Koin Ikhlas

4 comments 228 views

Oleh Ali Irfan

Saya merasa selalu tertantang dan ingin melakukan hal-hal baru saat mengajar di kelas. Salah satu tantangan saya adalah ketika dalam pelajaran ingin menyelipkan pesan ikhlas. Kalau sekedar menyampaikan pengertian seperti yang ada di buku-buku pelajaran itu sudah biasa, bahkan sangat biasa. Tapi itu sangat berbeda ketika dipraktekkan.

Bicara ikhlas ada sebuah game yang mengajarkan mengenai pentingnya ikhlas. Ikhlas sendiri punya arti ketika kondisi suasana hati benar-benar rela untuk melepasnya begitu saja, tanpa ada sesuatu yang memberati.

Pada satu kesempatan di kelas IV B, saya sempat mempraktekkan game ini!

Alat yang dibutuhkan hanya sebuah koin, bisa limaratusan atau seribuan. Pokoke koin! Pada permainan ini biasanya hanya butuh dua anak yang diajak untuk ikut simulasi. Anak pertama sebagai uji coba keberhasilan. Anak kedua biasanya jadi ‘korban’

Biar lebih meyakinkan, saya berperan sebagai instruktur yang akan mengajarkan pentingnya ‘ikhlas’ dalam berbuat. Pertama-tama, saya minta seorang anak maju, kemudian saya sampaikan kepada anak-anak,

“Permainan ini membutuhkan ketenangan dari para peserta. Jadi saya mohon semua dalam keadaan tenang!”

Yang berkesempatan maju adalah Hanan Yahya. Dia dengan percaya diri maju ke kelas, kemudian siap melaksanakan simulasi, mengikuti semua instruksi yang saya berikan.

“Hanan, tugas kamu adalah menjatuhkan koin yang saya tempelkan di dahi kamu. Siap?!” kata saya sambil meletakkan sebuah koin di dahi Hanan sampai menempel. “Ikhlaskan hati kamu agar koin ini benar-benar jatuh, dengan syarat kedua tangan di belakang, dan tidak boleh digerakkan. Yang boleh digerakkan hanya kepala saja. Siap?!”

“Siap, ustad!”

Hanan dengan sepenuh hati menggerakkan kepala untuk menjatuhkan koin. Gerakan kepala pertama koin tak mau jatuh. Gerakan kepala kedua masih juga tak jatuh. Lalu saya sampaikan kembali. “Ikhlaskan hatimu, Hanan. Ikhlaskan. Kamu pasti bisa!”

Kali ini dengan penuh keyakinan dan keikhlasan yang mendalam, Hanan menggerakkan kepala untuk yang ketiga kalinya dan koin itu benar-benar jatuh!

Begitu koin itu lepas, saya langsung mengapresiasi kerja keras Hanan.

“Luar biasa. Berarti kamu sudah ‘ikhlas’  Terimakasih Mas Hanan. Siapa berikutnya yang ingin mencoba?!”

Anak-anak angkat tangan semua. Tapi sebenarnya saya sudah punya target, siapa yang akan saya ‘kerjain’ pada permainan ini! Dialah Irsyad! Semua teman-teman Irsyad dan juga guru  pasti tahu Irsyad itu anak model apa. Sekali-sekali ngerjain, nggak papa kan? Hehe…

“Ya, Irsyad. Silahkan ke depan!”

“Kamu sudah tahu syaratnya kan?” Irsyad mengangguk dengan penuh semangat, lengkap dengan gayanya yang cengengesan.

“Sekarang tangan kamu letakkan di belakang, pastikan dalam permainan ini kamu bisa menenangkan dan menguasai diri sampai benar-benar ikhlas.”

Saat itulah saya meletakkan koin di atas dahi Irsyad, agak menekan, terus menekan agar menempel di dahi Irsyad. Seketika itu pula saya langsung mengambil koin tadi kemudian menyembunyikannya di saku dengan sangat cepat tanpa sepengetahuan Irsyad!

“Ayo, Irsyad. Sekarang tunjukkan pada teman-temanmu kamu termasuk anak yang ikhlas atau tidak.”

Irsyad serius sekali  mencoba menjatuhkan koin yang sebenarnya nggak ada. Anak-anak mulai memberi support. Setiap hentakkan kepala  Irsyad disambut dengan sapaan “Iyyaa..” oleh anak-anak. Irsyad mencoba menjatuhkan koin, anak-anak menyambut dengan sorakan, “Iyya…!”

“Ayo Irsyad, ikhlaskan hati dan pikiranmu!”

Irsyad menggerakkan kepala, anak-anak bilang “iyya…”

Irsyad mengangguk-anggukkan kepala, anak-anak terus bilang “iyya…”

Irsyad terus berusaha menjatuhkan koin di atas dahinya, anak-anak masih bilang “iyya…”

Sampai gerakan kepala Irsyad semakin cepat, teman-temannya tak kalah cepat membalas dengan semangat, “Iyya, iyya, iyya…!”

Irsyad kembali mencoba menjatuhkan koin yang masih menempel di kepala, tapi tak juga jatuh-jatuh!” Teman-temannya tertawa terbahak-bahak menyaksikan pertunjukkan konyol. Hampir lima menit Irsyad berusaha menjatuhkan koin. Setengah memaksa ‘melanggar peraturan’ ia meraba dahinya dengan tangannya, ternyata koin itu nggak ada!

Yang dibutuhkan dalam permainan ini adalah kata-kata yang meyakinkan dari instruktur sekaligus gerak cekatan saat mengambil koin yang telah ditempelkan di dahi, agar ‘korban’ merasa koin masih menempel di atas dahinya. Selamat mencoba, iyya, iyya iyya…

author
4 Responses
  1. author

    arie5 years ago

    boleh juga, tuh, aksinya…

    Reply
  2. author

    Afra5 years ago

    Terlaaalu.

    Reply
  3. author

    Bunda5 years ago

    Emanglah ust Ali ini sukanya negrjain… tapi kenapa yang dikerjain mau aja ya… hahaha…

    Reply
  4. author

    Ali Irfan5 years ago

    yang jelas bukan karena hipnotis lho ya…

    Reply

Leave a Reply to Bunda Cancel reply