Penyesalan Dari Yogya

No comment 305 views

Oleh : Kayla Scientia Karimah Kelas 5A

Dalam perjalanan menuju ke sekolah, perasaanku senang sekaligus berdebar-debar apalagi ketika melihat Bus pariwisata yang akan membawa murid kelas V MI Lukman Al Hakim, terlihat sudah berjejer di depan masjid.   Malam ini setelah isya, rombongan study tour sekolahku akan berangkat ke Yogyakarta. Aku sudah tidak sabar lagi untuk segera bergabung dengan teman-temanku yang sudah berkumpul di Masjid.   Aku diantar Abi, Umi dan kakaku mba Risma naik mobil. Sampai depan masjid, abiku segera menghentikan mobil dan akupun segera turun bergegas menuju masjid untuk berkumpul dengan teman-temanku.

kayla_araf hakimSetelah rombongan mendapatkan penjelasan dari Ustadz , kamipun segera berangkat menuju tujuan wisata, kota Yogya.   Kami berebut untuk segera naik ke atas bus dan duduk sesuai tempat duduk yang sudah dibagi. Aku duduk dekat jendela berdampingan dengan temanku namanya Kemala. Umi ikut naik ke atas bus membantu membawakan dua tas punggung berisi pakaian ganti dan makanan camilan untuk diperjalanan.   Dari jendela samping aku lihat di luar bus, Abi dan mba Risma melambai-lambaikan tangan sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Melihat gerak mulutnya aku bisa menebak apa yang diteriakan Abi dan mba Risma, sepertinya berkata, “Jangan lupa oleh-olehnya ya Laa….”.

Mba Risma aku lihat menatapku terus, seolah-olah berpesan agar aku tidak sampai lupa membelikan oleh-oleh pesanannya. Abi yang berdiri disamping kakaku terlihat sering mengelus-elus kepalanya, mungkin maksudnya memberi isyarat supaya aku tidak lupa membelikan topi.   Lain dengan Umiku yang masih diatas bus dan berdiri disampingku, hanya memanjatkan doa agar aku diberikan kemudahan, kelancaran dan perlindungan Allah Swt. dan berpesan supaya aku berhati-hati. Saat bus mau berangkat Umi segera turun dari bus dengan terburu-buru.

Bus perlahan mulai berjalan, aku melambaikan tangan ke Abi, Umi dan mba Risma. Ada sedikit rasa sedih berpisah dengan mereka, terutama Umiku. Dalam hati aku berjanji, Aku harus membelikan oleh-oleh pesanan mereka. Semoga aku tidak lupa. Abiku pesan topi warna hitam, mba Risma pesan kaos warna merah muda dan Umiku sandal batik. Uang saku dua ratus ribu rupiah pemberian Umi, mudah-mudahan cukup.   Dalam hati aku ingin membuktikan bahwa meskipun aku kecil dan tidak pernah pergi keluar kota sendirian, aku bisa membelikan oleh-oleh pesanannya dengan harga murah.

Dalam perjalanan aku tertidur lelap dan tanpa sengaja bersandar di pundak Kemala.   Perjalanan yang menyenangkan terbawa dalam mimpi tidurku sampai akhirnya aku terbangun. Begitu aku terbangun, aku melihat keluar jendela mencari tulisan alamat yang biasanya ada di depan kantor atau toko di pinggir jalan untuk mengetahui perjalanan sampai di daerah mana.. Bus berjalan pelan dan sepintas aku membaca tulisan “Yogyakarta Melihat Gerhana”. Ternyata perjalanan sudah sampai ke tempat tujuan kota Yogyakarta.   Aku merasa senang dan rasa kantukpun langsung hilang.   Bus berhenti di sebuah masjid dan kamipun melaksanakan sholat subuh berjamaah. Sehabis sholat subuh rombongan menuju restoran untuk sarapan pagi, untuk selanjutnya menuju lokasi pantai Drini.

Hamparan pasir putih pantai Drini menyambut kedatanganku. Di pantai Drini, kami dipersilahkan untuk bermain sepuasnya. Tanpa berlama-lama Aku, Lia, Ungu dan teman-temanku yang lain bergandengan tangan menuju ke tepi pantai. Kami senang melihat pantai yang luas dan Indah. Ketika aku melangkah agak ke tengah tiba-tiba ombak datang dan aku terjatuh ke belakang.   Air laut masuk ke mulutku. Rasa asin yang sangat asin membuat aku ingin muntah. Aku mencoba menahan untuk tidak muntah tapi tidak berhasil dan akhirnya aku pun muntah.

