Cilok Isi Rambutan

3 comments 247 views

Oleh: Dwi Apriliyani

Hari ini Bagas nampak kurang bersemangat memperhatikan pelajaran IPS yang disampaikan oleh Bu Dewi. Sejak tadi ia tampak gelisah.Tangannya bergerak-gerak memainkan ujung bolpoint di atas meja. Sesekali  matanya melirik kearah wajah Bu Dewi yang tampak menggebu-gebu menyampaikan materi Globalisasi, akhir materi semester 2 dikelas 6. Entah kenapa dalam bayangan imajinasinya, wajah Bu Dewi berubah menjadi wajah mamanya. Huh! Kali ini lirikan mata Bagas Semakin tajam dan sinis.

“Bagas, orang berkomunikasi jadi lebih mudah dan cepat, karena sekarang hampir semua orang sudah memiliki Handphone. Hal tersebut merupakan dampak positif atu negatif dari globalisasi?” Pertanyaan Bu Dewi yang tiba-tiba  mengarah ke Bagas membuyarkan imajinasinya. Bagas terkejut bukan kepalang, ia jadi takut jangan-jangan Bu Dewi tau tatapan sinisnya. Yang ia dengar Bu Dewi hanya memanggil namanya saja. Bagas terlihat gugup dan salah tingkah.

“Dampak negatif atau positif Bagas?” Bu Dewi kembali menegaskan pertanyaannya dengan volume agak sedikit naik.

“E,eh dampak  lingkungan bu” jawab Bagas sekenanya.kontan saja seisi kelas tertawa semua. Bu Dewi geleng-geleng kepala mendengar jawaban Bagas.

“Bagas, Bu Dewi tidak sedang membahas dampak lingkungan, tapi dampak globalisasi. Kelihatan sekali dari tadi kamu melamun meski memperhatikan ke depan. Apa yang kamu pikirkan? Semoga saja kamu berfikir mendapat nilai seratus setelah nanti ibu kasih tugas”

 Kata-kata Bu Dewi agak melegakan hati Bagas,setidaknya ia tidak kena marah.Bu Dewi  memang salah satu guru faforitnya.Meski sangat tegas,tapi  disela mengajarnya selalu diselingi humor,membuat suasana kelas jadi rileks dan tidak tegang.Tapi Bagas memang langganan ditegur oleh Bu Dewi,bahkan mungkin oleh semua guru.Dari tingkahnya yang aneh-aneh  ketika guru menyampaikan pelajaran sampai ulahnya yang lumayan jail sama teman-teman sekelasnya.

Termasuk saat ini.Pikirannya mengembara merekam kejadian tadi pagi waktu mau berangkat kesekolah .Entah kenapa bayang-bayang raut mamanya terlihat menempel di wajah Bu Dewi.Bagas memang pernah bilang sama Bu Dewi,mamanya “galak” mirip Bu Dewi,bedanya Bu Dewi suka melucu,kalo mamanya angker banget,ga ada senyumnya sama sekali.

“Hush,dosa lho, Gas, ngatain mama sendiri angker, emang  kuburan. Tau nggak,sebenarnya mama kamu tidak bermaksud galak, mama kamu sayang kok sama kamu.Cuma kamu saja yang salah tangkep”

“Bu Dewi nggak tau sih gimana mama. Sedikit saja salah, geledeknya nyamber kemana-mana”

 “Hah?Geledek? istighfar kamu Gas, masa mama kamu disamain lagi sama yang aneh-aneh gitu sih”

“He he he, maksudku suara mama ku, kencengnya sama”

“Bu Dewi tau gimana caranya bikin mama kamu keep smile”

“kayak cesar  aja Bu Dewi”

“Bener, tapi bukan nyuruh kamu goyang-goyang lho. Caranya buat hati mama kamu senang ,misalnya kasih kado yang isinya hasil nilai terbaik kamu, atau..pasang alarm tepat jam waktu bangun subuh, jadi mama kamu tidak perlu repot-repot bangunin solat subuh kamu. Dijamin deh mama kamu kaget dan bangga kalo kamu ternyata pantas dibanggakan”

Yah, entahlah.Sepertinya nasehat Bu Dewi agak susah buat Bagas lakukan. Buktinya “Perang” dengan mamanya tadi pagi masih saja terekam di pelupuk matanya.

