Umat Hebat Meniru Nabi dan Sahabat

No comment 251 views

Oleh Habib Junaedi

DSC_0095-236x300Mempelajari sirah (sejarah kehidupan Nabi) sangat penting apalagi zaman sekarang. Dunia islam kini ibarat bangunan besar yang roboh. Inilah musibah paling menyedihkan.

Sesungguhnya Allah sifatkan umat islam dalam Kitab Suci-Nya sebagai umat terbaik. Allah berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“ Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron 110)

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“ Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan untuk menjadi saksi bagi manusia dan Rasul menjadi saksi bagi kamu.” (QS. Al Baqarah 143)

Sekarang ini umat dalam keterbelakangan diberbagai aspek : keamanan,ekonomi, ilmu pengetahuan, akhlak, militer dan lain-lain.

Janji Kemenangan

Apabila yang ditetapkan Al-Qur’an adalah kebenaran,   maka kelemahan dan kekurangan karena tidak mejalankan al Qur’an dan bimbingan Nabi. Sehingga terjadilah seperti ini.

Janji Allah SWT menolong orang beriman. Firman Allah :

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأَشْهَادُ

“ Sesungguhnya Kami benar-benar menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.” (QS. Ghafir 51)

Pertolongan dan kemenangan tidak hanya nanti di hari kiamat tetapi juga dalam kehidupan dunia.

Rasulullah SAW bersabda :

إن الله زوى لي الأرض مشارقها ومغاربها، وإن ملك أمتي سيبلغ ما زوي لي منها

“ Sesungguhnya Allah merentangkan bumi padaku Timur dan Baratnya, dan sesunnguhnya kekuasaan umatku sampai padanya.”

Betapa luas kekuasaan muslimin meliputi Timur dan Barat. Ini janji Allah SWT Pemilik Alam Semesta kepada Muhammad SAW dan umatnya. Dan terbukti dengan sejarah dan siapa yang menjalankan Ajaran-Nya.

2 Syarat kebangkitan :

Pertama, keyakinan seperti para sahabat

Sahabat mantap dalam keimanan, contoh dalam peristiwa Ahzab, Rasulullah dan kaum muslimin dikepung oleh   10.000 orang pasukan ! Belum pernah ada pasukan sebanyak itu bersatu di jazirah Arabia. Usulan Salman al farisi disepakati Madinah dikelilingi parit.

Rasulullah dan kaum muslimin saat itu dalam kesulitan dan serba kekurangan.

Dimulailah penggalian parit namuna ada batu besar.Rasulullah memukul batu tersebut dan Bersada : Allahu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, aku benar-benar melihat istana Al Hamraa. Pukulan kedua, Rasul bersabda : Allahu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Persia. Demi Allah saat ini kulihat istana Madain yang berwarna putih. Pukulan ketiga, dan hancurlah batu tersebut, lalu bersabda : Allahu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah saat ini kulihat istana Shan’a dari tempatku ini.

Bagaimakah respon sahabat dan Munafikin mendengar kabar dari Rasulullah dalam kondisi genting , sulit dan serba kekurangan itu? Orang-orang beriman cukup berkata seperti yang Allah kisahkan dalam Al-Qur’an :

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan tatkala orang-orang beriman melihat pasukan ahzab mereka berkata, “inilah apa yang dijanjikanAllah dan Rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya,” dan tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan penerimaan.” (QS. Al Ahzab : 22)

Dalam kesempitan yang luar biasa itu mukmin yakin bahwa pertolongan Allah SWT itu dekat, karena pertolongan Allah SWT datang setelah ujian.

Akan tetapi orang-orang munafik mereka berkata sebagaiman dikisahkan dalam Al Qur’an :

                                    وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan yang berpenyakit dalam hatinya mengatakan,”Allah dan Rasul –Nya tidak menjajikan kecuali tipudaya.” (QS. Al Ahzab : 12)

Munafik memeliki hati yang sakit tidak memperhitungkan kekuatan dan kekuasaan Allah SWT .

Kedua, Amal yang membangun.

Dalam membangun umat dibutuhkan pemahaman, keikhlsan dan amal berkesinambungan. ini adalah kewajiban   karena Allah sifatkan umat ini dengan sebaik-baik umat.

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Tiap-tiap diri bertanggung-jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatstsir : 38)

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al An’am : 164)

Jika seluruh manusia tidak mampu memikul tanggung-jawab ini, Allah tetap menghisab kita, ini adalah pengadilan Allah SWT.

Kita menghendaki dalam membangun umat islam diatas jalan dan metodenya.

Memperjuangkannya dengan jalan yang asli tidak yang lain misalnya sosialisme atau kapitalisme. Tidak ambil hukum dari itali, perancis atau Inggris.

Bencana melanda Timur dan Barat yaitu banyak perselisihan, pertengkaran dan kedengkian, akibat mengambil bermacam-macam metode itu.

