Cerita dari Jogja!

6 comments 305 views

Hanya dalam satu tarikan nafas, cerita kita sudah sampai di Jogja.

Menjelang subuh, kami memasuki Jogja. Masjid Agung Al Ikhlas yang ada di Wonosari, Gunung Kidul merupakan tempat pertama yang kami datangi untuk transit. Ada perasaan tak terperi yang kami rasakan begitu tiba di lokasi. Udara pagi yang segar bernuansa pegunungan sangat terasa sampai ke paru-paru.

Waktu subuh masih beberapa menit lagi. Kesempatan itu kami manfaatkan untuk shalat lail. Agenda saat transit selain istirahat adalah shalat subuh, dan bersih-bersih diri. Setelah benar-benar fresh, dan energi yang sempat hilang saat perjalanan sudah kembali, kami siap melanjutkan perjalanan menuju salah satu pantai diantara puluhan pantai di Gunung Kidul. Pantai Kukup. Tapi sebelum ke sana, kami sempatkan makan pagi di sebuah rumah makan

DSC_0066

Begitu melihat makanan, rasa lelah saat perjalanan sepertinya sirna seketika. Energi kami akan segera terisi sebagai bekal untuk mengikuti hari yang akan kami ukir dalam study tour kali ini. Kami pun antri mengambil sarapan yang memang sudah disiapkan. Menu khas padang apalagi kalau bukan yang menarik selera. Ayam goreng, rebusan daun singkong, sambal hijau, dan tempe goreng benar-benar menggugah selera kami. Semua terasa lengkap dan nikmat ketika teh manis sebagai minumannya.

***

Pantai Kukup, Tanah Lot-nya Jogjakarta.

Pantai Kukup. Untuk saat ini namanya memang kalah tenar dengan Pantai Parangtritis yang berada di pantura Yogyakarta. Tapi berbicara soal keindahan, kebersihan, dan pemandangan menarik di sekitar pantai, sudah bisa dipastikan semua wisatawan banyak yang memilih Pantai Kukup, yang ada di daerah Pegunungan Gunung Kidul. Kami yakin pesonanya akan mampu mengalahkan ketenaran Parangtritis. Banyak kalangan menyebut Pantai Kukup sebagai Tanah Lot-nya Jogjakarta.

DSC_0394

Letaknya yang di pegunungan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Pantai ini memang terletak di daerah pegunungan. Itu terbukti untuk menuju ke sana, kami harus melewati naik turun jalanan membukit. Dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.

Saat perjalanan menuju ke sana, kami disuguhi pemandangan yang tak kalah menarik. Jalan-jalan yang naik turun memacu adrenalin kami. Di kanan kiri kami tersuguhkan pemandangan menakjubkan. Karang-karang menancap di atas bebukitan. Karang-karang itu ada sebesar genggaman tangan, sampai ada yang sebesar bukit. Di sisi-sisinya sudah terjuntai tanaman yang merambat. Ya, itu bukan batu biasa, melainkan karang, karena kalau diperhatikan batu-batu itu memiliki pori-pori serupa karang. Bahkan dalam sebuah penelitian menegaskan bahwa batu-batu itu memang karang, karena di dalam karang-karang itu sempat ditemukan fosil ikan purba! Hah?! Ya, jadi sepanjang perjalanan yang kami lewati, bisa disimpulkan dulunya adalah laut! Ya, rute yang kami lalui menggunakan bus itu ternyata dulunya adalah laut! Subhanallah!!

DSC_0159

Tak mengherankan, meski daerah pegunungan, tapi daerah itu terbilang tandus. Tanaman-tanaman sepertinya tak mau kompromi. Tidak mengherankan pula, jika di daerah Gunung Kidul itu lebih banyak tanaman-tanaman seperti singkong, dan jarang sekali padi. Karena tekstur tanahnya lebih banyak mengandung unsur cadas, bukannya humus. Di sebelah kanan jalan saat kami melintasi bukit-bukit itu juga pandangan mata sempat dikejutkan dengan menyaksikan laut yang terbentang diapit bukit. Itu sebuah pertanda, kalau Pantai Kukup pasti sudah dekat. Biru lautnya Subhanallah….

