Merebut Singgasana

9 comments 208 views

Oleh Ali Irfan

Jika boleh memilih program spesialis keguruan saya akan memilih program spesialis guru kanan. Lho kenapa tidak, karena hanya dengan menjadi guru kananlah kita dengan mudah memahami karakter anak  yang sebenarnya. Guru kanan selalu menyelipkan game-game atau permainan di setiap kelasnya. Dalam permainan ini akan terlihat anak yang benar-benar sportif, jujur, berani mengambil keputusan, berani bertindak, dll.

Sebagai guru kanan, tentu saya tidak pernah menginginkan berada dalam kondisi dimana guru menerangkan, siswa jumpalitan nggak karuan. Fisiknya sih di kelas, tapi ruhnya mengembara kemana-mana. Antara guru dan siswa harus senada sekaligus selaras. Jika guru menerangkan, ya seharusnya siswa menyimak dengan antusias dan rasa ingin tahu yang tinggi. Bagaimana caranya agar bisa seperti ini, ya, bisa-bisanya guru saja mencari siasat menyenangkan yang menggugah rasa ingin tahu. Sudah bukan zamannya guru menulis pelajaran yang sifatnya pengetahuan di papan tulis kemudian siswa mencatat. Inilah saat dimana para guru lebih mengedepankan agar siswa benar-benar punya skill, kemampuan, yang bisa dipraktekkan.

Tanpa perlu dibayangkan pun, komunikasi yang berlangsung hanya satu, dari yang seharusnya dua arah. tentu sangat tidak menyenangkan. Sesekali selipkanlah cara mengajar kita dengan permainan. Belajar sambil bermain, atau bermain sambil belajar, jika keduanya dipadukan akan memberikan efek menyenangkan sekaligus cepat pintar. Permainan juga tak asal permainan, karena sejatinya dibalik setiap permainan pasti ada nilai yang sangat berdampak bagi anak-anak.

Setelah sukses dengan permainan hipnosys yang dipraktekkan di kelas-kelas, kali ini saya mempraktekkan ilmu baru yakni permainan merebut singgasana. Permainan ini sebenarnya sederhana, yang dibutuhkan hanya kursi kelas yang disusun melingkar di dalam kelas. Pastikan meja-meja kelas sudah dipinggirkan, karena dalam permainan ini alat yang dibutuhkan hanya kursi, dan tentunya materi pembelajaran.

Cara memainkan permainan ini adalah setiap peserta duduk di kursi masing-masing, dan menjelaskan pola permaianan. Jika tepuk sekali, maka sang instruktur memeragakan gerakan tertentu, kemudian peserta lain mengikutinya. Gerakan ini bebas, tak terbatas, sesuai dengan kreativitas anak-anak. Bisa gerakan seperti model profesional, gerakan seperti superman, gerakan jongkok, tangan sedakep, dll.

Saat instruktur melakukan tepuk dua kali, maka peserta melakukan gerakan mendekat satu langkah menuju instruktur. Tepuk tangan tiga kali, peserta segera mencari kursi kemudian mendudukinya. Disinilah instuktur memainkan peran “mata-mata”nya, dengan cara menempati salah satu kursi yang ada. Keseruan mulai muncul karena anak-anak pasti sibuk mencari kursi yang sekiranya bisa ditempati.

Cara permainan ini sudah saya praktekkan di kelas 4 dan juga kelas 5, dan efeknya malah minta lagi, mungkin karena permainan ini melibatkan peran semua indera, kejelian dalam mendengar suara tepuk beserta maknanya, kegesitan dalam merebut kursi, dan juga kekuatan fisik.

Biar tidak lepas dari peran belajar, di sela-sela waktu ketika anak berdiri tidak dapat kursi, bisa disisipi dengan pelajaran, seperti misalnya mengasah kemampuan speaking, membedakan antara this dan that dalam sebuah kalimat. “That is a clock” kemudian peserta lain menerjemahkan artinya “Itu jam dinding.”

Ternyata setelah permainan berlangsung anak-anak semakin kreatif dalam memeragakan gerakan. Aldi anak kelas IV B secara tak diduga  setelah tepuk tangan sekali ia memeragakan gerakan tiduran dengan posisi santai. Ini menjadi siasat cerdas karena pasti akan merepotkan peserta lain saat merebut kursi. Begitu tepuk tangan dua kali, para peserta dengan susah payah mendekat ke arahnya, sementara ia sudah berdiri. Tepuk tangan dua kali, peserta kembali mendekat dengan susah payah. Giliran tepuk tangan ketiga, segera masing-masing peserta sibuk mencari kursi yang bisa ia tempati.

Fahmi yang punya badan gendut tidak bisa leluasa bergerak menjadi korban, sehingga ia menjadi satu-satunya anak yang tak dapat kursi. Saya yang saat itu menjadi bagian dalam permainan itu sampai tertawa tak tertahankan. Demikian pula dengan anak-anak yang ternyata sangat menikmati permainan ini. Permainan ini diakhiri dengan break 1, break 2, break 3, break 4, dan break 5 yang sudah dihafal anak-anak! Semangat mencoba!

Ali Irfan, Penulis Buku B’right Teacher : Panduan Jitu Jadi Guru Bermutu

author
9 Responses
  1. author

    Araf Hakim4 years ago

    Saya telah melihat langsung bagaimana Mas Ali Irfan mengajar dengan meramu game perebutan singgasana ini dengan materi ajar dengan sangat apik, hidup, dan melibatkan semua siswa. Belajar lebih menyenangkan. Top!

    Reply
  2. author

    Nazila4 years ago

    Oh, game ini. Seru banget, sampai Anim dan Ardi tarik²an rebutan kursi. Wkwkwk :v

    Reply
  3. author

    Alfath Muhammad Azmi4 years ago

    Lahh y aku belom pernah ngarasin game ini , yg lain keals 5a udh, soalnya aku Seleksi Popda , Pengen Ngerasaain deh 😀 hehehe

    Reply
  4. author

    Ayasy Abdurrahman4 years ago

    waa daengg ngaya

    Reply
  5. author

    MUJAHIDIN4 years ago

    DAENG GAYA NEMEN JAWANE SOK HEBAT

    Reply
  6. author

    bagus 6c4 years ago

    daeng narsis nemen

    Reply
  7. author

    bagus 6c4 years ago

    daeng nggaya nemen

    Reply
  8. author

    humam 6c4 years ago

    daeng kaya sombong nemen,sok hebat!
    sebenernya,gamenya usdatz ali seru juga sih!

    Reply
  9. author

    Mona Zulfa 6a4 years ago

    pengen main lg ustad…!!

    Reply

Leave a reply "Merebut Singgasana"