Dengarlah nasehat Rasulullah SAW, dalam sebuah riwayat dari sahabat Al Irbad bin Sariyah RA, ia berkata: ”Rasulullah menasehati kami dengan jelas, menyentuh hati, membuat air mata bercucuran, kami berkata : “ Ya Rasulallah seakan-akan ini nasehat perpisahan. Berilah kami wasiat! Nabi bersabda : aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun dia dari hamba, karena kalian akan mengalami banyak sekali perselisihan.” Inilah kenyataan dan problem kita sekarang karena mengambil cara hidup Timur dan Barat. Lanjut sabda Nabi : ” wajib bagi kalian mengambil sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin al-mahdiyyin, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian dan awaslah dari perkara-perkara baru karena sesungguhnya bid’ah itu sesat .”

Ciri kepribadian dalam Sirah Nabi :

Pertama, Rasulullah adalah manusia yang terekam seluruh hidupnya karena untuk menjadi cotoh.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya t elah ada (pada diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah” (Al Ahzab : 21)

Mengikuti Rasulullah dalam semua sikap dan gerak, mengikuti marah dan ridhonya, sedih dan bahagianya, cara menyelesaikan masalah, sikap menerima dan menolak.

Kedua, kondisi kesulitan atau kemudahan adalah jalan perjuangan.

Sebagai contoh: peristiwa hijrah Nabi mengalami pengusiran, ancaman dan penganiayaan, bersama Abu Bakar meninggalkan penduduk makkah sebagai pelarian . Orang yang paling dicari saat itu adalah Rasulullah kemudian Abu Bakar. Akhirnya keduanya sampai ke Madinah munawwaroh setelah melewati hari-hari persembunyiannya.

Selanjutnya menjadi penguasa di bumi, mengirim surat kepada semua pembesar dunia menawarkan Islam… Dari Muhammad SAW kepada Kisra agung Persia…Dari Muhammad SAW kepada Kaisar agung Romawi…kepada Muqaiqis pembesar Mesir…

Terdapat perbedaan besar antara Nabi Muhammad SAW dengan tokoh lain. Rasulullah contoh yang lengkap, Beliau berdamai dengan suatu kaum saat lain berperang dengannya. Pernah Beliau dalam kondisi tak punya apa-apa hingga menyertakan dua batu dalam ikat pinggagngnya karena menahan lapar, dapur beliau tidak ada api selama tiga kali purnama. Kemudian menjadi paling kaya, harta benda terus berdatangan dari segenap penjuru Arabia, paling dermawan dengan banyak sekali infak fi sabilillah. Memberikan seratus onta kepada seseorang, bertemu orang yang lain diberi juga seratus onta, ada yang diberi lebih dari seratus onta ada yang kurang dari itu.

pribadi yang berinteraksi dengan semua tipe manusia : orang musyrik, yahudi, nasrani, munafikin dan mukminin.

Mengalami peristiwa peperangan kadang menang dan kadang kalah.

Ketiga, Generasi Sahabat adalah binaan Nabi, melahirkan prestasi luar biasa, selalu dalam kondisi siap dan setia, memancarkan berjuta makna

untuk mengisahkannya memerlukan berpuluh-puluh jilid buku. Mantab dalam langkah, bergerak penuh semangat, berfikir serius, musyawarah, mengatur strategi dengan ilmu dan kecerdasan.

Adapun manusia-manusia yang tidak punya nilai hanya melahirkan kesempitan.

Setiap sahabat mempunyai kisah yang besar . Kisah Abu bakar bersama Rasulullah direkam memerlukan puluhan jilid buku, begitu juga Umar, Utsman, Ali, Aisyah, Hafsah, shofiyah dan segenap sahabat Muhajirin dan Anshor. Ribuan buku telah bercerita tentang mereka dan termasuk bagian dari sirah Rasulullah SAW.

Keempat,Kumpulan kejadian terbesar. Setiap kejadian besar tentu memerlukan studi, pembahasan, analisa. Tahun 2 H perang menentukan Badr. Tahun 3 H perang Uhud dan Bani Qainuqa. Tahun 4 H peristiwa Bani Nadhir. Tahun 5 H perang Ahzab, Bani Quraidhah dan Bani Musthaliq. Demikianlah, masing-masing peristiwa memerlukan studi dan pembahasan yang luas .

Pilar-pilar Sirah Nabawiyah

Sirah itu selalu terasa baru tidak berlalu. Sampai kini kita saksikan para ahli dan penulis sirah selalu bermunculan membawa nuansa baru padahal sebelumnya sudah banyak penulisan diambil dari kehidupan Nabi ini. Itu karena menemukan sesuatu dari Sirah Nabawiyah. Tujuan utama kita mencurahkan pikiran disini untuk bekal dalam membangun umat Islam dengan sirah Nabawiyah yang suci dan mulia ini. Tiap mengkaji sirah pasti ada manfaat tetapi kita ingin berjalan bersama kaidah-kaidah yang nantinya faham bahwa setiap peristiwa ada manfaat besar dan mengandung arti yang dalam.

