Sendiri Lagi

9 comments 219 views

Karya : Raisha Sovia Mawarni

Kelas 6B MI Luqman Al Hakim

Aku sudah pulang sekolah! Senangnya hatiku karena akan bertemu Ayah dan Bunda! Sepanjang jalan pulang, aku senyum membayangkan pelukan dan ciuman dari orang tuaku. Itu pagar rumahku.Warnanya merah hitam. Rumahku gagah berdiri tegap. Segera aku buka pagarnya.

Ngeekk.. Bunyi suara pagar. Aku melihat garasi mobil. Tak ada mobil ayah. Ah…. mungkin mobil sedang diperbaiki.

“Ayah dan Bunda pasti sudang menungguku” hatiku berbicara.

Sampainya di depan pintu rumah, aku bingung tak melihat sandal milik Ayah dan Ibu. Mungkin sedang dicuci. Aku berfikir positif.

“Assalamualaikum… Ayah Bunda“ Ucapku.

“…” hening. Tak ada suara selain suaraku.

“Ayaah… Bunda… Aku sudah pulang!“ Ucapku lagi .

Tetap saja hening. Aku diam dan bingung. Oke, aku menuju dapur.

Hanya ada Bibi di dapur sedang memasak.

“Bi, Ayah dan Bunda mana?“ Tanyaku heran.

“Ayah dan Bunda pergi keluar kota, ada keperluan yang harus diselesaikan. Pulang nanti malam jam 12 an” Bibi menjawab.

Aku tersentak kaget. Ayah dan Bunda sudah janji bahwa hari ini akan ada untukku. Jarang, bahkan sangat jarang aku bersama orang tuaku. Apa Ayah dan Bunda bohong? Atau mereka berdua lebih mementingkan pekerjaan? Atau alasan yang lain?

Aku jalan perlahan menuju kamarku. Aku tertunduk lesu.

Aku membuka pintu kamarku. Cat tembok kamarku berwarna merah. Ya, aku menyukai merah. Aku menyukai kamar ku ini. Tapi aku tidak menyukai keadaan ini.

Aku duduk di tempat tidurku.

“Ayah, Bunda. Mereka kemana? Ya Allah, Aku butuh mereka. Butuh belaian sayang dari mereka. Aku tak butuh fasilitas yang mewah dari mereka. Aku tak butuh gadget yang mewah, tak perlu uang yang banyak, tak perlu baju yang bagus, tak perlu makanan yang enak. Aku tak perlu itu. Aku hanya perlu perhatian dari mereka. Dari orang tuaku sendiri.” Benak ku kembali bersuara. Tak terasa air mata ini tumpah dari mataku, dan membasahi pipiku. Aku mengusapnya. Aku mengambil foto ayah dan ibu. Air mata ini jatuh di foto itu. Segera kuusap lagi.

Kini aku sendiri… Sendiri… dan Sendiri lagi.

Hooaamm. Sudah sore! Aku terbangun dari tidur ku. Perutku bunyi. Aku segera menuju dapur untuk makan.

Makanan sudah tersedia di meja makan.

“Bibi tak makan?“ Tanyaku dengan mata lebam bekas menangis tadi.

“Sudah Non, bibi sudah makan. Tadi pas Non tidur, bibi makan. Bibi sebenarnya mau menawarkan kepada Non. Tapi Non tertidur pulas dengan pipi basah” Terang Bibi

“Pipi basah? Aku belum mengusap nya?“ Aku heran

“Maksud Non apa?“ Bibi heran dengan itu. Karna bibi tak tau aku habis menangis.

“Eh ! Oh ! Hm ! Nghh ! Tidak, Bi, sudah..aku mau makan. Bibi mau makan lagi?“ Aku gugup karna aku tak mau ada orang yang tau bahwa aku menangis.

“Ah, tidak, Non“ Bibi tersenyum.

Lalu aku makan. Setelah makan aku sholat Ashar.

Kewajiban ku sudah aku lakukan. Aku ingin mengajak Ayah dan Bunda jalan jalan sore. Ups! Ayah? Bunda? Mereka kan …

Sedang pergi. Ingatlah, aku sendiri di sini.

