Matahari di Ufuk Barat

9 comments 237 views

Oleh Hazimatul Aisyah Kelas 6A MI Luqman Al Hakim

W100_1442-araf hakimanita itu tertunduk diam, pandangannya kosong. Hanya terdiam memperhatikan bendera kuning di rumahnya. Orang orang berdatangan, membaca surah Yasin. Sesekali wanita itu mengusapkan mata sekaligus pipinya karena basahnya air yang mengalir dan keluar dari matanya.

Sosok yang memberikan pelajaran ketegaran di saat kesempitan hidup telah hilang. Awalnya ia tidak percaya tetapi hanya tersisa debu kecil di bajunya. Ungkap seorang remaja putri. Rupanya ia adalah kakak wanita itu. Ibu, dua kakak laki-laki, satu kakak perempuan dan wanita itu sendiri, mereka telah kehilangan seorang pria tua, AYAH.

Di sebabkan oleh penyakit yang diserangnya. Enam tahun berlalu, terkadang wanita itu mengingatnya. Pelajaran yang baru diajari oleh ayahnya saat hari sebelum ditinggalkan. Baru di praktekannya saat hari terjadinya kesedihan itu.

Sesekali ia mengingat ia menangis, tapi ia selalu tegar. Karena, seorang itu telah mengajarinya bahwa, buat apa sedih berangsur angsur, karena, kesedihan itu bisa membuat kita putus asa. Tegar saja, dan cobalah untuk melupakannya.

Ia masih sadar bahwa ia masih punya ibu yang tak kalah memberikan semangat. Saat ia membuka album yang berdebu itu, ia melihat wajah pria yang taka sing baginya. Memikirkan dan mengingat sejenak siapa yang berada difotonya dan tepat disamping dirinya.

Tiba tiba, matanya berair. Ia sudah mengingatnya. Terbayang dimatanya kalau sosok itu dihadapannya.

Bayangan itupun memngikutinya hingga masuk ke mimpinya. Mimpi itu berisi, bulan, bintang yang menyinarinya. Tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang. Ternyata, sosok itu AYAH. Dalam tidurnya, ia menangis.

Hari harinya dengan sikapnya sendiri. Ceria, selalu tersenyum, suka kesal pada orang. Ketegarannya, membawa ia tetap bersinar walau gelap menerjang.

Keadaannya sekarang, seperti anak anak biasanya, ia selalu yakin bahwa allah ada, dan setia menemaninya ketika ia sedih.

Pernah ia menulis surat “Ya allah, apa yang sedang ayahku lakukan di sana? Apakah engkau memperlakukan ayahku dengan senang hati? Tolong jaga dia! Jangan engkau sakiti ia… dia adalah ayahku. Sayangilah ia, sebagaimana ia menyayangiku. Cintailah dia sebagaimana aku mencintainya.

Hari menjelang malam, gadis itu termenung, mengingat kejadian yang dialaminya lima tahun silam.

Ceritanya, ia sedang duduk di teras rumahnya, kemuadian ia mengantuk. Lalu, tiba tiba ia melupakan kursi tanpa penjangga itu. Begitu mudahnya ia jatuh kebelakang. Tetapi, aneh ia merasa seperti ada yang menjaganya. “Syukurlah allah telah menjagaku pikirnya” anehnya lagi, setelah kejadian itu, bayangan ayahnya pun hilang.

Suara adzan, membuyarkan lamunannya. “ya allah, terimakasih” gumamnya.

Dan kehidupannya masih berlanjut hingga ia remaja. Remaja ini masih berusaha tegar dan mencoba untuk melupakan semua kejadian itu.

“hidup ini seperti kereta, masing masing orang sudah memegang tiketnya, dan tinggal menunggu keberangktannya.”

“Don’t forget! Jangan pernah menyerah dalam sebuah kesullitan, karena setiap kita tersesat, pasti kita akan menemukan jalan yang benar.”

“sesedih apapun, kamu harus bisa bangkit, dan berusaha tegar!”

“sebagaimana kita menjadi lampu, lilin, dan senter. segelap gelapnya mati lampu, lilin atau senter harus tetap menjadi yang paling bersinar.”

Pesan pesan itulah yang mendukungnya untuk membuat cerita, yaa mungkin ini bukan cerita, tetapi ini perjalanan seorang gadis dalam kehidupannya.

Ditulis di malam hari kisah hidup gadis kecil hingga ia besar dan sanggup menulis cerita ini.

author
9 Responses
  1. author

    Ali Irfan3 years ago

    Mengharukan. Membaca kisah ini membuat mata ini basah…

    Reply
  2. author

    ustad habib3 years ago

    menyukai kisah ini

    Reply
  3. author

    Alfath3 years ago

    (y) Terahaaru :'(

    Reply
  4. author

    Raafi Nur Adzani AE3 years ago

    Terharu :'(

    Reply
  5. author

    Zahra F R3 years ago

    Semangat zim!!!!

    Reply
  6. author

    zahwa3 years ago

    bagus banget, bikin terharu!

    Reply
  7. author

    Azimah Aisyah3 years ago

    Makasih yg udh baca ^^

    Reply
  8. author

    Khusnun Nazila VIB3 years ago

    :'( Sedih bgt…
    eh, itu yang komen Zahwa atau Ustadz Araf?

    Reply
    • author
      Author

      admin3 years ago

      Zahwa, dong.

      Reply

Leave a reply "Matahari di Ufuk Barat"