JSIT Tolak Buku Penjaskes

No comment 144 views

logoJSITJAKARTA — Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia menolak menggunakan buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) SMA/MA/SMK kelas XI terbitan Kemendikbud semester 1 yang membahas soal pacaran sehat. Isi materi tersebut dinilai tidak mencerminkan nilai keislaman dan pendidikan karakter yang menjadi semangat Kurikulum 2013.

“Kami instruksikan kepada seluruh SMA Islam Terpadu se-Indonesia, agar tidak menggunakan buku ini menjadi rujukan dan mengembalikan buku ini ke dinas pendidikan kabupaten/kota setempat untuk dilanjutkan ke Kemendikbud,” kata Ketua JSIT Indonesia Sukro Muhab melalui siaran persnya yang diterima Republika, Kamis (9/10).

Sukro mengingatkan, seuruh Sekolah Islam Terpadu terus berkonsentrasi melakukan pendidikan karakter. Selain itu,  terus waspada terhadap gerakan yang berusaha untuk melemahkan ajaran-ajaran Islam.

“Setelah kami telaah buku ini ternyata sangat bertentangan dengan nilai-nilai di lingkungan Sekolah Islam Terpadu,” katanya.

Menurutnya, isi buku yang terdapat di halaman 128-129 tersebut  menampilkan sosok pemuda dan pemudi Muslim dengan busana Muslim yang sangat melecehkan kesucian Islam. Padahal, di dalam Islam, pacaran merupakan sesuatu yang dilarang. “Isi buku mengajarkan cara berpacaran yang seolah-olah membolehkan para siswa untuk melakukan pacaran,” katanya.

Untuk diketahui, materi dalam salah satu buku di Kurikulum 2013 kembali menuai polemik. Kali ini adalah buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk kelas XI, yang di dalamnya terdapat tema pacaran sehat.

Tema tersebut ada di Bab X yang berjudul “Memahami Dampak Seks Bebas”. Disebutkan, gaya pacaran sehat terdiri atas beberapa macam unsur, yaitu sehat fisik, sehat emosional, sehat sosial, dan sehat seksual.

Namun, yang menjadi perbincangan adalah gambar yang digunakan dalam buku itu, tepatnya di halaman 129 adalah karikatur lelaki dan perempuan menggunakan peci dan jilbab. Gambar itu dianggap tidak memiliki korelasi yang tepat dengan gaya pacaran sehat yang dimaksud.

Ketua Divisi Sosialisasi KPAI Asrorun Niam Sholeh mengatakan, buku dengan tema pacaran sehat tersebut dinilai tidak sesuai dengan etika sosial yang berkembang di masyarakat. Pendidikan bagi usia remaja harus diarahkan pada hal-hal yang baik. Semestinya, jika ingin memasukkan ke dalam kurikulum, maka yang harus dikedepankan pembelajaran mengenai  relasi pertemanan, adab pertemanan, dan etika bergaul.

“Seharusnya yang lebih ditonjolkan yaitu pembelajaran etika pertemanan dan pergaulan terhadap sesama teman maupun guru. Tidak etis jika tema pacaran sehat diajarkan di sekolah,” katanya.

Ia menambahkan, pacaran bukanlah hal yang perlu masuk dalam kurikulum. Hal tersebut dikarenakan, secara sosilogis diksi pacaran tidak sejalan dengan prinsip pendidikan.

Ketua MUI Bidang Pendidikan Anwar Abbas mengatakan, kurikulum yang diciptakan oleh kemendikbud harus memperhatikan keyakinan dan kepercayaan di Masyarakat. Adanya buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk kelas XI, yang di dalamnya terdapat tema pacaran sehat dinilai tidak memberikan pendidikan bagi remaja atau siswa SMA yang ada.

Ia menjelaskan, dengan adanya pembelajaran tersebut berarti secara tidak langsung pemerintah memperbolehkan atau melegalkan pacaran. Padahal, secara spiritualitas pacaran sangat tidak sehat.

“Berarti sama saja mengatakan pacaran itu boleh. Tuhan saja melarang mengapa Kemendikbud membolehkan? Tidak etis Kemendikbud membuat kurikulum seperti itu karena bukan kapasitasnya. Itu kapasitas ulama,” ujar Anwar Abbas.

Hingga berita ini diturunkan, Republika belum mendapatkan konfirmasi dari pihak Kemendikbud. Juru Bicara Kemendikbud Ibnu Hamad saat dihubungi mengaku sedang berada di luar negeri. Sedangkan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Achmad Jazidie tak mengangkat telepon dan pesan singkat. rep:c83 ed: muhammad hafil (republika.co.id)

author
No Response

Leave a reply "JSIT Tolak Buku Penjaskes"