Anak-anak, Makanan, & Pendikan Karakter

2 comments 188 views

miluqmanalhakim.com/Oleh Ali Irfan

Sejenak mari bayangkan, apa yang terjadi seandainya di sekolah anak-anak dibebaskan jajan dan bawa uang saku? Sekolah kita ini ada sekitar 600 lebih anak-anak. Itu artinya setidaknya ada 600 mulut sekaligus perut yang harus dimanjakan dengan jajan. Silahkan, kembali bayangkan dalam waktu yang terbatas, mereka punya pemikiran yang sama untuk jajan.

DSC_0095_arafhakim

Bisa dipastikan, kantin penuh sesak melayani permintaan ‘pelanggan’. Mereka berdesakkan saling berebut satu sama lain. Petugas kantin kewalahan, karena mereka selalu ingin serba cepat dan ringkas dalam pelayanan.

Dari sudut pandang bisnis, ini adalah peluang pasar yang luar biasa menjanjikan karena mampu menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Namun sebagai guru, pemandangan itu sungguh menjadi peristiwa yang memilukan. Tidak seharusnya mereka berdesakkan di kantin untuk jajan, apalagi makan.

Pemandangan lain akan ditemukan lautan sampah berserakan di lingkungan sekolah. Belum lagi komplain-komplain anak yang merasa belum dapat kesempatan menikmati jajan, namun sudah keburu bel berbunyi. Layaknya skor sama, mereka minta injury time. Waktu 20 menit istirahat yang seharusnya bisa dioptimalkan, jadi kurang. Waktu habis hanya untuk urusan jajan. “Yah, ustad, aku belum jajan.” “Ustad, aku baru makan jajan?” begitu sekiranya celoteh mereka.

Pemandangan ini pernah terjadi di sekolah ini, tapi sekarang telah berubah. Tidak mau sekolah ini setiap hari menjadi lautan sampah, sekolah berinisiatif untuk membuat sebuah kebijakan bahwa anak-anak tidak diperkenankan bawa uang saku. Uang saku hanya boleh dibawa pada hari Jumat, itu pun untuk infak pekanan. Selain itu, sama sekali tidak diperkenankan. Sebagai kompensasi, semua kebutuhan jajan dan makan dikelola kantin sekolah. Kebijakan ini baru berjalan sebagian. Karena masih ada beberapa orangtua yang masih punya energi dan dengan penuh cinta membawa bekal snack dan makanan dari rumah.

Bukan satu hal tidak mungkin jika ke depan, seluruh kebutuhan katering murid dikelola sepenuhnya oleh kantin. Ini sekolah, bukan rumah. Jadi biarkan anak-anak mendapat asupan makanan yang sama. Ini bukan masalah selera, tapi fokuslah pada nilai-nilai pendidikan karakter dibalik makan bersama.

Bagi orang tua, tentu ini sangat meringankan. Karena tidak harus bolak-balik mengantar makanan di siang hari. Bagi yang sibuk juga tak perlu lagi menyuruh kurir untuk mengantar makanan karena semua kebutuhan makan anak sudah yang memenuhi.

Bagi anak-anak sendiri jelas, konsentrasi mereka tidak lagi berpikir, aku mau beli jajan ini. Mau beli minum itu. Tapi fokus pada belajar. Waktu istirahat bisa dimanfaatkan untuk bermain, dan bercengkerama dengan teman atau pergi ke perpustakaan.

Guru bisa memantau langsung bagaimana cara anak makan, apakah sesuai dengan adab-adab makan yang seharusnya. Guru dengan sangat mudah memantau apakah makanannya habis atau masih banyak sisa.

***

Tentang pelajaran karakter anak dari peristiwa makan, saya pernah punya pengalaman menarik bersama anak-anak. Saya pernah menemui ada anak-anak yang sering tidak menghabiskan makanannya karena berbagai alasan. Sementara di sisi lain ada temannya yang belum makan, karena orang tuanya belum mengantarnya makanan. Di hadapan anak-anak satu kelas itu saya sampaikan, “Tega sekali kalian, makan nggak habis, tapi ada teman yang belum makan? Dimana cara kalian menghargai makanan? menghargai orang yang memasak? menghargai jerih payah orang tua yang telah membayar makanan ini? Kalau kamu tahu, di Palestina sana, satu butir kurma dibagi untuk 2 orang. Bayangkan, sebutir kurma.”

Akhirnya satu kesepakatan baru kami buat. “Setiap makanan yang diberikan kepada kita, apapun menunya, harus dihabiskan. Jika memang terpaksa tidak habis, silahkan berbagi dengan teman yang lain.”

Alhamdulilah mereka menerima dengan senang hati. Hari-hari berikutnya saya pantau, tak ada lagi pemandangan sisa-sisa nasi yang berserakan di kelas itu. Tentu ini sudah selayaknya dilakukan oleh kelas-kelas lain. Yang jelas, ada efektivitas waktu yang luar biasa, setelah kebijakan ini diterapkan.

author
2 Responses
  1. author

    Umi Sari4 years ago

    Masalahnya untuk anak kls 1 (baru adaptasi) yang tiap hari makannya tidak dihabiskan, sampai 1 bln ternyata belum cocok dengan menu yang ada, apa yang harus orangtua lakukan? Harus menunggu sampai brp bln?
    keluhannya memang pada ketidaksukaan pd menu yg ada. Klo tidak suka apa bisa dipaksakan?

    Reply
  2. author
    Author

    admin4 years ago

    Terima kasih Ibu, insha allah guru/wali kelas selalu memotivasi dan mengarahkan anak untuk makan. Kami doakan putra Ibu cepat beradaptasi. Nanti kami komunikasikan lagi ke pengelola katering.

    Reply

Leave a reply "Anak-anak, Makanan, & Pendikan Karakter"