“Lihat tuh kakakmu Riza, nurut sama mama. Makanya nggak heran kalo kakakmu itu bisa masuk perguruan tinggi yang mutunya bagus. Dari SD sampai SMA selalu rengking Satu.Nggak kayak kamu yang susah diatur. Masa mau berangkat sekolah aja harus selalu dibangunin sih, lihat tuh sudah jam berapa, kamu terlambat tau. Mulai hari ini mama nggak akan kasih uang jajan kamu” Mama bagas menarik selimut yang menutupi seluruh badan bagas dengan keras. Hampir saja tubuh Bagas jatuh dari tempat tidur, ups.untung Cuma nyangkut di tepi tempat tidur. Pyuhhff  Bagas mendongak sambil melotot kea rah mamanya sembari berteriak

 “Bagas nggak mau sekolllaaahhh!!!!!”

“Lihat saja, nggak sekolah, sekarang juga mama pindahin kamu ke SD lain. Heran mama, kenapa sih kamu masih saja kayak anak TK, apa kamu nggak malu sama adik kamu. Ayo cepat bangun!!”  Kali ini sapu lantai sudah ada digenggaman tangan mamanya.Bagas buru-buru melompat dari tepi tempat tidur, takut kalo mamanya benar-benar akan memukulnya pakai sapu.

 Hari ini ,hari yang benar-benar tidak membuat hati bagas senang.Selain karena Bagas paling sebal selalu dibeda-bedakan dengan kakak dan adiknya,mamanya juga benar-benar tidak memberinya uang jajan.Bagas merasa penderitaan  bertubi-tubi menimpa dirinya.Tak heran hilang konsentrasi untuk memperhatikan pelajaran IPS dari Bu Dewi, di jam pertama lagi,yang sepertinya masih hangat peristiwa “perang” dengan mamanya untuk diingat.

Meskipun tadi Bagas sudah ditegur sama Bu Dewi karena bermain-main dengan imajinasinya yang agak nyleneh,rupanya bermain dengan imajinasi  lebih menyenangkan untuk sekedar melupakan sakit hatinya karena “serangan” dari mamanya.

Bagas mulai menyobek kertas, melipatnya menjadi pesawat terbang.Di sisi kanan-kiri sayapnya di gambari bulatan-bulatan mirip bola tapi masih kurang sempurna bulatannya. Secepat kilat diterbangkannya pesawat dari kertas itu kesembarang arah.Dan TUING!! Pesawat kertas itu tepat mengenai wajah Bu Dewi.Spontan Bu Dewi berhenti  menyampaikan materi pelajaran.Bu Dewi menebarkan pandangan ke seisi kelas.Anak-anak saling menoleh merasa penasaran dari mana arah datangnya pesawat yang tak diundang itu.Sementara Bagas agak cemas kalo ulahnya bakal ketahuan.

“Ini pekerjaan siapa ya?” dengan santai Bu Dewi mulai memecah suasana hening kelas 6.

“Bagas Bu” Jawab Hani yang memang duduk persis di belakang kursi Bagas. Sementara Bagas terlihat menunduk sambil cengar-cengir.

“Bu Dewi sarankan,anak kelas 6 tidak membuat hasil karya seperti anak TK.Kalian lihat pesawat kertas ini?”

“Ya,Buuuu” jawab anak-anak kompak

“Ini kan buatan anak-anak TK. Masa sih anak kelas 6 membuat hasil karya anak-anak TK.nggak canggih banget.kalian tau, anak-anak di Jepang sudah sudah bisa bikin robot pesawat terbang mainan, dan bahannya tentu saja  bukan dari kertas. Anak-anak Indonesia jangan kalah, dong dengan anak-anak di Jepang. Makanya kalian harus kreatif, ciptakan penemuan baru yang belum pernah dibuat oleh orang lain. Selama ini Negara kita hanya sebagai pemakai produk dari Negara lain, belum bisa membuatnya sendiri. Bu Dewi harap kalian sebagai generasi penerus ,nantinya bisa menjadi penemu-penemu hebat yang tentu saja akan bisa membuat maju Negara sendiri. Apalagi di jaman atau era globalisasi ini, Negara kita harus bisa bersaing dengan Negara-negara lain, khususnya di bidang teknologi. Siapa tau 20 tahun yang akan datang, karena jumlah penduduk semakin banyak, orang tidak bisa membangun perumahan di darat karena lahan sudah menyempit. Orang akan memilih tinggal di udara,dengan cara membuat rumah anti  gravitasi alias rumah melayang, Bu dewi  yakin kalau kalian kreatif, insya Allah kalian-kalianlah yang bisa jadi penemu rumah melayang” Bu Dewi menjelaskan panjang lebar dengan memberi beberapa motivasi kepada anak-anak.

