Nama Seindah Mawar

5 comments 256 views

Oleh Tasya A. Triani

tasya 6cNamaku, Mawar Citra Kirania. Panggilanku, Mawar, aku bersekolah di SD Bintang. Mungkin, bunga mawar itu, indah, mempesona dan selalu mendapat perhatian banyak orang. Ya, mungkin itulah, kenapa, ayah – ibuku memberiku nama itu. Sayangnya, aku tak bisa mewujudkannya. Aku tak secantik mawar, kulitku cokelat gelap, dan juga tak begitu cerdas dalam pelajaran.

Memang sih, aku masuk sepuluh besar terus, tapi, aku selalu menghindar kalau ada teman yang ingin berteman denganku. Anehnya, banyak teman – temanku yang cantik, kaya, dan cerdas banyak yang ingin berteman denganku. Namun, itu tadi, aku selalu menghindar dari mereka semua. Untuk mengusir kesepian, yang kadang kurasakan saat istirahat tiba. Aku selalu membawa sebuah buku kecil.

Buku tulis, yang bersampul teddy bear cokelat berpita merah. Aku selalu menuliskan isi hatiku, di buku itu. Bisa dibilang, isinya, adalah curahan hatiku. Untaian katanya, menurutku. Seperti puisi. Tapi entahlah, aku minder untuk menunjukkannya pada teman – temanku. Pagi ini, aku berangkat sedikit tergesa – gesa. Jam sudah menunjukkan pukul 06.50, dengan menyandang tas cokelat aku berjalan dengan cepat, “Alhamdulillah, perjalanan tadi. Hanya memakan waktu lima menit lebih sedikit” kataku, dalam hati. Beberapa menit kemudian, “teet, teet….” bel sekolah berbunyi nyaring, para murid berhamburan keluar kelas. Beberapa murid yang lain yang baru berangkat, berlari dengan cepat menuju kelas.

Beberapa saat kemudian, kelasku selesai berbaris. Kami masuk dengan tertib, setelah berdoa pelajaran dimulai. Bahasa Inggris adalah pelajaran pertama hari ini. Setelah itu, Bahasa Indonesia dan IPA. Teet…Teet…Teet, bel sekolah berbunyi tiga kali, tanda istirahat. Guru – guru langsung mengakhiri pelajaran. Murid – murid langsung berhamburan keluar kelas.

Mawar, berjalan lambat menuju kantin. Sesampainya disana, Mawar membeli siomay, “Hei, hei di mading ada berita baru loh, lihat, yuk!” Della, gadis cantik berkacamata minus mengajak Astrid, gadis paling cantik dan selalu ranking satu di kelas. Astrid mengangguk, keduanya berjalan bergandengan tangan menju mading. Setelah menghabiskan siomay-nya, Mawar bergegas pergi ke mading.

Penasaran juga sih. Oh, ternyata, ada lomba menulis puisi juaranya, bakalan mewakili SD Bintang untuk ikut lomba menulis puisi. Wah, kesempatan bagus nih, Mawar sebenarnya tertarik, sayang, dia minder untuk mengirimkan puisinya. Lagipula, besok hari terakhir mengumpulkan puisi. Mawar kembali ke kelas, ia melirik jam. Masih jam 09.30, “kurang lima belas menit lagi” kata Mawar. Dia membuka buku tulis kesayangannya, dan menulis untuk hari ini.

                                                        Impianku

            Kuingin, gapai mimpiku

            Kuingin, bahagiakan ayah ibu

            Kuingin, jadi kebanggaan guru – guru

            Kuingin dikenal teman – temanku

            Impian, bukanlah mimpi yang terpendam

            Tapi mimpi, yang akan jadi kenyataan.

            Oh tuhan, kabulkanlah doaku

            Kuingin, gapai mimpiku

            Karna ku tahu, semua kenyataan berawal dari mimpi

Teet….Teet…Teet…Teet, bel tanda masuk berbunyi nyaring. Murid – murid yang sedari tadi, bermain bergegas masuk kembali ke dalam kelas. Mawar memasukan buku kesayangannya, ke dalam laci mejanya. Pelajaran setelah istirahat, adalah matematika. Di tengah – tengah waktu pelajaran, “Oh ya, Mawar, tolong ibu ya, tolong ambilkan buku nilai ibu. Yang berwarna hijau, ada di sebelah kanan di meja ibu” kata bu Alicia.

Mawar mengangguk, dia berjalan menuju kantor guru dan mengambil buku nilai yang memang ada di meja bu Alicia. Setelah itu, Mawar kembali ke kelas dan menyerahkannya kembali kepada bu Alicia. Ketika Mawar kembali ke mejanya. Dia tak menemukan buku kesayangannnya, dengan muka sedikit panik, Mawar mencarinya.

