Spirit of Change

2 comments 148 views

DSC_0414Sudah menjadi konsekwensi logis bagi seorang pendidik sebagai tenaga profesional dituntut untuk selalu siap melaksanakan perubahan-perubahan dalam menerapkan kurikulum pendidikan, setidaknya perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan sebanyak 10 kali, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, 2006 serta yang terbaru adalah kurikulum 2013. Dan Sudah seyogyanya setiap perubahan kurikulum itu disambut dengan positif thinking karena perubahan kurikulum satu kurikulum yang lain sesungguhnya merupakan sebuah dinamika di pendidikan kita karena pada dasarnya kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan dan masalah yang terus berkembang baik sosial, ekomoni, politik dan ilmu pengetahuan sehingga produk pendidikan kita diharapkan siap mengatasi problematika kehidupan di masa depan.

Kurikulum 2013 adalah tantangan serius bagi seorang pendidik saat ini, masih hangat dikepala kita memahami dan mengimplementasikan kurikulum KTSP yang belum paripurna implementasinya di unit-unit pendidikan kita, hari ini kita harus mengoptimalkan seluruh perhatian dan potensi kita untuk implementasi kurikulum 2013. Tahun pelajaran 2014/2015 Kemendikbud menerapkan kurikulum 2013 di kelas 1,2, 4, dan 5 Kementerian Agama secara serempak menerapkan kurikulum 2013 di kelas 1 dan 4, maka tidak ada kata lain bagi pendidik kecuali sam’an wa thoatan siap melaksanakan tugas . Guru sebagai tenaga profesional harus mampu untuk melaksanakan kurikulum ini dengan sungguh-sungguh. Seyogyanya guru-guru kita memiliki Spirit of change semangatmerubah paradigma berpikir dari kurikulum lama ke kurikulum 2013.

Apa itu kurikulum 2013 ?

Implementasi kurikulum 2013 mengamanahkan kepada seluruh pendidik untuk melakukan proses pendidikan tidak hanya berorientasi kepada ranah kognitif ( intelektual ) tetapi proses pembelajaran yang menyentuh seluruh aspek kehidupan anak didik menggali dan mengoptimalisasikan seluruh potensi yang dimiliki. Ada 4 Standar pendidikan yang berubah dari 8 standar pendidikan yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses dan standar penilaian.

Sebagaimana Bapak menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan bahwa “ kurikulum 13 melatih anak anak didik kita untuk memiliki kreatifitas dan berpikir kreatif diawali dengan membiasakan anak-anak untuk melakukan observasi (mengamati ) dengan menggunakan panca indra untuk memperoleh informasi ilmu dalam proses pembelajaran. Semakin banyak keterlibatan indra kita menangkap informasi semakin kuat daya ingat dan ilmu yang kita terima ( internalisasi ilmu yang kita dapat ke memori jangka panjang ), sehingga dalam pembelajaran kurikulum 2013 alat peraga pembelajaran menjadi wajib keberadaannya. Dalam kurikulum 2013 pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik lebih menintik beratkan pada pembelajaran kontektual sehingga siswa terbiasa berfikir kongkrit bukan belajar abstrak, belajar dengan melakukan bukan belajar dengan mengetahui, peraga yang digunakan sebaiknya peraga kongkrit sehingga peserta didik mendapat informasi ilmu yang kontektual ( pengalaman nyata ).

Di kesempatan yang lain Bapak wamendikbud Musliar Kasim (mantan rektor Universitas Andalas Padang), dalam pembukaan Seminar pendidikan dengan tema “ Peningkatan mutu SIT dan singkronisasi kurikulum 2013 untuk mewujudkan generasi Emas 2045”, menurut beliau :” Kurikulum 2013 ingin menghasilkan generasi ke depan yang produktif, kreatif, inovatif dan efektif dengan dibekali dengan 3 kompetensi yaitu pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Kompetensi inti dalam kurikulum 2013 adalah sikap Spiritual ( KI 1), sikap sosial ( KI 2), pengetahuan ( KI 3) dan Ketrampilan ( KI 4). Proses pembelajaran diharapkan mampu mengintegrasikan sikap spiritual dan sikap sosial dalam setiap proses pembelajaran disamping muatan pokok yang ditekankan yaitu aspek pengetahuan dan ketrampilan. Perbedaan mendasar dari kurikulum 2013 adalah konsep kurikulum, buku ajar, proses pembelajaran dan proses penilaian. Konsep kurikulum 2013 menekankan bahwa pelajaran tidak perlu dihafal tetapi pembelajaran lebih mengarahkan kepada pemahaman substasi dan filosofi materi pelajaran tersebut diajarkan selanjutkan dilakukan (ketrampilan) sehingga setiap pelajaran akan menghasilkan produk berupa ketrampilan atau attitude. Tugas guru hanya membuat RPP , melaksanakan proses pembelajaran dan melakukan penilaian dan membuat laporan hasil penilaian.

Untitled-1Proses pembelajaran yang menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan dan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif

Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan ilmiah ( saintifik)

  1. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
  2. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
  3. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
  4. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan ( LPMP Jateng )

Proses pembelajaran, pada kurikulum 2013 lebih menekankan para proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik (scientific approach) dengan mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mencipta ( creating ). Dari pendekatan ini diharapkan peserta didik menemukan pengertian atau pemahaman sebuah teori dari hasil pengamatan terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik ( pendekatan metode menalar induktif).