Ternyata dugaan kami benar, perjalanan ternyata telah sampai. Kami seperti sudah tak sabar untuk bermain-main di pantai. Berenang, menyisiri batu karang yang menjulang tinggi, mencari aneka biota laut, dan bermain pasir putih di pantai.

Mata kami seperti dimanjakkan dengan suguhan pemandangan alam yang luar biasa. Di Pantai Kukup, disinilah Allah menunjukkan secuil dari kebesaran ciptaan-Nya. Cuaca yang cerah, memanjakan mata kami menyaksikan keindahan pantai itu. Pasirnya putih, teksturnya lembut, airnya jernih. Saking jernihnya karang-karang yang diselimuti rumput laut pun bisa tampak jelas dalam pandangan mata. Ikan-ikan yang berenang pun terlihat jelas sedang bermain petang umpat di antara bebatuan karang di tepi pantai.

Anak-anak kelas 5, langsung bermain kecipak air di tepi pantai. Mulanya berguling-guling di pasir pantai yang lembut kemudian dilanjutkan dengan berenang di pantai. Kami hanya takjub menyaksikan keindahan ini.

DSC_0324

Reina, Aifah, Najwa, dan Ulya sempat terhempas ombak saat bermain-main. Mereka sempat kaget sejenak, setelah itu mereka tertawa bersama. Adib bahkan sampai rela dikubur pasir sehingga seluruh tubuhnya tak tampak. Hanya kepala yang tersisa. Tidak ketinggalan momen itu dimanfaatkan untuk mengambil kenang-kenangan dengan foto bersama. Dengan santainya para ustadz yang tadi menandaki bukit karang berpose menatap langit, ustad-ustadzah tidak mau kalah dengan mengabadikan gambarnya di bawah batu karang yang menancap dan menjulang tinggi itu. Ikan-ikan yang kelihatan di permukaan air laut membuat sebagian anak ingin menangkapnya. Tak masalah walau sampai harus berada di bawah batu karang yang menjulang tinggi itu. Dari hasil pencarian itu banyak biota laut yang anak-anak dapatkan. Ada bintang laut, babi laut, teripang, bahkan sampai undur-undur laut. Rencananya itu akan dicatat, dan hasil temuan itu akan diserahkan sebagai hasil laporan kepada wali kelas masing-masing.DSC_0333

Debur ombak juga menjadi salah satu pemandangan yang menakjubkan itu. Gempuran gelombang yang semakin besar, membuat pantai menjadi pasang. Kami yang semula berdiri di tepi pantai, terpaksa harus mundur beberapa langkah, karena permukaan air menjadi naik karena pasang.

Sebenarnya kami masih ingin berlama-lama di pantai berpasir putih yang lembut itu. Tapi perjalanan harus kami lanjutkan. Masih ada beberapa tempat lagi yang harus kami kunjungi. Meski berat sebenarnya harus meninggalkan pantai ini. Tapi, diam-diam kami berharap, sewaktu-waktu bisa kembali ke sini mengunjungi Pantai Kukup. Bisa bersama keluarga, atau bersama teman-teman.

Museum yang Mengingatkan Masa-masa Pertempuran di Udara

Mengunjungi museum dirgantara, kami membayangkan langit, udara, dan awan. Kemudian bayangan kami menyaksikan daratan, hutan-hutan, sawah-sawah dari langit angkasa. Melihat pesawat-pesawat tempur yang dimuseumkan, kami seakan ikut menyaksikan sendiri kehebatan-kehebatan para pejuang kita ketika melawan penjajah, demi mempertahankan kemerdekaan tanah air tercinta. Rasa nasionalisme kami seketika tumbuh kembali. Terkenang para pahlawan yang telah mengorbankan raga dan jiwa dalam berjuang melawan kebiadaban penjajah.

