlu dididik, dan diarahkan bagaimana cara menolong yang baik. Akhirnya Pak RT meminta maaf sama Gusur.

***

Pelajaran paling  penting dari pertemuan saya dengan Boim Lebon adalah,

“Mengawali tulisan memang susahnya bukan main, tapi begitu sudah bisa menulis, yang paling sulit adalah mengakhirinya. Ketika lagi menulis di tengah jalan mendadak berhenti, cobalah sesekali menulis di pinggir jalan.”

Sah-sah saja ketika ada  yang bilang punya banyak ide, tapi untuk mengawali menulis saja kok susahnya minta ampun. Sudah di depan computer, jemari lentik kita tak bergerak sama sekali. Padahal, apapun itu, kalau sudah terbiasa, ya, berikutnya mudah-mudah saja.

Saya merasa banyak pelajaran saya dapatkan dalam tempo dua jam! Yang paling terasa adalah bagaimana menyiasati membuat judul-judul kreatif, dari referensi-referensi yang sudah tenar dan terkenal!

Apa salah? Sama sekali tidak. Karena ini merupakan bentuk kreativitas. Lagipula isi jelas-jelas ide orisinil dari si penulis. So, silahkan pelajari judul-judul ini, dan langsung praktekkan ide kreatif ala Boim Lebon ini biar ngefek! Ingat praktek, pasti ngefek!

  1. Maju Iyus Pantang Mundur, dari Maju Terus Pantang Mundur
  2. I love u SOMAD, dari I love you so much!
  3. Badman : Bidin, dari Batman Begin
  4. Donworibihepi, dari Don’t worry be happy
  5. Suparman Pulang Kampung
  6. Ayat Amat Cinta, dari Ayat-ayat Cinta
  7. Kuntilanak Kamar Mak Yat
  8. Kejarlah Daku Kau KuAngkot, dari Kejarlah Daku Kau Kutangkap.
  9. In Unyu Love, “Nggak ada yang salah sama lagu, tapi selalu ada yang salah dengan hati gue”In Boim Lebon, in Tak Ada Logila (dari Tak Ada Logika, nya Agnes Monica)
  10. SOTOY, Apabila kegantengan di Atas Segala-galanya.
  11. Sudah ya, kalau diterusin bisa berlembar-lembar nih. Kasihan nanti kamu capek bacanya, lagi pula aku mau nulis tema lain, masa Boim terus, hehehe…
author
No Response

Leave a reply "Pertama Nulis itu Susahnya Bukan Main, Tapi Begitu sudah Nulis yang Susah Mengakhirinya"