Pertama proses mengamati diharapkan seorang pendidik mengawali pelajaran dengan proses pengamatan terhadap obyek materi pelajaran, mengamati dengan panca indra sesuai dengan karakteristik materi yang akan dipelajari bisa mengamati dengan mata yaitu untuk mengetahui warna, bentuk, fenomena alam, film, gambar. Mengamati dengan telinga yaitu untuk mengetahui obyek melalui mendengar cerita verbal, musik, nyanyian, puisi, suara alam. Mengamati dengan hidung yaitu mencium aroma /bau wangi, busuk, aroma makanan, bunga, udara segar, pengap. Mengamati dengan peraba /kulit yaitu untuk mengetahui sifat benda kasar, halus, panas, dingin. Mengamati dengan perasa/ lidah yaitu untuk mengetahui rasa manis, pahit, asin, tawar, lezat. Ketika anak melakukan pengamatan terhadap suatu obyek materi pelajaran maka akan terjadi proses berfikir dalam otaknya itulah saintifik

Kedua Menanyakan merupakan langkah guru untuk menstimulasi anak untuk mengembangkan daya pikirnya terhadap pembelajaran sehingga terjadi proses berpikir berkelanjutan untuk mendapatkan informasi lanjutan yang diinginkan.

Ketiga siswa diajarkan untuk berani mencobamengeksplorasi penjelasan guru dari pertanyaan-pertanyaan diharapkan siswa mampu mengumpulkan data /informasi yang diberikan lewat proses pembelajaran sehingga siswa mampu mengasosiasikan beberapa data yang diperoleh

Keempat siswa mempu menalar atau mengasosiasikan dari informasi-informasi yang diperoleh baik melalui diskusi, pengamatan, tanya jawab dan kerja kelompok.

Kelima siswa mampu mengkomunikasikan hasil pembelajaran yang diperoleh untuk disampaikan kepada guru atau siswa yang lain sebagai bentuk temuan (created )

Guru harus siap berubah

Seorang guru tidak boleh menjawab secara langsung permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa tetapi hanya memberikan stimulan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa dan siswa diajari untuk mampu menemukan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapinya secara mandiri. “ Siswa tidak diberi ikan tetapi diberi kail untuk memancing ikan” dari sini siswa betul betul dilatih kreatifitasnya untuk secara cerdas menghadapi masalah ( problem based learning ). Contoh pertanyaan anak terkait dengan kosa kata dalam bahasa Inggris kita tidak serta merta menjawab tetapi anak diberikan cara bagaimana ia dapat mendapat jawabannya dengan membuka kamus bahasa sehingga satu ilmu cara mencari kata dalam kamus ia tidak akan bertanya lagi tentang arti kata kepada gurunya. Ia bisa memecahkan sekita ribu kata yang lain dengan mandiri.

Di kurikulum 2013 yang harus dipahami oleh seorang pendidik ada perubahan mendasar pada standar pendidikan kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumnya yaitu perubahan pada standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan dan standar penilaian

Dari ke empat perubahan pada standar pendidikan di kurikulum 2013 menuntut seorang pendidik untuk siap berubah ( spirit of change ) merubah paradigma berpikir untuk menyiapkan kehidupan atau peradaban yang akan datang untuk melahirkan peserta didik menjadi Generasi emas pada tahun 2045. Produk kurikulum 2013 kedepan tidak hanya akan melahirkan generasi yang terbebas dari ketergantungan bangsa asing karena akan lahir para penemu-penemu ilmu dan tehnologi yang mampu mengelola sumber daya alam tanah air secara mandiri, akan tetapi juga akan lahir generasi yang pinter, bener lan kober. Pinter memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, bener memiliki sikap ( atittude ) sikap spiritual dan sikap sosial serta kober memiliki ketrampilan hidup ( life skill ) mampu menyelesaikan persoalan hidup dengan cerdas. Dalam al Qur’an disebut sebagai generasi Ulul Albab ( 3 : 190-191) sebagaimana kejayaan perabadan Islam yang melahirkan para cendekiawan muslim yaitu orang –orang yang fakih dalam ilmu agama dan mahir dalam ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina , Ibn Khaldun, Imam Ghazali, Al Farabi, Ibn Maskawaih, Al Batani, Al Jabir, Umar bin Abdul Azzis dll. [oleh Wiyarso, M.Pd.I-Kepala MI Luqman Al Hakim Slawi)]

author
2 Responses
  1. author

    pa wi4 years ago

    mohon maaf ralat : tulisan pada paragraf 2
    ” Tahun pelajaran 2014/2015 Kemendikbud menerapkan kurikulum 2013 di kelas 1,2,4 dan 5, Kementerian Agama secara serempak menerapkan kurikulum 2013 di kelas 1 dan 4 “

    Reply
    • author
      Author

      admin4 years ago

      Oke, Pa Wi. Sudah kami ralat. Terima kasih atas tulisannya yang luar biasa ini.

      Reply

Leave a reply "Spirit of Change"