Petualangan Nasywa

7 comments 243 views

Anita Triyastuti,

Rabu, 22 Januari 2014. Sepulang sekolah, seperti biasa Nasywa selalu menceritakan semua hal yang dialami di sekolah,

“Umi, tadi latihan soal matematika, Nasywa mendapat nilai seratus”,

“Kata ustadzah Syamsi besok Nasywa disuruh membawa beras 1 kg dan 2 mie buat baksos”,

“Tadi Nasywa main masak-masakan dengan putri”,

dan segudang cerita lainnya.

Kalau sudah mulai cerita, Nasywa  memang susah berhentinya, sama halnya jika dia penasaran pada hal baru, spontan tumpukan pertanyaan meluncur dari mulutnya seperti pistol sedang meletus dor,dor,dor. Yang menarik kejadian sepulang sekolah hari itu, setelah surat pemberitahuan sekolah tentang kegiatan mukhoyam  untuk  kelas IV dan V di cacaban  selesai dibacanya, langsung muncul pertanyaan :

”Umi ikut kemah?”

“Kemah apa ya?  Memang ada yang mau kemah mbak?, jawabku sederhana.

“Umi belum tahu, nih baca, kelas IV dan V akan kemah di cacaban, berarti umi ikut kemah dong, Umi kan guru kelas V,” kata Nasywa :

“Kalau Umi ikut kenapa mbak?” jawabku singkat

“Nasywa juga ikut kemah,” jawab Nasywa

“Lho, Nasywa kan masih kelas 1 SD, masih kecil kok ikut kemah, kalau nanti sakit bagaimana, sekarang kan sedang musim hujan, apalagi di Cacaban dingin,” balasku.

“Enggaklah, Nasywa maunya ikut kemah, Nasywa pasti baik-baik saja, Percaya deh sama Nasywa”.

Malam harinya keinginan ikut kemah semakin tinggi, hingga Nasywa pun  mempersiapkan semua perbekalan sendiri, mulai dari pakaian pramuka, pakaian tidur, pakaian bermain, handuk, shampoo, sabun, sikat gigi, sisir, bedak, sampai kaos dan celana dalam juga tidak ketinggalan. Semua perbekalannya dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Kemudian Nasywa berkata :

“Umi tidak tertib, belum siap-siap apa-apa, nih Nasywa sudah selesai siap-siap, Gantian Umi siap-siap, sekarang Nasywa mau tidur”.

Keesokan harinya, Nasywa bangun lebih awal dari biasanya dan langsung mandi, kelihatannya motivasi ikut kemah menjadi penyemangat bangun pagi itu.  Sampai berangkat sekolah pun saya belum mengiyakan Nasywa ikut kemah. Puncaknya waktu anak-anak kelas IV dan V berkumpul di halaman sekolah sebelum pemberangkatan ke Cacaban sekitar jam 1 siang, Sambil nangis , Nasywa bertanya, “Umi tas ransel Nasywa mana, Ayo diambil, Nasywa mau ikut kemah”.

Lama juga pertanyaan serupa berulang kali keluar dari mulutnya. Sampai akhirnya saya memutuskan pulang ke rumah dulu, berharap bisa menenangkan dan merayu supaya gadis kecilku tidak ikut kemah, yah, karena pertimbangan cuaca yang kurang bersahabat. Ternyata usahaku tidak membuahkan hasil, Karena waktu juga sudah mengharuskan saya berangkat ke Cacaban, akhirnya saya memutuskan mengajak gadis kecilku ini berangkat kemah. Di bawah rintikan air hujan, saya boncengkan Nasywa  dengan mengenakan jas hujan menuju lokasi kemah. Hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di lokasi kemah. di bumi perkemahan Cacaban.