Namun, tak ada. Saat Mawar akan mencarinya lagi, bu Alicia sudah memberikan soal yang harus dikerjakan dan dikumpulkan hari ini juga. “Huh” Mawar mendesah kecewa. Sementara Della dan Astrid senyum – senyum dan mengedipkan sebelah matanya. Kode rahasia !!! Mawar, tetap mengerjakan soal itu. Setelah pelajaran usai, Mawar mencari buku itu lagi. Namun sayang, tidak ditemukan. Dengan lunglai, Mawar pulang ke rumah dengan tak semangat.

Esok pun tiba, Mawar berangkat lebih pagi, jam 06.30. sesampainya disana. Mawar terlihat sedih, mukanya pucat pasi. Dia nampak kecewa, pelajaran dimulai. Dengan semangat 45, meskipun hati ingin menangis. Mawar tetap belajar, saat istirahat, dia melihat Della sedang membuka sebuah buku. Mirip bukunya, “ah, siapa tahu. Itu hanya kebetulan sama sampulnya” kata Mawar, menepis fikirannya.

Kejadian yang tadi, terus teringat di benaknya. Namun, ia berusaha membuang jauh – jauh fikiran negatif-nya pada Della. “Della kan, anak baik. Masa, mencuri sih” Mawar menolak pendapatnya sendiri. Mawar berusaha melupakan kejadian tadi, tak lama, Mawar tertidur. Keesokan harinya, Mawar terbangun dari tidurnya.

Hari ini, ia berkeinginan berangkat lebih siang, pukul 06.55, Mawar baru berangkat, langkah kakinya, dipercepat. Sedetik kemudian setelah Mawar masuk kelas, bel berbunyi nyaring. Pelajaran pertama, adalah Olahraga. Pak Rusdi, guru olahraga kami.. Setelah pelajaran paling menyenangkan itu, selanjutnya pelajaran IPS. Teet….Teet…Teet, bel istirahat berbunyi.

“Assallamualaikum, diberitahukan kepada ananda Mawar Citra Kirania, kelas 5 C. Atas puisinya yang berjudul ‘Impianku’ berhasil lolos seleksi. Dimohon, kepada ananda untuk segera ke ruang serbaguna, sudah ditunggu bu Aini. Untuk diberi latihan. Terimakasih, Wassallamualaikum” Mawar, nampak tak percaya, kaget dan bingung, bayangkan saja. Dia tak pernah mengirimkan puisi untuk lomba itu.

Tapi, kok, dia bisa lolos seleksi sih. Namun, Mawar bergegas pergi ke ruang serbaguna. Sedikit pelatihan, yang diberikan bu Aini. Menambah pengetahuan Mawar, tentang menulis puisi yang baik. Mawar lalu menulis puisi dengan judul ‘Sekolahku’, tapi, isi puisinya masih rahasia. 15 menit kemudian, puisi itu jadi. Bu Aini membacanya, dan tersenyum puas. “Silahkan, Mawar kembali ke kelas. Puisimu akan ibu berikan langsung pada panitia lomba” kata bu Aini. Mawar keluar dari ruang serbaguna.

Seminggu kemudian, pengumuman lomba puisi yang diadakan. Menyatakan bahwa, puisi Mawar-lah. Puisi terbaik dan terfavorit, Mawar. Bersujud syukur, pada Allah. Ia tak menyangka, puisinya bakalan meraih juara. Setelah menerima piala, Mawar kembali ke kelas. Semua teman, menyalami dan memberi selamat kepada Mawar, “Mawar, aku dan Astrid-lah yang mengirimkan puisi ini kepada bu Aini, jangan marah ya. Karena, aku dan Astrid tahu. Kamu punya bakat menulis puisi” bisik Della, Mawar tak marah, “Iya, tapi, buku ku, dimana, ya?” tanya Mawar. Astrid mengulurkan buku itu, Mawar tersenyum, dan memeluk Astrid.

“Mawar, engkau seindah namamu” bisik Astrid.

 

*) Tasya A. Triani, siswi kelas VI C MI Luqman Al Hakim

author
5 Responses
  1. author

    Khusnun Nazila VIB4 years ago

    good (y)

    Reply
  2. author

    arie4 years ago

    Teruslah berrkarya, nak! Karyamu sungguh luar biasa>.

    Reply
  3. author

    fathiyah_hanan3 years ago

    Bagus bangaet mba tasya…. like

    Reply
  4. author

    Icha alumni angkatan 93 years ago

    Bagus syaaa.

    Reply
    • author
      Author

      admin3 years ago

      Wuih, Mba Icha.Kangen tulisannya nih.

      Reply

Leave a reply "Nama Seindah Mawar"