Aku masuk kamar. Handphoneku berbunyi. Ada telfon! dari siapa? Semoga itu dari Bunda atau Ayah! tapi .. Nomer yang masuk tak ada nama nya! Artinya nomer itu tidak aku kenal.

“Assalamualaikum. Halo? Ini siapa?“ Aku bicara

“Waalaikum salam. ”Terdengar suara seorang perempuan yang sama sekali tidak aku kenal.” Kau tak boleh menangis. Kau harus kuat. Tak boleh mengeluh. Aku perhatian padamu. Aku tak mau kau menangis setiap hari. Aku ingin kau tersenyum setiap waktu walau kamu sendiri, tanpa orang tuamu. Aku tau kau sayang pada mereka. Aku tau kau butuh mereka. Tapi, mungkin orang tuamu salah. Mereka salah tak bisa mengerti kamu. Kamu tak sendiri, masih ada aku yang sayang dan peduli padamu”

Belum aku berbicara, telfon nya mati.

Tuut…Tuutt..Tuutt..

Siapa dia? Mengapa dia tau aku menangis setiap hari karena orang tuaku pergi? Mengapa dia peduli dan sayang pada ku? Apakah aku pernah kenal dia? Atau dia kenal aku? Mengapa aku tak boleh menangis? Dia ingin aku tersenyum?

Hah? Sebenar nya dia siapa ?

Malam hari sudah tiba. Jam menunjukan pukul 19.00 atau jam tujuh malam. Aku masih belajar. Biasanya aku belajar sampai pukul delapan malam.

Tik Tok Tik Tok Tik Tok…Jam berdenting terus menerus.Tak terasa sudah jam delapan malam.

Aku mengantuk… Sebelum aku tidur aku menulis sesuatu di diary ku. Isi nya tentang tangisan ku itu …

Aku pun tidur. ZzZzZzZzZzZzZz

Pagi… Ini hari minggu! 2 orang yang aku pikirkan. Ayah! Bunda! Pasti mereka sudah pulang … Aaaa senang nya aku!

Di ruang keluarga…

Benar saja! Ada mereka berdua .

“Ayah? Bunda? “Aku memeluk mereka berdua.

“Sayangg … “ Ucap Bunda

“Ada apa, Bun?” Tanya ku.

“Diary ini? “ Bunda menunjukkan diaryku!

“Hah? Bunda dan Ayah membacanya?“ Aku kaget!

Ayah mengangguk.

“Maaf kan bunda sayang, Bunda tak bermaksdu meninggalkanmu sendiri. Bunda hanya menemani ayah. Ayah sakit saat akan berangkat ke luar kota. Kami sayang padamu, Nak“ Bunda memelukku dengan menangis.

“Bunda? Bunda…Maaf kan aku” Aku juga menangis.

“Tidak, Nak, seharus nya kami yang meminta maaf padamu karena kami memang salah” Ujar Ayah.

“Ayah..”Aku memeluk ayah.

Semenjak kejadian itu Ayah dan Bunda mengerti aku. Senang nya aku.

Lalu? Siapa penelfon misterius itu???

***

author
9 Responses
  1. author

    Muhammad Naufal4 years ago

    Keren…

    Reply
  2. author

    Raisha Sovia Mawarni4 years ago

    helehh -_- di post juga ? 😀

    Reply
  3. author

    Muhammad Naufal4 years ago

    begitu

    Reply
  4. author
    Author

    admin4 years ago

    Ayo anak-anakku, kalian pasti bisa berkarya seperti mba Icha ini. Kirim cerita/puisi/foto kamu ke mi.luqmanhakim@gmail.com atau ke arafhakim@gmail.com
    Ditunggu ya…

    Reply
  5. author

    Ghina Hananti4 years ago

    WOW :v

    MSZ~

    Reply
  6. author

    Ekyasa Mahardika4 years ago

    kasihan bangetzzzz ih

    Reply
  7. author

    Rafi Gm4 years ago

    maaf dik

    Reply
  8. author

    Raisha Sovia Mawarni4 years ago

    hahaha 😀

    Reply

Leave a reply "Sendiri Lagi"