Disinilah petualangan Nasywa dimulai. Sampai di lokasi, Nasywa langsung berkelana dari satu tenda ke tenda lainnya, walau hujan rintik membasahi jilbab dan jaket pinknya, tidak menyurutkan keinginannya untuk bereksploitasi semaksimal mungkin. Setiap kegiatan yang dilakukan peserta mukhoyam, ingin juga dia lakukan. Mulai dari upacara pembukaan Mukhoyam berlangsung, Nasywa ikut di dalamnya. Saya bertugas mendampingi anak-anak kelas IV dengan nama regu barung putih. Nasywa lebih banyak berinteraksi dengan regu ini. Setelah selesai upacara kami pun latihan yel-yel, begitu juga Nasywa. Sampai akhirnya dia hafal detail syair yel-yel barung putih berikut dengan gerakannya.

Nasywa memiliki kebiasaan tidur lebih awal supaya bangun pagi tidak kesusahan. Biasanya di rumah setelah sholat Isya, Nasywa sudah pergi tidur. Namun malam ini diluar kebiasaan. Hiruk pikuk anak-anak peserta Mukhoyam serasa melenakan Nasywa. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00, Nasywa belum juga mau tidur, masih asyik dengan kakak-kakak kelas bercerita dan berbagi satu sama lainnya, sampai akhirnya rasa capek yang memaksanya untuk tidur. Tidurnya pun tidak senyenyak biasanya.  Hampir setiap setengah jam Nasywa terbangun, namun karena tubuh kecilnya terasa capek, ia pun tertidur lagi, dan benar-benar bangun saat adzan subuh berkumandang. Seluruh peserta mukhoyam melaksanakan sholat subuh berjamaah dilanjutkan dengan rentetan kegiatan mulai dari membaca al matsurat, tilawah, mandi, diakhiri dengan sarapan.

Pukul menunjukkan jarum pendek diangka tujuh dan jarum panjang diangka 12. Itu artinya kegiatan yang dinanti-nanti yaitu mencari jejak akan segera dimulai. Semua peserta mukhoyam bersiap-siap, begitu juga dengan Nasywa. Seluruh peserta mukhoyam berkumpul. Kak Amir memberi pengarahan tentang pos-pos yang harus dilalui seluruh peserta mukhoyam. Disampaikan pula bahwa pada setiap pos ada tantangan yang harus dilalui peserta Mukhoyam. Nasywa pun semakin tertarik dan penasaran, dan memutuskan untuk ikut petualangan ini.  Selesai pengarahan dari kakak Pembina,  regu yang paling disiplin dipanggil lebih awal untuk memulai penjelajahan. Satu per satu regu sudah berangkat, sampai akhirnya regu barung putih dipanggil, Nasywa ijin untuk ikut bersama regu ini, rencana awal saya bertugas menjaga tenda berubah, karena Nasywa ikut penjelajahan ini, maka saya memutuskan untuk ikut juga penjelajahan, sekaligus mengamati barangkali ada peserta mukhoyam yang sakit dan tidak memungkinkan melanjutkan ke pos berikutnya. Jalan menuju pos 1 menanjak sangat tinggi, nafas terasa terengah-engah menuju ke pos 1. Hujan semakin terasa rintikannya, sehingga sewaktu kami sampai di pos 1, saya mencoba mengajak nasywa kembali ke tenda. Dengan lantang iapun menjawab “ Tidak mau, Nasywa ingin melanjutkan ke semua pos, sampai selesai”.

Pos 1 adalah pos KIM, selesai tugas kami laksanakan, maka rombongan barung putih melanjutkan ke pos 2, Nasywapun mengikuti regu ini. Perjalanan menuju pos 2 tidak begitu menantang, jalan yang dilewati cukup nyaman, tugas yang harus dilaksanakan di pos 2 tentang rambu-rambu lalu lintas, kamipun dapat melaksanakn tugas dengan baik. Dari pos 2 inilah petualangan semakin seru. Perjalanan menuju pos 3 kami harus melewati jalan yang menanjak dan berlumpur, kemudian turun tajam. Kata Nasywa  :