“Jangan bu, kalo rumahnya  melayang, BAB nya buangnya dimana bu?” Ulil merespon dengan mimik serius. Sementara anak-anak yang lain tertawa riuh mendengar celetukan ulil.

“Nah, kalo yang itu tugas kamu Lil, memikirkan cara pembuangannya” Jawab  Bu Dewi memberi tantangan Ulil untuk berfikir. Anak-anak kembali tertawa riuh

“Sebenarnya, imajinasi Bagas agak kreatif juga. Menberi motif bulatan-bulatan pada sayap pesawat. Sayangnya  bulatannya ada di sayap pesawat kertas. Coba Gas, kamu  alihkan imajinasi bulatan-bulatan ini menjadi makanan” Bu Dewi member ide. Bagas Cuma senyum tapi masih belum ngeh apa yang Bu Dewi maksud.

“Makanan apa Bu?? Tanya beberapa anak penasaran

“Cilok” jawab Bu Dewi pendek

“Yaaahh..itu sih bukan inovasi Bu” Protes Hani bersemangat

“Yang ini ciloknya lain daripada yang lain.kebanyakan cilok nggak ada isinya,atau ada juga yang isi daging apa  telur, nah yang ini cilok isi rambutan “ gerrrrrr anak-anak kembali tertawa

“Emang bisa bu??” Tanya ulil lagi masih disela-sela tertawanya

“Tidak ada yang tidak bisa. Allah memberi otak kita dengan sempurna, itulah kenapa kita disuruh untuk selalu berfikir kreatif agar kita bisa maju. Kalo kalian sering baca atau lihat berita di media, banyak mahasiswa yang berprofesi menjadi pebisnis kuliner atau makanan. Mereka menciptakan ide-ide untuk membuat bahan makanan yang belum ada. Contohnya keripik buah. Siapa yang pernah membeli atau makan keripik buah?”

“Iya bu, iya..aku pernah beli bu, waktu jalan-jalan ke Yogyakarta sama mama . Enak juga rasanya,waktu itu aku beli yang rasa apel sama nangka. Tapi mahal bu..” Kali ini Bagas ikut merespon

“Tau nggak kalau keripik buah itu hasil inovasi seorang mahasiswa. Harganya mahal karena memang unik, selain itu proses pengolahannya menggunakan mesin berteknologi tinggi. Sekarang mahasiswa itu jadi orang sukses karena  mendapatkan hasil dari kerja kerasnya membuat inovasi makanan. Jadi  sangat mungkin kalau kamu bisa menciptakan makanan cilok dengan isi buah rambutan, Bu Dewi yakin orang akan penasaran kamu bisa jadi kaya kalau banyak orang yang membeli.Bu Dewi janji deh ,Bu Dewi orang pertama yang akan membeli cilok isi rambutan kamu”.

Setidaknya Bagas telah mendapatkan transferan energi positif dari Bu Dewi.Mudah-mudahan  bisa sedikit memompa semangat Bagas agar ada setitik kesadaran untuk bisa memahami  tentang  siapa dirinya. Bahwa siapapun bisa melakukan sesuatu yang berguna, termasuk dirinya.

Selama ini Bagas terlanjur mendapat label yang kurang baik entah itu dari mamanya sendiri, beberapa guru, dan teman-temannya. Dari yang menyebutnya anak malas, tidak bisa diatur, seenaknya sendiri dan super jahil. Namun bagi Bu Dewi, apa yang selama ini disangkakan kepada bagas atas sikapnya selama ini, semata–mata bukanlah kesalahannya. Bagas hanyalah sebuah korban dari lingkungannya yang membentuknya  menjadi seperti itu.

Sebagai guru kelasnya, Bu Dewi tau betul  apa yang  sebenarnya terjadi pada Bagas.Berulangkali  Bu Dewi sampaikan, bahkan berusaha untuk menerjemahkan apa yang sebenarnya  Bagas rasakan kepada mamanya. Segala sikap bagas sebenarnya adalah simbol-simbol perasaan yang tak mampu tersampaikan secara verbal oleh anak-anak seusianya.Dan Bu dewi berusaha untuk memahaminya.

