Saya Tidak Punya Alasan Untuk Berhenti Menulis!

oleh Ali Irfan

aliAnda pernah mengalami kondisi ini?

Ada begitu banyak ide yang berkelindan, tapi ketika mau menuliskannya tiba-tiba mandek! Jemari ini sama sekali tak bergerak!

Lagi asyik-asyiknya nulis, tiba-tiba ide tersumbat. Bingung mau menuliskan apa lagi.

Sama!

Saya juga pernah mengalaminya. Jangankan saya. Penulis besar sekalipun juga mengalaminya. Hanya saja mereka tidak mengatakannya. Tidak mengungkapkannya seperti anda. Kenapa? Karena mereka telah mengijinkan dirinya menjadi penulis. Dan paham benar dalam kondisi di atas, itu artinya butuh jeda, dan bisa dilanjutkan sewaktu-waktu.

Menulis itu seperti membaca buku. Bisa dimulai dari halaman berapapun. Tidak harus dimulai dari halaman pertama. Demikian juga menulis, tidak harus dimulai dari judul dulu. Itu belakangan juga nggak masalah. Hal paling penting adalah segera menuliskan ide yang menumpuk, meskipun hanya satu frase, kemudian kita kembangkan.

Waktu saya masih magang jadi wartawan, tulisan saya pernah dinilai sama Pemred, “Tulisan kamu, jelek aja nggak nyampe!” Deg! Sakitnya tuh di sini (sambil pegang dada). Tulisan saya dinilai, jeleknya aja nggak. Berarti lebih parah dari jelek kan? Sadis benar penilaiannya. Tapi saya sadar, itu lagi masa-masa pelatihan. Lagi masa belajar. Jadi kudu sabar. Sampai akhirnya saya menemukan pola tulisan yang baik itu seperti apa, dan nyatanya saya bisa! Bisa naik level dari level ‘jelek aja nggak nyampe’, naik ke level ‘jelek’, dan sekarang alhamdulilah sudah pada tataran ‘baik’, hehehe…

Saya dapat pelajaran berharga bahwa menjadi menulis itu pekerjaan mulia, karena menyebarkan informasi yang benar bagi banyak orang. Itu setara dengan tugas nabi yang menyampaikan wahyu kepada umatnya. Apalagi kalau dapat kabar, banyak pembaca yang terinspirasi, tergerak, dari apa yang kita tulis. Subhanallah! Dari situ akhirnya saya mengikrarkan diri, saya akan terus menulis, dan akan tetap menulis! Alhamdulilah sudah ada beberapa buku yang sudah saya terbitkan, mulai dari beberapa cerpen, opini, dan beberapa buku, mulai dari antologi sampai buku yang ditulis sendiri.

Just for information, tulisan-tulisan saya yang sudah dibukukan diantaranya ada di antologi cerpen, “AKULAH PENCURI ITU” terbitan Indie Publishings, “SELAKSA MAKNA RAMADAN, ANTOLOGI CERPEN 200 KATA” terbitan LeutikaPrio. Buku pertama saya adalah B’RIGHT TEACHER, Panduan Jitu Jadi Guru Bermutu, yang diterbitkan Xaviera Publishings bekerjasama dengan Indiva Media Kreasi. Dan saat ini saya tengah menyiapkan buku kedua, kelanjutkan dari buku pertama. Rencananya buku kedua ini akan saya beri judul, “RIGHTEACHER; Jalan Paling Terang Menjadi Guru Berhati Cahaya. Mohon doa teman-teman ya….

Sungguh, saya tidak punya alasan untuk berhenti menulis. Ide-ide yang berkelindan dan berkeliaran di alam pikiran bawah sadar memaksa saya untuk segera menuliskannya, meskipun hanya satu paragraf! Dengan begitu saya menjadi lega. Bisa bernafas kembali dengan leluasa. Ibarat hidung mampet, langsung plong, karena lendir yang bersarang tiba-tiba keluar.

Alasan yang mengharuskan saya menulis hanya satu, menulis untuk mencerahkan. Saya belum menemukan cara terbaik untuk menyebarkan gagasan selain dengan menulis. Saya membayangkan begini, kalau saya, hanya bicara di seminar, pelatihan, atau workshop, kemudian tak ada satu pun peserta yang mengabadikannya lewat tulisan, mau seribu pelatihan sekalipun tidak akan punya efek apa-apa. Tapi sebaliknya, jika ada yang mengabadikannya lewat tulisan, kemudian menyebarkannya lewat media apapun baik sosmed, media massa, atau pun buku, itu jauh lebih abadi dari sekedar bicara.

Bisa kita bandingkan seorang pembicara, penceramah, atau trainer sekalipun, kalau ingin punya efek menyebarkan apa yang disampaikan, harus dibarengi dengan menulis buku. Kalau tidak, ucapannya hanya akan berlalu bersama angin. Kecuali ada peserta yang selalu mencatat apa yang disampaikan, kemudian mengumpulkannya dan menjadikannya buku. Nah, kalau tidak? Alamat terbawa angin dan lenyap entah kemana.

Pepatah Yunani mengatakan, “Scripta manent verba volant!” yang tertulis akan mengabadi, dan yang terucap akan berlalu bersama angin. Jelas sekali, satu-satunya cara untuk mengabadikan peristiwa adalah dengan menuliskannya. Kalau hanya bicara saja, bisa saja ngefek, tapi tak semasif lewat tulisan. Ini sejalan dengan hikmah yang disampaikan Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya.”

author
No Response

Leave a reply "Saya Tidak Punya Alasan Untuk Berhenti Menulis!"