Mencari Jejak yang Hilang

No comment 230 views

Oleh Ekyasa Mahardika

Kringgg……. Kringgg………..Kringgg………., bunyi jam wecker milik Roy yang senantiasa berbunyi setiap jam 5 pagi. Pagi itu hari Minggu, tinggal beberapa jam lagi Roy akan segera mengikuti Ekskul Pramuka yang sedang mengadakan kegiatan kemah untuk kelas 4 SD. Setelah shalat Shubuh, ia segera menuju kamar mandi yang terletak di sebelah kamarnya, Mandi, ganti baju, memakai hasduk, topi pramuka, dan tak ketinggalan adalah sabuk dan kaos kaki.

Setelah siap, ia langsung menuju ruang makan yang terletak di lantai bawah sambil membawa tas dan kuali, tubuhnya yang gendut itu sedikit kesusahan ketika menuruni tangga, ia hampir terjatuh saat ibunya menyuruh Roy mengambil piring di lemari. Usai makan ia segera berangkat sekolah, ia sudah tak sabar mengikuti kegiatan kemah yang akan dilaksanakan selama 2 hari itu.

Sampai di sekolah, ia bertemu kedua sahabatnya yaitu Doni, Jarey dan Ardi, tidak lama kemudian terdengar pengumuman “Mohon perhatian bagi anak-anak yang sudah di area sekolah diharapkan berkumpul di lapangan untuk melakukan acara pembukaan,” kata Pak Sabar. Anak-anak berbaris dengan tertib, tanpa ada suara selain Bapak Kepala Sekolah bernama lengkap Yasir Muhammad S.Ag itu yang sedang menyampaikan penjelasan tentang cara mendirikan tenda, ”Dan bonusnya, kalian harus menemukan kotak,” ucapnya.

Upacara selesai, Roy, Doni, dan Ardi pun segera menuju ke tempat dimana tenda mereka akan didirikan, kebetulan mereka satu kelompok. Sambil berjalan Jarey bertanya kepada Doni, “Don, kamu tahu nggak maksudnya Pak Yasir bilang salah satu dari kalian harus menemukan kotak?”, tanya Jarey bingung “Hmmmm,, nggak tuh, emang kenapa?”, jawab Doni kebingungan, “Tidak apa-apa, lupakan saja!”, jawab Jarey.

Tak berselang lama mereka sudah sampai di lapangan depan Perpustakaan, tempat tenda mereka didirikan, dan tanpa disangka Kakak Pembina mereka adalah Pak Daman, Roy sedikit malu kepada Pak Daman karena beberapa hari sebelumnya Roy pernah kepergok sedang mencuri mangga di rumah Pak Daman, namun kesalahannya telah dimaafkan,. Dulu, Roy memang anak yang nakal dan sombong, tapi semuanya telah berubah, Roy menjadi baik, dan tidak sombong. Roy, Doni, Ardi, Rizqi,  dan  Jarey pun dibagikan tugas oleh Pak Daman, Roy menancapkan pasak, Rizqi menggelar tikar, dan sebagainya.

Tenda berhasil didirikan, kini saatnya kegiatan pertama dilakukan, kelompok mereka kebagian tugas untuk mencari kertas dengan huruf diatasnya lalu merangkainya menjadi sebuah kalimat. Ketua kelompok, yaitu Roy, mendapatkan sebuah peta dari Pak Daman,

“Ini adalah rute yang akan kalian lewati, ingat, kalian tidak boleh melewati rute dengan garis berwarna merah, OK!?” jelas Pak Daman,

“Baik, Pak!”jawab mereka. Dengan semangat, mereka menuju ke pos pertama, yaitu alun-alun, mereka mendapatkan kertas berhuruf T yang ditempel di sebuah air mancur besar yang ada disitu, kemudian melanjutkan ke pos 2 yang ada di dekat sungai.

“Menurut peta, kita harus menyebrangi sungai kecil ini, tapi bagaimana caranya?” kata Roy,

“Bagaimana dengan menceburkan diri ke air?” tanya Rizqi,

“Hmmm,, kalau menceburkan diri sih,, aku rasa sungainya sedikit dalam, Aha! sebaiknya kita menggunakan kayu dari pohon kapuk yang sudah tumbang ini, sepertinya tidak terlalu berat” jawab Ardi dengan ide cemerlangnya, mereka lalu bekerja sama untuk mengangkat kayu itu,

“Memang tidak berat” kata Roy,

“Kalau kita bekerjasama, semuanya bisa menjadi ringan” balas Jarey dan Doni bersamaan, memang, sejak dulu mereka berdua sangat kompak dalam hal apapun kecuali makan, karena porsi makan Doni lebih banyak daripada Jarey.