DSC_0667

Di museum ini, kami melihat berbagai peninggalan sejarah perjuangan TNI-AU dengan total hampir 10.000 koleksi, meliputi dokumen berupa foto maupun prasasti, patung para pioner TNI-AU, foto dokumentasi, model pakaian dinas, dan diorama. Di samping itu, museum ini juga menyediakan berbagai macam jenis Alutsista (Alat utama sistem senjata), seperti beragam jenis senjata, puluhan model pesawat, hingga radio pemancar dan radar.

DSC_0535

Museum Dirgantara Mandala adalah museum terbesar dan terlengkap mengenai sejarah keberadaan TNI-AU di Indonesia. Lokasi museum sendiri berada di atas area seluas + 5 hektar, dengan luas bangunan sekitar 7.600 m2. Sebelum berlokasi di daerah Wonocatur, Yogyakarta, Museum Pusat TNI-AU berada di Markas Komando Udara V, di Jalan Tanah Abang Bukit Jakarta. Museum tersebut diresmikan oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin, pada tanggal 4 April 1969.

Taman Pintar yang Bikin Pintar

Lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah Taman Pintar. Tempat ini menarik, karena bisa memicu anak-anak berpikir kreatif.

Taman ini didirikan karena adanya ledakan perkembangan sains sekitar tahun 90-an, terutama Teknologi Informasi, pada gilirannya telah menghantarkan peradaban manusia menuju era tanpa batas. Perkembangan sains ini adalah sesuatu yang patut disyukuri dan tentunya menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi perbaikan kualitas hidup manusia.

DSC_0713

Disebut “Taman Pintar”, karena di kawasan ini nantinya para siswa, mulai pra sekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa memperdalam pemahaman soal materi-materi pelajaran yang telah diterima di sekolah dan sekaligus berekreasi.

Di sini, kami bisa berkenalan langsung dengan dunia sains kepada siswa mulai dari dini, harapan lebih luas kreativitas anak didik terus diasah, sehingga kita sebagai anak bangsa bisa berusaha untuk dapat menciptakan teknologi sendiri. []

DSC_0756DSC_0902

author
6 Responses
  1. author

    By Rien4 years ago

    Kapan lagi nich kita kesana. Jangan lupa ya aku ikut lagi!
    Habis kalo di pantai KUKUP ada kenangan sendiri.
    kenangan yang ta bisa terlupakan

    Reply
  2. author

    aenur ayu fs4 years ago

    indah nya kebersamaan, tak dapat tergantikan. dilain waktu semoga menjadi kenangan terindah dihati kalian. selamat yah… moga kalian dapat bersama2 ke sana lagi… aamiin…

    Reply
  3. author

    pawie4 years ago

    Alhamdulillah … Allah SWT sayang kepada kita selama di lokasi tidak ada setetespun air hujan dan
    lengkaplah safar kita …. tadabur alam pantai dan pegunungan, Belajar sejarah kedirgantaraan Indonesia dan Belajar ilmu teknologi serta belajar jual beli di marioboro.

    Reply
    • author
      Author

      admin4 years ago

      Semua berjalan sesuai rencana. Alhamdulillah. 🙂

      Reply
  4. author
    Author

    admin4 years ago

    Buat anak-anakku kelas 5, kalian boleh mengirimkan hasil jepretan kalian atau kisah unik/menarik selama study tour, kirim ke: mi.luqmanhakim@gmail.com atau ke arafhakim@gmail.com
    Foto atau tulisan terbaik akan ditampilkan di http://www.miluqmanalhakim.com

    Reply
  5. author

    alumni 93 years ago

    auuuuu……

    Reply

Leave a reply "Cerita dari Jogja!"