Pilar-pilara Sirah adalah :

  1. Sunnah Nabi adalah sumber kedua dalam perundangan agama Islam. Semua sepakat yang pertama adalah Al-Qur’anul Karim dan kedua adalah As Sunnah. As Sunnah adalah ucapan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW. Yang dimaksud ketetapan adalah perbuatan sahabat yang disetujui dan dibiarkan atau dibetulkan oleh Nabi maka itu termasuk Sunnah. Mustahil mengenal sunnah tanpa mempelajari kehidupan Nabi.

Dasar hukum adalah Al Qur’an dan As sunnah, AlQur’an urutan kesatu dan As Sunnah urutan kedua , semua sepakat tidak ada satupun orang yang berselisih. lalu ada lagi sumber-sumber lain berikutnya yang dipersilisihkan ulama mengenai urutannya yaitu : al Ijma’, al Qiyas, al Istihsan, al Mashalih Al Mursalah, al Istishhab, al ‘Urf dan lain-lain.

Tujuan utama As-Sunnah adalah sebagai Tasyri’ (Peraturan) Islami. Demikian As Sirah (sejarah hidup Nabi) termasuk bagian darinya untuk memahami sunnah. Firman Allah :

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“ Dan Kami turunkan kepadamu al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah dirunkan kepada mereka” (QS. An Nahl : 44)

Tanpa sejarah Nabi (sirah), tanpa as sunnah mana mungkin bisa memahami al Qur’anul Karim.

Ketika kita menelaah kisah kidupan Rasulullah SAW maka kita berada dalam urusan tasyri’ (ketentuan) dinul Islam bagi kehidupan kaum muslimin, karena kita belajar bagaimana dulu agama ini dipraktekkan. Baca sirah tidak   bermaksud supaya kita senang dan terhibur atau membaca tokoh paling hebat saja. Tetapi, Inilah agamamu, ini urusan kamu akan dihadapkan kepada Allah SWT dan menanyakan bagaimana antara kamu dan sirah itu. Jika Anda faham sejarah Nabi dalam bentuk yang benar dan menerapkannya, Anda berjumpa dengan Allah denan wajah yang bahagia karena berbuat yang sesuai .

Selanjutnya saya ingatkan tentang munculnya orang dari kaum muslimin yang meragukan sirah nabawiyah dan menganggap cukup hanya dengan Al-Qur’anul Karim. Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada kita akan golongan ini, Sabda Beliau :

“Hampir ada seorang laki-laki diantaramu yang bersandar di atas tempat tidurnya yang dihiasi, disampaikan kepadanya sebuah hadits dariku, lalu dia akan berkata: “Diantara kami dan kamu ada kitab Allah. Apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang halal, maka kita menghalalkannya. Dan apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang haram, maka kita mengharamkannya!”
Ingatlah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti apa yang diharamkan oleh Allah”. [HR Ibnu Majah, no. 12, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani].
kita juga berkata kepada mereka : Dengarkanlah Firman Allah dalam Al Qur’anul karim yang kamu percaya padanya :

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah.”(QS. An Nisa 80)

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (ya Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa 65)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa yang Rasul berikan padamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr 7)

Para Sahabat Radhiyallahu Anhum tidak memisahkan Qur’an dan Sunnah. Adapun jika ada seseorang   tidak beriman kepada Al-Quran dan perintah-perintahnya maka tidak lagi berbicara dengannya karena hubungan sudah terputus.

Maka setiap peristiwa dalam sirah rasul SAW menjadi urusan tasyri’ (aturan /perundangan) hingga itu termasuk bagian dari dien, tidak bisa tidak Anda harus ikuti dan menerapkannya, jika tidak akan tersesat, kemudian dikatakan : Anda Rugi dan Celaka!”

Allah tidak berbicara langsung dengan hamba-hambaNya di dunia, itu disediakan bagi hamba-Nya di surga, Dia menghendaki dengan jalan lewat utusannya dari manusia, dari  hamba-Nya dipilihlah Muhammad Shallallahu Alaihi Wa salaam, untuk menyampaikan Risalah dari-Nya bagi seluruh alam. Jadilah Rasulullah SAW penyampai kalam-Nya.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tidaklah apa diucapkannya  itu (Al Qur”an) menurut keinginannya. tidak lain (Al Qur”an itu) adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”  (QS. An Najm 3 – 4)

Dalam timbangan ini maka wajib mengambil hadits Rasulullah SAW dan hubungannya adalah mengambil sirah Beliau SAW. Sirah adalah contoh  praktek langsung yang Allah SWT gariskan bagi hamb-Nya untuk dicontoh dan diikuti. Maka sirah adalah cara bagaimana melaksanakannya. Tanpa sirah  kita dalam kebingungan.

