Sepotong Cerita di Pantai Kukup

No comment 124 views

Oleh : Daiman

Udara sejuk nan dingin melengkapi keceriaan anak – anak dan mengusir keletihan perjalanan panjang menuju Kota Gudeg.
“Hayo……… bangun , bangun, udah nyampe!” Kata Ust. Bowo. Sontak semua terbangun. Seperti tak percaya. Merasa baru saja berangkat, eh, tak tahunya sudah sampai. Semua turun menuju masjid besar nan megah, istirahat, dan shalat. Anak–anak mengambil air wudlu, dan menyempatkan shalat malam.
Menunggu waktu adzan tiba, sebagian anak-anak terlihat bermain prosotan (slide). Mereka memanfaatkan pagar pembatas yang terpajang di tangga masjid menuju lantai dua. Terlihat sekali masa kecil mereka kurang bahagia, tak ada prosotan, pagar pun jadi.
Saya bersyukur mendengar suara adzan. Sehingga membubarkan permainan mereka secara otomatis. Bukan apa-apa, saya sempat khawatir, bagaimana kalau semua anak ikut mainan. Bisa-bisa robohlah pagar itu.

Semua mengambil air wudlu dan bergegas untuk menghadap Sang Khaliq memohon keselamatan dalam perjalanan.

DSC_0272

Dan dari sinilah kisah ini saya mulai. Di sebuah pantai, yang kata orang adalah Tanah Lot-nya Yogyakarta, Pantai indah yang dibalut dengan untaian batu karang nan indah berpadu dengan birunya langit, deburan ombak yang besar, hamparan pasir putih yang menambah cantik si Kukup, hilang semua rasa penat dan pegal selama perjalanan sembilan jam.

Byur! Semua tak sabar untuk segera berkecipak dalam jernihnya air yang bersih hingga dasar pantai. Bercanda dengan ombak yang masih ramah.
Puas bermain-main pasir, akhirnya anak-anak mencari kolam untuk membilas badan yang terbalur dengan air asin dan pasir putih masih menempel.

“Jangan lupa pada bawa recehan, buat bayar!” seru saya kepada semua anak.
Selesai mengguyur badan dengan air bersih, dan ganti baju study tour, mereka keluar dengan keributan kecil saat mau bayar.

“Ko kamu bayarnya dua ribu, harusnya kan tiga ribu ???”

“Kenapa ???”

“Bukannya kamu mandi sama buang air kecil? tuh di dinding kamar mandi ada tulisannya mandi 2000 , buang air kecil 1000 dan BAB 3000.”

“Niatnya sih aku mandi, kalo pipisnya ga sengaja….. keluar sendiri…. jadi ya… harap maklum…”

Cerdas juga tuh anak – anak, jadi ingat kejadian saat study tour tahun sebelumnya. Saat transit di sebuah SPBU, ada salah satu pendamping, ke kamar kecil. Tarif buang air kecil seribu. Selesai dari kamar mandi. Ia bayar, pakai uang 2000. Tapi ga ada kembalian. Ngotot minta kembalianm tetap nggak ada. Akhirnya, ga mau rugi, dengan ekskpresi tak mau rugi, akhirnya dia bilang, “Ya sudah wis, aku buang air kecil lagi aja, biar pas.”
***
Satu kejadian menggelikan ada dalam kepingan ingatan berikut.

“Pak… tadi uang muridnya jatuh… terus ke ambil orang gila….”kata ibu – ibu penjaga warung.
Dikasih tahu seperti itu, ust Sobirin langsung mencari orang gila itu. Sedang asyik bercerita dengan saya, sosok yang dicari muncul. Segera ust. Sobirin menghampiri dan tanpa basa – basi langsung ditanya perihal uang itu.
“Uang opo toh…. “ kata orang gila itu.
Ust Sobirin menjelaskan kronologinya bla bla bla..
“Sudah, ga usah dijelasin, nggak bakalan nyambung ngomong sama orang gila. Rebut saja dompetnya!” teriakku dari kejahuan.
Ust Sobirin tetap saja dengan caranya. Dia yang sudah yakin akan berhasil…. terus mencoba berkomunikasi, yang ujung – ujung nya si gila berbalik arah, Weleh….weleh…. Sampeyan gemblung opo ??…. gemblung opo ??….
Sambil cengar – cengir Ust Sobirin pergi dengan tangan kosong. Lima puluh ribu melayang.

author
No Response

Leave a reply "Sepotong Cerita di Pantai Kukup"