Merubah Paradigma Berpikir Guru dan Orang Tua

DSC_0009Gedung Muslimat NU Kabupaten Tegal menjadi pilihan untuk penyelenggaraan Pertemuan Orang Tua Murid dan Guru pada Ahad, (2/8). POMG MI Terpadu Luqman Al Hakim dibingkai dengan tema Halal bi Halal dan silaturahmi karena bertepatan dengan bulan Syawal pasca kita melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Karena keterbatasan ruang gedung dengan kapasitas daya tampung 350 orang, maka POMG kali ini panitia menyajikan dengan 2 gelombang yaitu gelombang pagi untuk kelas bawah kelas 1,2 dan 3 dan gelombang siang kelas 4,5 dan 6.

Acara dibuka dengan tilawah kolaborasi siswa MI dengan mengumandangkan tahfidz surat juz 30 menjadikan acara semakin hikmat. Agus Kharir, S.Pd selaku ketua Yayasan hadir memberikan salam dan sambutan kemudian sambutan juga diberikan oleh ketua komite MIT luqman al Hakim Bapak Desi Afriyanto.

Kepala Madrasah Wiyarso, M.PdI menyampaikan dua agenda besar yaitu sosialisasi Kurikulum 2013 dan program kegiatan kesiswaan. Inti pembahasan kurtilas adalah memberikan pemahaman tentang kurikulum yang tahun ini diamanahkan Kementerian Agama kepada MIT Luqman Al Hakim untuk melaksanakan kurikulum 2013 kelas 1,2 dan 4,5. Harapan dari sosialisasi ini adalah adanya kesamaan persepsi antara guru, sekolah, dan orangtua dalam memahami pelaksanaan Kurikulum 2013.

Di hadapan para guru dan orang tua, Wiyarso menyampaikan bahwa kurtilas ibarat kita akan mendaki gunung. Jika mendakinya dengan perasaan enjoy maka akan merasakan keindahan, kesejukan, kebangaan dan kebesaran Sang Pencipta. Sehingga langkah kaki menjadi ringan, pikiran kita akan segar dan kita berjalan dengan penuh harapan. Meski lelah dan haus itu ada tetapi akan menjadi ringan ketika perjalanan itu menyenangkan. Sebaliknya kalau sebelum mendaki kita sudah membayangkan berat, licin, kaki sakit, jatuh ke jurang, udara dingin, tidak ada makanan dll maka pikiran kita menjadi negatif, kaki kita menjadi berat, hati kita  gundah. Perjalanan menjadi tidak menyenangkan bahkan bisa jadi kita tidak akan sampai pada tujuan “ itulah mindset (paradigma berpikir).

Substansi kurtilas adalah adanya 4 perubahan dari 8 standar pendidikan yang ada yaitu perubahan standar isi, standar pengelolaan, standar penilaian dan standar kelulusan

DSC_0047

Anak kita tidak hanya dinilai dari kemampuan akademik saja tetapi dinilai dengan menggunakan proses sikap spiritual, sikap social, pengetahuan dan skill (ketrampilan), tentunya perubahan ini tidak hanya memerlukan perubahan proses yang bersifat keadministrasian (penilaian) saja, lebih penting dari itu adalah perubahan paradigma berpikir seorang guru bahwa kemampuan anak kita tidak bisa dipotret hanya dengan satu kemampuan saja (akademik) tetapi aspek yang lain juga sangat perlu untuk disentuh (dididik) sebagaimana tujuan pendidikan nasional yaitu mencetak manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU 20 tahun 2013).Kalimat itu dirangkum dalam penilaian kurtilas dengan sikap, pengetahuan dan skill/ ketrampilan.

Maka tidak ada alasan kita untuk keberatan menerapkan kurtilas yang sangat mendukung dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana hakekat pendidikan yaitu lembaga pendidikan yang dapat menghantarkan peserta didik mampu merekonstruksi dirinya secara luas sehingga mampu membangun dirinya, keluarga, masyarakat sesuai dengan apa yang diinginkan Allah SWT (Ibnu Khaldun)

Perubahan yang lain yang disampaikan dalam forum tersebut adalah proses pembelajaran pendekatan saintifik, penilaian otentik dan pembelajaran tematik, lebih lanjut Wiyarso dengan gaya khasnya mencontohkan pembelajaran kurtilas berangkat dari pembelajaran langsung tidak terikat dengan buku, “kalau tema hewan dan tumbuhan anak langsung mengamati dilingkungan sekitar menulis dan mendiskusikannya, kalau pelajaran IPA perubahan dan perpindahan energy anak langsung mempraktekan membawa kipas angin, setrika, tape recorder. Untuk tema pekerjaan anak-anak bisa diajak langsung mengamati pasar, mengidentifikasi jenis dan macam- macam pekerjaan. Pembelajaran diawali dengan mengamati langsung sampi mendiskusikan dan mengkomunikasikan serta membuat kesimpulan.

“Selama ini yang menjadi keberatan dan merasa kesulitan oleh guru-guru adalah proses dan penyajian penilaian yang njlimet, ribet dan rumit” kata salah satu peserta rapat menanyakan, kembali lagi kita rubah main set kita bahwa penilain itu targetnya adalah bukan administrasi / merekap lembaran lembaran hasil pengamatan tetapi targetnya adalah terjadi perubahan sikap-sikap anak baik sikap spiritualnya maupun sikap sosialnya, apalah arti tumpukan kerta laporan kalau tidak terjadi perubahan sikap pada anak didik kita. Apalah arti tumpukan produk ketrampilan dan portofolio kalau anak kita tidak memiliki ketrampilan dan kemandirian. Wiyarso mencontohkan episode perjalan hidup uswah hasanah Rasulullah SAW yang pada usia 10 tahun sudah memiliki sikap kemandirian yang terasah dan ditempa pengalaman hidup sehingga di usia 25 tahun sukses berbisnis mampu memberikan mahar seratus ekor unta kepada khodijah. Itulah yang seharusnya menjadi pedoman kita untuk mendidik anak-anak kita.

Di akhir pertemuan Ali Irfan selaku Waka Kesiswaan menyampaikan beberapa program esktrakurikuler dan tata tertib siswa. Substansi dan tujuan kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya target anak bisa menang lomba tetapi yang lebih penting adalah untuk mengasah kemampuan yang dimiliki anak.

author
No Response

Leave a reply "Merubah Paradigma Berpikir Guru dan Orang Tua"