Berhasil menyeberang sungai, mereka sampai di pos kedua, Roy menemukan kertas dengan huruf G, “ini petunjuk yang kedua”, kata Roy. Pos tiga, empat, dan lima pun mereka lalui tanpa hambatan, mereka mendapatkan huruf D, U, dan E. Tapi keanehan mulai terjadi, mereka menemukan sebuah kertas bergambar hantu yang ada ditempel di sebuah pohon yang sudah disiapkan para Pembina untuk menguji mental para penggalang. Roy yang dikenal penakut itu langsung berlari dengan sekuat tenaga, tapi dengan tubuhnya yang gendut itu, ia tidak bisa berlari dengan cepat, bahkan kejadian saat Roy mencuri Mangga di rumah pak Daman pun hampir terulang, yaitu tersandung batu. Mereka berusaha menghentikan Roy, dan akhirnya mereka berhasil.

 Mereka melihat peta dan kebingungan, mereka sudah berada di tempat yang tidak dikenal.

“Aduh, bagaimana ini”, keluh Jarey sambil menundukkan kepala”, semuanya berpikir mencari jalan pulang karena ternyata banyak jalur cabang disitu,

“AAAAAAAAAAAAAHHHHH,,,… kita berada di rute berbahaya!, lihat itu ada garis merah!!”, teriak Jarey sampai-sampai seluruh bulunya merinding, Doni sempat bertengkar dengan Roy karena Doni menganggap Roy sebagai pembawa sial, untung pertengkaran mereka segera diakhiri oleh Ardi sambil berkata, “Sudah, jangan bertengkar terus, itu tidak baik!”, sedangkan Rizqi asyik mengerutkan dahi sambil berputar-putar mencari akal, dan tanpa sengaja ia menginjak sebuah kotak aneh yang tertutup dedaunan kering,

“Apa ini?”, Rizqi kebingungan, “teman-teman aku menemukan sesuatu!”, teriak Rizqi memanggil teman-temannya, beberapa detik kemudian ternyata ia sudah dikelilingi teman-temannya yang penasaran, Rizqi memberikan kotak itu ke Roy dan Roy membukannya, ia menemukan sebuah Peta & kertas bertuliskan

“SELAMAT! KALIAN BERHAK MENDAPATKAN PENGHARGAAN KARENA TELAH MENEMUKAN KOTAK INI, SILAHKAN BERIKAN KERTAS INI SEBAGAI BUKTI BAHWA KALIAN TELAH MENEMUKAN KOTAK MISTERI KEPADA PAK SABAR, SILAHKAN IKUTI GARIS KUNING INI, DAN KALIAN AKAN LANGSUNG SAMPAI DI SEKOLAH!”,

“Wahhh,, selamat Rizqi, kamu menemukan kotak aneh ini!, ucapan selamat bertaburan dari semua anggota kelompok,

“Aduh,, jadi malu nih! hehehe”, ucap Rizqi. Mereka segera mengikuti garis kuning dan menemukan sebuah kertas bergambar hantu tanpa kepala di atas tanah, Roy kembali ketakutan dan berlari,

“Untung sudah dekat dengan jalan raya”, ucap Roy lega.

Mereka segera menuju sekolah dan menyerahkan kertas itu ke Pak Sabar, Roy bertanya kepada Pak Sabar

“Pak,  kenapa dijalan tadi diberi gambar hantu?, ada dua lagi?,” tanya Roy penasaran,

“Hah! Ada duaa!, bapak cuma pasang satu di pohon, lalu yang satunya lagi?, mungkin kamu salah lihat, itu bukan gambar hantu, melainkan yang lain, seperti batang pohon dll. Bisa juga seekor kura-kura, kumbang, sebuah kapas yang jatuh!?” Jawab pak sabar tanpa bernafas.

Tak terasa hari sudah malam, perayaan api unggun diundur menjadi besok karena banyak angin, pintu tenda setengah ditutup karena semuanya sudah tidur, hanya Doni dan Roy yang belum tidur.

“Don, tadi ada orang lewat, kira-kira siapa ya?, tadi aku keluar sebentar orangnya sudah nggak ada”, tanya Roy,

“Orang yang menaruh gambar hantu ditanah”, Jawab Doni,

“Benarkah?”, tanya Roy untuk meyakinkan dirinya sendiri,

”Iya,, sudahlah lupakan saja! Aku ngantuk”, kata Doni,

“Hmm Baiklah, Selamat Malam!”, ucap Roy.  Dan semuanya pun tidur dengan lelap.

*) Ekyasa Mahardika, siswa kelas VI MI Luqman Al Hakim

Tags:
author
No Response

Leave a reply "Mencari Jejak yang Hilang"