Kerja Keras, Cerdas, Ikhlas, dan Tuntas

No comment 159 views

Sutardi, S.Pd

Gagasan awal berdirinya sekolah ini mesti dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Sering saya sampaikan, idealisme awal ini baik, tapi menjaganya merupakan pekerjaan sangat berat. Perjalanan waktu ke depan sedemikian kompleks. Jika lupa tentang gagasan awal berdirinya sekolah ini, mungkin kita akan tertinggal.

Dulu mungkin nyaman-nyaman saja, tinggal di kontrakan, tapi sekarang sepertinya sudah nggak pantes lagi. Anak-anak semakin besar, kebutuhan pendidikan ikut-ikutan besar. Jangan terlalu larut, ingatlah, jika fokus pada kekurangan, itulah yang akan didapatkan. Semangat mendidik harus dipertahankan. Semangat jauh lebih penting dari apapun, termasuk materi sekalipun, karena saya yakin, dalam waktu dekat, kesejahteraan guru-guru MI Luqman Al Hakim akan setara dengan guru-guru PNS, bahkan lebih. Inshaa Allah.

Efek semangat guru-guru itu sudah terlihat, bahkan sudah mendapatkan pengakuan dari para orang tua. Pada satu kesempatan wawancara dengan calon orang tua siswa, saya melontarkan pertanyaan kenapa sih memasukan anaknya di Luqman Al Hakim? Dengan serius orang tua itu menjawab, “Kalau hanya ingin anak saya pinter banyak bimbel, menjelang UN cukup kasih 500 ribu bisa dapat nilai bagus.”

Mungkin kita asing dengan ‘cukup limaratus ribu,’ tapi di luar sana sudah menjadi rahasia umum. Dulu saya punya murid. Kebetulan namanya Faris, seperti nama anak saya. Saat ngajar, saya selalu memberi kesempatan Faris untuk tampil ke depan, mengerjakan soal. Ternyata nggak pernah bisa. Nggak pernah tuntas. Soal dilihat dalam waktu yang cukup lama. Terus begitu saat saya minta ke depan untuk mengerjakan soal Matematika. Sama sekali tidak menulis apa-apa.

Tapi ketika UN, nilai yang didapat Faris 85. Saat ketemu saya, dia bilang dengan bangganya. “Pak Tardi, jangan salah sangka kalau saya nggak pintar Matematika.” Saya pun terkejut, dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Setelah saya selidiki, ternyata ia merupakan salah satu anak yang iuran 175 ribu/soal untuk mendapatkan kunci jawaban UN! Ini sekaligus menjawab pertanyaan calon orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sini, “Saya ingin akhlak dan ibadah anak saya benar.”

Saya merasakan harapan semua orang tua itu. Mu’tazimullah Al Faris, anak saya yang tahun ini naik kelas 6 pun, sudah muncul kesadaran untuk shalat berjamaah di masjid. Meski badan penuh dengan keringat karena main bola, tapi begitu adzan tiba, mendadak berhenti, dan segera ke masjid. Hanya masih perlu diperbaiki, tentang keringatnya yang gemerojos itu. Tapi semangat shalat jamaah sudah saya acungi jempol.

Subhanallah sedemikian besar kepercayaan masyarakat terhadap sekolah ini. Kepercayaan ini menuntut peran besar dan kerja-kerja besar para guru, karena ruh gurulah yang menjadikan sekolah ini mendapatkan kepercayaan yang besar ini.

Sungguh, hati saya bergetar manakala membaca QS As-Shof :3, “Sangat besar kebencian di sisi Allah Swt, jika mengatakan sesuatu tapi tidak melakukannya.” Saya yakin semua guru selalu menyampaikan kebaikan. Seperti jangan terlambat, jangan malas-malas. Jangan sampai kita dibenci Allah gara-gara apa yang kita nasehatkan tidak kita laksanakan. Ayat tadi menyiratkan pesan tentang komitmen, kedisiplinan, dan semangat kemajuan.

Profesionalitas sebagai pendidik harus terus menerus ditingkatkan. Guru jangan sampai ketinggalan informasi kekinian tentang pendidikan. Kita sudah punya bingkai kurikulum yang baku terdapat dalam 10 muwasofat. Kurikulum 2013 ini sebenarnya sudah terdapat dalam kesepuluh tahapan itu. Bagaimanapun KK2013 harus tahu, bahkan harus menguasai. Sehingga ketika orang datang ke sini mau menanyakan kurikulum yang baru tidak gagap, tidak bingung, mau menjawab apa.

Saya sangat berharap bahwa eksistensi sekolah ini lebih banyak berada di pundak. Saya yang di yayasan hanya melihat hasilnya. Tapi yang lebih utama, peran guru sangat vital. Kerja keras, keras, ikhlas, dan tuntas. Pernik-pernik guru banyak sekali. Kalau tidak mendasarkan pada energi keikhlasan bisa jadi kita lenyap. Jika ikhlas hilang maka kita kehilangan 50% energi dari yang tersedia. Kalau kerja keras ini ikut hilang maka timbul kelumpuhan. Dan jika tuntas tidak dilaksanakan, pekerjaan yang kita lakukan menjadi tidak menarik. Semua akan ringan manakala seluruh beban-beban yang ada kita pikul bersama, satukan hati, pola pikir, visi, dan misi kita.

Sutardi, Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Ulin Nuha Kab. Tegal

author
No Response

Leave a reply "Kerja Keras, Cerdas, Ikhlas, dan Tuntas"