Jika Rasulullah menetapkan suatu perbuatan apapun, maka itulah yang dikehendaki Allah SWT agar kita ikuti hingga amalan Nawafil (sunnah) sekalipun. Ini bukan amalan (produk) Rasulullah SAW.  Ada yang beranggapan Allah SWT mewajibkan kita shalat dhuhur empat rakaat lalu Nabi SAW berijtihad untuk menambah empat rakaat sebelumnya dan empat rakaat sesudahnya. Sungguh persoalannya tidak demikian, Allah SWT mensyariatkan untuk amalan fara’id ada rawatib, sebelumnya maupun sesudahnya. Dia yang menentukan fardhu dan nawafilnya. Akhir semua perkara itu kembali kepada Allah SWT.

Jikalaupun Rasulullah menentukan pilihan dalam suatu urusan -bukan suatu yang sudah ditentukan – kemudian  pandangan beliau memilih  yang  lebih ringan, maka  wahyu datang menerangkan ketentuan  dan memilihkan untuk Rasulullah pilihan yang tepat, demikin ini kebaikan  untuk umat  sampai akhir zaman.

  1. Mempelajari sirah ini memerlukan perhatian yang serius penuh kesungguhan.   Karena Beliau utusan untuk semesta alam, bahkan sebaik-baik Rasul dan penutup para nabi.
  2. Kita mempelajari sirah karena sangat cinta kepada Rasulullah SAW. Jika tidak muncul kecintaan menunjukkan ada masalah dengan keimanan. Sabda Rasul :

لا يؤمن أحدكم حتى يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما

“Tidak beriman diantara kalian hingga menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai dari selainnya”

لا يؤمن العبد حتى أكون أحب إليه من أهله وماله والناس أجمعين

“Tidak beriman seorang hamba hingga menjadikan aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya dan semua manusia.”

Sebuah dialog antara Rasulullah dan Umar bin Khatthab. Umar berkata : “Ya Rasulallah, sungguh engkau lebih aku cintai dari siapapun kecuali diriku” sabda Rasul : “Demi yang jiwaku ada digenggaman-Nya, sehingga aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri” Berkata Umar : “sekarang Demi Allah, Ya Rasul engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri” Rasul bersabda : “Sekarang (baru banar) Ya Umar” maksudnya itulah iman yang sepenuhnya.

Kejujuran iman kepada Allah dengan mencintai dan mengikutinya. Firman Allah :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

‘Katakan (Muhammad): Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah Maha pengampun, Maha penyayang. “ (QS. Ali Imran 31)

Jadi mempelajai sirah ini -Insya Allah -karena cinta kepada Rasulullah SAW.

Masalah Cinta Rasul menjadi poros iman seseorang, mengenal sekedarnya tidak akan menimbulkan kecintaan yang dalam, dibutuhkan pengenalan sedetail-detailnya, menelaah kepribadian besar akan melahirkan cinta sejati dalam hati. Nurani yang bersih jika membaca atau mendengar kepribadian dan kehidupan Rasulullah pasti menyukainya, bertambah pengenalannya bertambah pula kecintaannya dan bila semakin cinta maka semakin kokoh imannya. Inilah gapain paling penting dalam hidup mukmin.

Keberadaan Rasulullah adalah karunia dan nikmat dari-Nya, Firman Allah :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“ Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) bangkitkan seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, mengajarkan kepada mereka Kitab (Al Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) padahal mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran 164)

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya maka tunggulah samapi Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah 24)

Para sahabat telah mengamalkan ayat ini jadilah umat yang hebat. Dalam ayat diatas dijelaskan yang termasuk orang Fasik karena cinta yang tidak tepat.

  1. Menjadi cerdas dengan sirah Nabi, belajar dari berbagai peristiwa hidupnya Rasulallah bagaimana menempatkan sesuatu pada tempatnya. Selalu berfikir dan bersikap bijak.

misalnya seni menarik hati kepada semua orang yang berinteraksi dengan Beliau bukan saja kepada kawan bahkan lawan sekalipun.

Mengenal beberapa hikmah antara lain:

  • Marhaliah (fase,perkembangan).
  • Tahapan tarbiyah (pendidikan),
  • Jalan pertengahan (wasathiah). Yakni adil dan seimbang Firman Allah:

 وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

 “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan.” (QS. Al baqarah 143)

wasathiah berarti tidak memberat-beratkan dan tidak menyepelekan. Marilah meretas jalan menuju kegemilangan. hidup dengan Sirah Perjuangan Rasul. []

author
No Response

Leave a reply "Umat Hebat Meniru Nabi dan Sahabat"