“Umi, kita seperti di hutan ya, yang terlihat hanya pohon-pohon tinggi dan semak belukar”, Nasywa terus semangat berjalan menyusuri jalan yang becek akibat guyuran air hujan, spontan sepatu Nasywapun berubah seperti sepatu baru, tapi sepatu baru ini tidak ada di toko sepatu  manapun, yaa, karena sepatu yang ia  kenakan sekarang berubah 180 derajat dengan kondisi sebelum petualangan dimulai, sekarang seluruh permukaan sepatu Nasywa nyaris tertutup lumpur, sepatu Nasywa sering lengket dengan jalan yang dilalui, ini membuat Nasywa kesusahan melanjutkan perjalanan.  Didepan ada jembatan kecil dengan 3 bambu diatasnya yang harus dilewati Nasywa, terlihat  Nasywa pun agak ragu dan ketakutan melewati jembatan bambu ini. Kata Nasywa, “Umi, ini gimana? Nasywa tidak bisa, sepatu Nasywa penuh dengan lumpur”. Selalu kata-kata penyemangat yang saya ucapkan :

“Nasywa pasti bisa, yang penting konsentrasi dan tetap hati-hati’.

Alhamdulillah, jembatan itupun dilaluinya.

“Yes, Aku bisa”, ucap Nasywa.

Akhirnya kami sampai pada pos ke3. Pos PBB, tugas yang harus diselesaikan tentang 10 gerakan dasar dalam PBB. Pada pos ini ada drum berisi air, Nasywa memanfaatkan air dalam drum untuk membersihkan sepatunya, walaupun tidak bersih sempurna, lumayan lah supaya sepatu tidak begitu terasa  berat. Perjalanan kami lanjutkan di pos 4, pos sandi morse dan di pos 5 pos hafalan doa keseharian. Perjalann kami lanjutkan menuju pos ke 6, Pada pos ini sangat menarik buat Nasywa.  Disana ada kak Amir dan kak Aries. Petualangan yang harus dilewati adalah merayap di bawah pembatas tali. Aturan main, anggota tubuh tidak boleh ada yang menyentuh tali pembatas  ini, sehingga mau tidak mau, tubuh harus ditempelkan ke tanah sambil jalan merayap menuju finish. Nasywa merayap di pos ini berulang kali, hampir setiap regu peserta mukhoam akan melaksanakan tugas ini, maka Nasywa dengan senang hati memberi contoh cara merayapnya.   Pos terakhir adalah pos paling berkesan bagi Nasywa. Wajar setelah selesai berulang kali merayap, seluruh pakaian dan jilbabnya menjadi sangat kotor.

Pos demi pos telah dilewati Nasywa dengan baik, Nasywa tidak merasa capek dan kecewa karena pakaian, jilbab dan sepatunya menjadi kotor, sebaliknya Ia merasa sangat senang dan bangga. Ini adalah petualangan pertama bagi  Nasywa. Sebuah petualangan yang super seru, super hebat dan  yang pasti merupakan petualangan yang tidak terlupakan.

“Umiii,  Petualangan Nasywa hebat kan ? “,

“Yaap, Sungguh Hebat dan Luar Biasa Nasywa !!!!!!!!!!!!!!!!”.

author
7 Responses
  1. author

    qie4 years ago

    yapp!! anak kelas 1A memang kelasnya anak hebat terutama Arunasywa Shofa Amnita.
    Nasywa LUARR BIASAAA!!

    Reply
  2. author

    Raafi Nur Adzani4 years ago

    Salut saya sama Nasywa 😀 😀 🙂 🙂

    Reply
  3. author

    alung4 years ago

    😀 😀 🙂 🙂

    Reply
  4. author

    Nazila4 years ago

    Nasywa hebat!!! (y)

    Reply
  5. author

    Al Faris4 years ago

    Hebat

    Reply
  6. author

    Ibna4 years ago

    keren! kelas 1 udah ikut kemah..
    kelas 6 sayangnya nggak kemah lg.. 🙁

    Reply
  7. author

    Mona4 years ago

    kaya enak bgt yah 😀

    Reply

Leave a reply "Petualangan Nasywa"