Bila Cinta Diuji

7 comments 157 views

Oleh  : Daiman

Liburan semester satu telah usai,  anak – anak mulai aktif kembali.  Mereka membawa berbagai macam cerita liburan, cas…. cis … cus….. sesama teman berbagi pengalaman dan cerita seru selama liburan. Terlihat mengasikan sampai saya tidak tega untuk menghentikan obrolan mereka.

Seperempat  jam kuperhatikan mereka, kubiarkan mereka asyik dengan obrolan dan candanya sesekali diselingi dengan tawa sesama  mereka.

“Eh…… ustadz, assalamu alaikum …” sapa Hafidz mengagetkanku..

“Waalaikum salam…. Bagaimana kabar mas….??”  . “Al hamdulillah baik ustadz….” Jawab Hafidz singkat.

Saya melihat ada sesuatu yang berbeda dari  biasanya, Hafidz adalah anak yang enerjik, periang serta selalu banyak ide, namun kali ini saya melihat ia agak kurang bergairah, seolah ada sesuatu yang menggangu pikirannya. Saya mencoba untuk mencari tahu. Saya teringat akan sms orang tuanya  sebulan yang lalu, “ hmm…  apakah itu yang membuat ia tidak seperti biasanya?” tanyaku dalam hati.

“Ustadz, maaf nitip anak saya Hafidz, sebenarnya ia anak yang pintar, saya takut  prestasi dia semakin jelek, setelah tahu kondisi orang tuanya.” Kira – kira seperti itulah bunyi smsnya.

Hafidz  juga  pernah manyampaikan kepada saya bahwa ia   akan pindah sekolah,  karena ayahnya akan bekerja didaerah yang sangat jauh, begitupun ibunya. Tetapi itu semua tidak terjadi karena ia tidak mau pindah.

“Mengapa mas….. ko gak mau pindah ?”  tanyaku kepada hafidz.

“Lah… nanti tidak ketemu sama teman – teman dan ustadz – ustadzah  lagi.” Jawabnya sambil gelayutan dipangkuanku.

“Ya nanti kalau liburan bisa kesini kan ?”

“Gak lah tadz, gak mau pindah… nanti gak ketemu  Ustadz  lagi.”, jawabnya.

Hari – demi hari berlalu, masalah orang tua yang ia tahu seakan terlupakan dengan kecerian canda bersama teman – teman dan ustadz – ustadzah nya ketika belajar.

Sabtu, 4 Januari 2014 saya ijin tidak masuk mengajar karena ada keperluan ke Kuningan. Berarti  dua hari tidak berjumpa dengan murid – murid ku.

“Ass….. ust minta nomernya Ust Sobirin” pinta Hafidz lewat sms.

Ku kirim nomer ustadz  Sobirin kepadanya, “trimakasih ust….” balas Hafidz.

Sehari kemudian tepatnya malam Senin ia sms lagi  “ Ass. Ust, Hafidz mau ikut ibu pindah sekolah, tolong bilangin ust.sobirin kertas mikanya gak usah. Besok bapak kesekolah”

Betapa terkejut membaca sms itu, dan saya mencoba  menghubungi neneknya hafidz, saya minta ijin untuk menemuinya. Sepuluh menit saya meluncur kerumahnya…., kulihat rumah sudah gelap, barang – barang terlihat sudah dikemasi.

Tok … tok….. tok… ku ketuk pintu dan ku ucapkan salam. Tidak lama kemudian perempuan separuh baya keluar dengan raut muka tampak  sedih di damping oleh suaminya yang jalannya dibantu dengan kursi roda.

“silakan masuk, ust…. hafidznya dari tadi sore nangis, mondar – mandir sepertinya bingung. Tuh sekarang anaknya lagi nangis dikamar” cerita neneknya.

“bilang saja mbah kalau ust daiman datang”jawabku.

Sembari menyeka airmata dengan kerudung biru yang dikenakan Beliau  masuk kamar memanggil cucu tercintanya. Beliau memberitahukan kalau saya datang ingin bertemu hafidz.

“ mas hafidz…. Ini ustadz  datang, temui dulu mas…”pinta mbah putrinya kepada Hafidz.

Lima menit kemudian ia keluar dari kamarnya, air mata yang mengalir dari matanya yang bening membasahi pipi, ia berjalan mendekatiku. Tanpa ekspresi senyum seperti biasanya ketika tidak ada masalah,   ia menyalami  dan memelukku dengan erat.  Tidak ada kata yang terucap hanya tangisan saja yang terdengar. Begitulah anak – anak  belum bisa untuk mengungkapkan  perasaan  yang sedang  berkecamuk di dalam hatinya.  Dari situ aku merasakan betapa berat berpisah dengan  orang – orang yang ia cintai.

“Mengapa hafidz menangis?” tanyaku.

