Gigi Wibi

2 comments 190 views
Gigi Wibi,5 / 5 ( 1votes )

Oleh    : Ust. Daiman

Nada dering sms handphoneku berbunyi, kubaca sms dari salah satu wali murid,

“Assalam‘alaikum…. maf pak ustadz, wibi giginya ada yang goyang, tapi saya ajak ke dokter gigi tidak mau, maf barang kali dibujuk pak Ustadz dia mau. Maf sebelumnya ngrepoti.”

Bel tanda masuk berbunyi, anak – anak baris di depan kelas sebelum mereka masuk kelas. Suara lantang  Yovanda sang ketua kelas membuat teman-temannya diam.

Siaaaaap grak, lencang  depaaaaan  grak,  dan  seterusnya.

Setelah  doa masuk  kelas dibaca, Yovanda memilih barisan yang paling rapi dan tertib untuk masuk kelas terlebih dahulu. Yap…. Seluruhnya sudah masuk kelas, saya paling akhir masuknya.

“Ustadz… jangan masuk kelas, karena tidak baris” ledek beberapa anak perempuan .

“Oke ustadz balik lagi ke kantor. “ jawabku dengan senyum.

“eeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….. jangan,” mereka menarik – narik tangan ku.

“Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…” sapaku di awal pelajaran.

Waalaikumussalam ….. jawab anak – anak serempak.

“Bagaimana kabarnya hari ini anak – anak ?”

“Al hamdulillah, luar biasa, Allahu akbar” jawab mereka penuh semangat.

Hari ini jam pertama adalah pelajaran IPA, setelah saya intermezo dengan pertanyaan – pertanyaan pelajaran  IPA pekan kemarin, ada seorang muridku yang nyletuk, Us….. gigiku goyang. Layaknya seorang dokter ku amati  gigi yang goyang, dan ku sarankan agar segera di cabut.

Sepertinya kaget dengan keputusanku itu, mungkin ia takut membayangkan kalau cabut gigi itu memakai tang yang untuk  mencabut paku. Hiiiiiiiiii……. ngeriiiii…..

Klo ga di cabut nanti tumbuhnya jelek loh mas… tumbuhnya bisa kaya pohon yang disemak – semak tak beraturan alias semrawut . Gimana……???? kalau kamu mau….. nanti ustadz antar ke Dokter gigi .

Setengah ragu dia mau mengiyakan ajakanku. Setelah saya merampungkan tugas mengajar, ku ajak dia ke PUSKESMAS. Sejurus kemudian kukenakan jaket, dan kuajak  Wibi yang sudah mulai berkaca – kaca matanya. Aku tidak tahu ia mau nangis ketakutan karena mau dicabut giginya, atau ia senang karena diantar ustadznya. Kayanya sih seneng kali ya….. hehehehe…..

Sesampainya di Puskesmas,  saya langsung menuju loket pendaftaran, petugas pendaftaran langsung menyapa. Eeeeeeee……. Pak  Dai, siapa pak yang sakit ??

“Ini anak, Bu, mau cabut gigi” jawabku singkat.

Petugas pendaftaran kaget melihat anak yang saya bawa, karena beliau tahu kalau anak saya yang paling kecil itu tinggi ,  cakep dan ganteng. Hehehe…..

“Ini anaknya pak Dai ?”tanyanya.

“Iya bu….. ini anak didik saya.” Jawabku.

Ha………. Anak didik? Beberapa orang yang mau ngantri  mendaftar  kaget campur heran, ko…. bisa yah ….!  ada guru sampai mau nganter anak didiknya ke puskesmas?.

“Ponakannya ya pak…..?” tanya salah satu ibu – ibu.

“Bukan, Bu ini murid saya,  dia tidak mau di ajak ke dokter gigi sama orang tuanya, tapi setelah saya  yang mengajak dia mau.” Jawabku.

“oooooooooooo…… bisa gitu yah…..”ibu – ibu itu keheranan.

Hehehehe……. Siapa dulu yang ngrayu…. UD   gitu loh……

Di ruang tunggu pendaftaran dan loket pengambilan obat rame membicarakan guru yang aneh ini, yang mungkin selama ini anak – anak mereka  atau mereka sendiri belum pernah merasakan kedekatan seorang guru, dan barang kali  guru – guru anak mereka cuek dan masa bodoh. Selama ini yang mereka tahu adalah guru hanya mengajar, ngoreksi  ulangan, memberi PR, atau menghukum anak yang bandel,  dan  menyuruh anak duduk rapi. Ku tinggalkan mereka, mencari tempat lain yang dekat dengan klinik gigi. Biarlah mereka berdiskusi tentang saya.

Satu – persatu pasien dipanggil.

“ Wibisono…., Wibisono…..”

“Ya, Bu” jawabku.

Saya antar muridku ini masuk keruang periksa, betapa kaget sang dokter ketika melihat saya.

“Loh ko Ustadz ?” keheranan,  “ini siapanya ustadz?,  Ko bukan orang tuanya yang nganter?” tanya sang Dokter yang kebetulan adalah wali murid di tempatku mengajar.

“Ini murid saya, Bu, kelas 3C dan  ayahnya sedang berlayar, kebetulan tadi ketika saya masuk kelas dia menunjukan gigi yang goyang, lalu kutawarkan untuk dicabut dan dia mau asal saya yang nganter .” jawabku.

“Oooooo… seneng ya mas diantar ustadznya?”  Tanya dokter kepada Wibi.

Wibi hanya menjawab dengan senyuman. Mungkin di hatinya dia  mengatakan        “ Ya……. Gitu deeeeeeh.”

Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa itu sudah keluar jauh  dari tugas  seorang guru, itu memang benar. Tetapi jika kita ingat barang siapa yang mau membantu urusan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mempermudah urusannya.

***

author
2 Responses
  1. author

    al husna4 years ago

    luar biasa ustadz,.
    pengalaman-pengalaman ustadz dengan anak2 selama ini memang sangat menginspirasi,.
    peran guru tidak hanya di sekolah atau di dalam kelas saja,.
    kedekatan yang seperti inilah yang memang dinamakan peran guru yang sebenarnya,.

    Reply
  2. author

    bagus 6c4 years ago

    sayanggggggggggggg ustad ?

    Reply

Leave a reply "Gigi Wibi"