“Saya sudah pusing Bu, menghadapi sikap Bagas. Beda sekali dengan Kakaknya. Saya ingin Bagas seperti kakaknya, penurut, prestasinya bagus dan tidak macam-macam. Saya benar-benar menyerah, saya nggak sanggup  lagi menghadapinya. Saya pasrah kalaupun  Bagas tidak lulus biarlah nanti akan saya masukan dia ke pesantren”

“Bu, ucapan itu doa lho, motivator yang terbaik adalah orang tua sendiri. Beri semangat terus kalo Bagas  bisa melakukannya”

“Bu..Bu..sudah berbusa-busa saya mengingatkan, tapi tetap saja seperti itu. Dasar anaknya  nggak bisa dibilangin”

“he..he..he…kita perlu milyaran kali untuk selalu mengingatkannya. Tapi mungkin bahasa ketika kita menyampaikan ke anak harus dirubah menjadi kata-kata yang positif, tidak menyalahkan atau selalu menghakimi. Sebagai orangtua kadang kita juga butuh pujian, apalagi dengan anak-anak kita. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan anak sesekali boleh kita puji,agar anak merasa dihargai dan akan membuat mereka mengulanginya”

“Apa mungkin saya yang tidak sabaran ya Bu. Susah memang mendidik anak. Tapi,kenapa kakaknya tidak seperti itu ya. Justru tanpa saya suruh dia malah tau sendiri apa yang seharusnya  dilakukan”

“Benar Bu, mendidik anak tidak mudah,yah… namanya juga ujian dari Allah, mungkin agar kita lebih bisa bersabar dan bersabar. Setiap anak dilahirkan dengan karakter yang berbeda, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk bisa sama. Kita sebagai istri saja marah lho kalo harus dibeda-bedakan dengan istri tetangga oleh suami kita. Anak kita juga bu,tidak akan suka”

“He he he bu Dewi bisa aja..”

“Ya Bu,perasaan kita nggak bisa bohong.Sebenarnya Bagas anak yang cerdas.Tidak selalu dia mendapat nilai jelek.kalo moodnya bagus,perasaannya lagi enak,bisa kok dia konsentrasi dan aktif mengikuti pelajaran.jadi sebenarnya Bagas butuh lebih banyak perhatian dari orang-orang disekitarnya.Tidak selalu dengan materi,dengan ucapan-ucapan yang positif  dan penghargaan lewat pujian insyaAllah bisa menggugah  semangatnya, untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih baik lagi”

Mama Bagas terdiam sejenak.Berusaha memflashback apa yang selama ini ia lakukan dalam mendidik bagas. Mamanya memang berlebih dalam memberikan materi, segala keinginan Bagas selalu ia penuhi. Mungkin itu yang membentuk karakter Bagas menjadi  anak yang selalu ingin mendapatkan sesuatu dengan mudah, tanpa mau bersusah payah. Maka tugas-tugas  dan peraturan yang diberikan di rumah maupun  sekolah dianggapnya suatu beban yang menyusahkan buatnya.

Mama Bagas pikir dengan memberikan apa yang Bagas minta adalah kompensasi dari rasa bersalahnya, karena selama ini ia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sedikit sekali waktu luang untuk mencurahkan kasih sayang dengan menemaninya belajar atau sekedar bertanya tentang aktivitasnya di sekolah. Sejak ayah Bagas meninggal beberapa tahun yang lalu, mama Bagaslah yang mengambil peran sebagai kepala rumah tangga.

Bagas sudah kehilangan sosok ayah, yang seharusnya menjadi pelindung. Kerinduan pada ayahnya dan kurangnya kasih sayang dari mamanyalah yang mungkin ia refleksikan dengan sikapnya yang seolah-olah ingin mencari perhatian dari orang-orang  disekitarnya.

“Semua butuh proses, Bu, tidak serta merta bagas berubah. Yang terpenting  sebagai orang tua kita selau mendoakan anak-anak kita agar mereka menjadi anak-anak yang bisa kita harapkan, tidak putus asa untuk selalu memberinya motivasi  dan berpikir positif kalo sebenarnya Bagas bisa melakukan yang lebih baik lagi”. Ucapan Bu Dewi memecah fikiran mama Bagas.

“Ya,Bu,terimakasih atas masukan Bu Dewi. Mudah-mudahan saya bisa menjadi orangtua yang bijaksana dan lebih bersabar lagi menghadapi Bagas”

“Sama-sama, Bu.Mendidik anak adalah tugas kita bersama, bukan hanya tugas sekolah. Mudah-mudahan kita bisa bekerja sama dengan baik”

***

author
3 Responses
  1. author

    atha5 years ago

    gambare luqman tok tptulisane dawwwa..

    Reply
  2. author

    fito4 years ago

    test…

    Reply
  3. author

    Sensored4 years ago

    MANA CILOK DAN RAMBUTANNYA????????????????

    Reply

Leave a reply "Cilok Isi Rambutan"