Namun tak ada kata yang terucap, hanya tangisan yang bertambah meledak…. Dengan tangisan  itu seakan ia berharap saya bisa menterjemahkan dalam untaian kata dan kalimat,  agar orang – orang disekelilingnya  mengerti dan paham  serta merasakan dengan apa yang sedang berkecamuk di hatinya.

Kucoba untuk mengekang emosi, kutahan air mata yang akan tumpah juga, sebentar aku berhasil tetapi aku tidak bisa menahan untuk  berikutnya. Air mataku tumpah juga dan ku peluk ia, ku katakan padanya agar bersabar walau ku tahu ia tidak akan mengerti bagaimana ia harus bersabar, yang diinginkan adalah terpenuhinya keinginan yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Se isi rumah terdiam  bingung  melihat Hafidz yang terisak – isak .

“Bagaimana ini Ustadz ?, sepertinya tidak mungkin cucu saya tinggal disini, keadaan kacau dan saya khawatir  akan  keselamatan cucu saya. Sementara Hafidz tidak mau diajak…” cerita neneknya.

Sementara ibu dan ayahnya juga bingung dengan kondisi anak tercintanya.

Saya terdiam, sambil memikirkan tindakan apa yang pas untuk masalah ini agar semua menerima.  Ku coba membuka pertanyaan kepada Hafidz ,

“Mas hafidz sayang Umi?”

“Mas hafidz sayang Abi ?”

“ Mas hafidz sayang mbah ?”

“ya … aku sayang semuanya ustadz,” jawabnya.

Melihat cucunya yang menangis terus, neneknya mengajukan sebuah pertanyaan yang jawabanya adalah sebuah pilihan “mau ikut pindah atau tetap tinggal di slawi “ tentunya dengan resiko tidak ada siapa – siapa jika ia memilih tinggal di Slawi.

Sebuah jawaban yang mengejutkan dari anak yang begitu cintanya kepada sekolahan, guru dan teman – temannya. Yang jelas ia sudah nyaman dengan lingkungan yang terwarnai dengan nilai – nilai Robbani, merasakan kasih sayang yang tulus dari para pendidiknya dan kesetiaan yang tidak semu dari teman – temannya. Ia memilih tetap tinggal di Slawi dengan resiko tidak bersama orang tua yang disayanginya, ia tidak tahu resiko yang akan di hadapi  dikemudian hari.

Ku coba untuk membujuknya agar ia mau ikut orang tuanya, ku katakan  kepadanya agar ikut dua atau tiga hari .  Al hamdulillah ia mau mengikuti apa yang saya sarankan.

Seminggu sudah Hafidz tidak masuk sekolah, suasana kelas memang agak berbeda. Teman – teman  banyak  yang menanyakan kemana ia tidak berangkat.

Rupanya ibu dan neneknya  mencoba mencarikan sekolah di tempat yang baru, namun hanya hari pertama saja ia merasakan senang di sekolahan yang baru, tetapi hari – hari berikutnya ia kerap menangis sepulang sekolah. katanya ingat ustadz dan teman – temannya di Luqman al hakim.

Sms terakhir menyatakan bahwa ia tetap memilih sekolah di Luqman al hakim, dan akan tinggal di Boarding SMP IT Luqman al hakim.

Subhanallah…… Engkaulah yang telah mengikat hati – hati kami yang berserakan, dengan ikatan cinta Mu…. semoga murid – muridku menjadi penegak risalah Islam yang Agung kelak.

Jika Allah telah mengikat persaudaraan dengan tali Nya maka tidak ada yang mampu memisahkannya apalagi menghalanginya.

author
7 Responses
  1. author

    Al Farisi4 years ago

    Subhanallah… Mas Hafidz, Kami semua sayang kamu…. Ustadzha sampe nangis membaca cerita ini….
    Pantas saja akhir-akhir ini ustadzah selalu memanggil namamu saat giliran maju tilawaty kamu tidak pernah menampakkan dirinya… yang biasanya kamu maju lebih dulu dari temen-temenmu bahkan sebelum ustadzah panggil. Mas Hafidz tetap Sabar ya… dan Tetap Semangat!!!

    Ust.Daiman, Ceritanya Bagus Banget, Menyentuh hati.

    Reply
  2. author

    Ghina Hananti4 years ago

    (y)
    Bagus Ceritanya 🙂

    Reply
  3. author

    Ghina Hananti4 years ago

    ustad Daiman Pernah cerita ini pas pelajaran Matematika

    Reply
  4. author

    darni.imaduddin4 years ago

    Subhanalloh. Semoga keberkahan buat kita semua. Amien.

    Reply
  5. author

    Vinezza Pamalis4 years ago

    Ustad Daiman.. ceritanya bagus bangeeet!

    Reply
  6. author

    fikri briliantama4 years ago

    bagus baget ceritanya ustad daiman

    Reply
  7. author

    aqsa4 years ago

    ceritanya bagus tuh

    Reply

Leave a reply "Bila Cinta Diuji"