Kata-kata Menyebalkan Tapi Menyegarkan

No comment 221 views

Oleh Ali Irfan

aliAnak-anak terlihat serius, mata mereka tertuju pada lembar soal dan lembar jawab komputer. Suasana ruang ujian itu hening, tapi tidak sunyi, karena masih ada suara hembusan nafas, suara-suara lembaran kertas yang dibalik, sesekali ada suara pensil terjatuh, dan suara gesekan kursi. Tapi itu tidak mengganggu suasana ujian. Benar-benar tenang. Apalagi saat itu pelajaran Matematika.

Seperti sudah didesain dari awal, anak-anak dari detik pertama sampai detik-detik terakhir, anak-anak terlihat serius. Saya menghabiskan masa-masa mengawasi ujian dengan mencari—cari inspirasi, menuliskannya di atas kertas buram, mulai dari mengingat-ingat hasil temuan, sampai mendesain strategi mengajar yang menyenangkan. Luang, tapi produktif. Nah dari hasil renungan itu ya tulisan ini.

Lega sekali rasanya setelah dua jam mengawasi hampir usai. Anak-anak terlihat lebih rileks, sebagian besar sudah selesai, sebagian yang lain tinggal menyelesaikan satu dua nomor lagi. Sampai akhirnya mata saya terfokus pada satu nama, Ikbar!

Saya dekati dia dengan tatapan serius dan langkah yang pasti.

“Saya lihat dari tadi kok kamu kelihatan gelisah. Mengerjakan soal kelihatan seperti nggak tenang. Badan gerak kesana kemari.”

Ikbar hanya diam seperti memahami kalau yang sedang bicara ini sedang ‘marah.’

“Kamu mengerjakan sendiri atau dibantu sama yang lain?”

“Sendiri, ustad.”

“Benar, sendiri? Saya tidak percaya. Kamu pasti dibantu sama yang lain,” ucap saya meyakinkan.

“Saya punya buktinya kamu tidak mengerjakan sendiri, saya sudah mengamati dari depan, dan bukti itu tertulis, bahkan tidak bisa dibantah!” saya sengaja tidak memberinya kesempatan menjawab, apalagi melakukan pembelaan.

Ikbar kelihatan tegang, seperti tidak percaya dengan kenyataan yang tengah ia hadapi. Darimana pengawas bisa mendapat informasi seperti yang dituduhkan kepadanya. Matanya berkaca-kaca. Saya sendiri sebenarnya nggak tega, tapi ini sudah terlanjur mencapai konflik. Sayang kalau harus segera diakhiri.

“Coba kamu lihat lembar jawaban kamu, dan baca ini!” telunjuk saya menunjuk kalimat yang ditulis tangan oleh setiap peserta ujian. Di sana tertulis kalimat, Saya mengerjakan ujian dengan Jujur, yang dilengkapi dengan tanda tangan.

“Baca yang keras!’ pinta saya kepada Ikbar. Semua teman-temannya tertuju pada percakapan antara saya dengan Ikbar.

“Ini menjadi bukti kalau kamu tidak mengerjakan ujian sendirian. Kamu mengerjakan soal ujian ini dengan Jujur. Siapa sebenarnya Jujur itu?”

Spontan, terdengar suara riuh rendah anak-anak. Nafas yang tertahan akhirnya mereka hembuskan. Ikbar yang tadi hampir menangis, berubah tertawa. Ia menjadi objek yang dikerjain.

“Jawab, siapa sebenarnya Jujur itu?” kata saya dengan senyum merekah.

Anak-anak tertawa tanpa henti. Target merilekskan suasana kelas yang tegang selesai sudah.

***

Teknik di atas merupakan salah satu cara memberikan ice breaking. Simpul ice breaking di atas lebih kepada permainan semantik, permainan kata, permainan bahasa. Dibumbui lagi dengan emosi, dan ekspresi serta gesture agar lebih meyakinkan. Saya menyebut teknik di atas sebagai teknik, kata-kata yang menyebalkan tapi menyegarkan. Contoh lain bisa anda pelajari pada beberapa percakapan berikut,

***

Berikan jawaban blunder, ini seperti yang juga dilakukan ustad Daiman.

Selesai try out, anak-anak bertanya,

“Ustad, pulangnya jam berapa?” Tanya salah satu anak kepada ustad Daiman.

“Ustad pulangnya nanti jam setengah 4.”

“Hah? Kemarin disurat pulang habis dhuhur, kemarin pas try out juga sama pulangnya siang. Kenapa pulang jam setengah 4?”

“Coba pertanyaannya diulang?”

“Ustad, pulangnya jam berapa?”

“Ya, ustad pulangnya jam setengah empat.”

“Maksudnya kita ustad, kita pulangnya jam berapa?” sambil gedek.

“Itu baru benar pertanyaannya. Kamu pulang cepat hari ini.”

***

Habis mengoreksi soal try out, ada seorang anak laporan, dengan penuh percaya diri ia menunjukkan kepada gurunya,

“Ustad, Matematika saya sudah seratus!”

“Berarti Matematika kamu sekarang nggak seratus lagi.”

“Lho kok bisa, ustad.”

“Kan sudah seratus!”

“&%^&%$*&^%^###”

***

Saat lagi serius-seriusnya ulangan, dan anak-anak butuh waktu lebih, katakan kepada mereka dengan tiba-tiba, “Ya! Waktunya masih banyak!”

kenapa ini bisa menarik perhatian?

karena kata-kata “ya” yang terucap tiba-tiba, seolah-olah sudah mau selesai. Padahal kan baru beberapa menit dimulai.

***

Pagi hari saat pelajaran baru dimulai, segarkan pikiran anak-anak dengan mengabsen pakai cara otak kanan. Biasanya guru akan menyebut nama dari absen pertama sampai terakhir. Agak tidak biasa, ketika guru mengatakan, “siapa hari ini yang tidak masuk?” jadi guru cukup memberi tanda tertentu, absennya karena ijin, sakit, atau alpa. Tapi yang dimaksud dengan mengabsen cara otak kanan adalah, “Yang hari ini tidak masuk, angkat tangan!”

Dijamin, kata-kata ini akan berhasil menarik perhatian! Nggak percaya, buktikan saja!

author
No Response

Leave a reply "Kata-kata Menyebalkan Tapi Menyegarkan"