Perjalanan dilanjutkan ke Candi Prambanan, Taman Pintar dan selanjutnya ke Malioboro. Di Malioboro banyak ditawarkan benda-benda menarik untuk oleh-oleh. Aku bingung mencari benda-benda pesanan Abi, Umi dan mba Risma.   Tidak lama kemudian mataku tertuju pada deretan kaos warna-warni dengan gambar penunjuk arah dan tulisan Malioboro-Yogya. Kaos warna merah bergambar kartun sepertinya cocok dipakai mba Risma. Aku mengajak temanku untuk menemani dan memberanikan diri bertanya pada penjualnya, “Oom…..kaos yang merah ini berapa harganya?.

Penjual itu tidak langsung menjawab tapi balik bertanya, “Ini ade-ade rombongan dari mana?”

Aku dan temanku menjawab, “Dari Slawi Oom”.

“Slawi??”, jawab penjual itu heran dan melanjutkan, “Slawi itu mana ya de?”

Kamipun menjawab, “Slawi, Kab Tegal”.

“Ooooo…..Tegal”, jawab penjual itu sambil manggut-manggut.

“Kaos ini harganya dua puluh lima ribu, de”, kata penjual itu sambil pergi mau melayani pembeli yang lain.

Harga kaos dua puluh lima ribu menurutku sangat mahal, akhirnya aku tidak jadi membelinya. Akupun melanjutkan melihat-lihat ke tempat lain. Banyak sekali barang-barang yang dijajakan di sini. Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat topi hitam bertuliskan “My Trip”, sepertinya cocok untuk Abiku. Ya, Abi pasti senang kalau aku belikan topi itu. Tapi sayang harganya dua puluh ribu, menurutku cukup mahal. Aku ragu-ragu dan tidak jadi membelinya karena malu dan tidak berani menawar.

Asyik berjalan-jalan di Malioboro, sederet sandal menarik perhatianku. Hatiku berdebar-debar ingat pesanan Umi. Tapi lagi-lagi aku ragu untuk membelinya. Sandal batik yang dipajang hanya aku lihat-lihat saja, sambil sesekali memegang dan mengukur kira-kira cukup tidak ya dipakai umi. Aku bingung mau membeli atau tidak. Ternyata aku memutuskan untuk tidak membelinya.

Di Malioboro aku hanya berhasil membeli dua gantungan kunci seharga dua ribu rupiah dan kue Bakpia Patok satu bungkus seharga tiga belas ribu. Jadi jumlah uang yang aku keluarkan sebanyak lima belas ribu rupiah. Sisa uang saku masih seratus delapan puluh lima ribu rupiah.

Rombongan MI Lukman Al Hakim akhirnya bersiap-siap pulang ke Slawi. Kami pun satu persatu masuk ke dalam bus dan melanjutkan perjalanan pulang.   Ditengah perjalanan pulang kami tidak banyak berbicara. Aku hanya mengingat-ingat kegiatan yang sudah dilaksanakan. Karena capek akhirnya aku tertidur dan bermimpi.

Tidak seperti saat berangkat ke Yogya, kali ini mimpiku sangat menyeramkan. Dalam mimpiku aku didatangi tiga mahluk raksasa yang mengaku sebagai Abi, Umi dan mba Risma. Meskipun wajahnya tidak sama dengan Abi, Umi dan mba Risma, Aku percaya bahwa raksasa itu adalah Abi, Umi dan mba Risma. Matanya menatap tajam ke arahku dan selangkah demi selangkah mendekat ke tempatku duduk. Aku ketakutan dan berusaha untuk lari tapi tidak bisa. Kakiku tidak bisa aku gerakan dan hanya bisa pasrah sambil menangis ketakutan.

Dengan suara menggema tiga raksasa itu bertanya, “Kayla…laaa…laaa…laaa….laaa, Kamu…muu….muuu….muuu….muuuu……lupa dengan oleh-oleh pesanan kami  Yaaa…Yaaa….Yaaa….Yaaa…..Yaaa……???”

Aku semakin ketakutan dan menjawab lirih, ”Maaf…..aku lupa, tadi mulutku kemasukan air laut pantai Drini, akhirnya aku jadi pelupa”.

Mendengar alasanku, ketiga raksasa itu semakin marah dan membentak, “Apa…paaa…paaa….paaa…?? Kamu lupa…paaa…paaa…paaa….???”

“Baiklah anak mungil…ngill…ngill…ngill…, akan aku hukum kamu dengan minum air pantai Drini…niii….niii…niii…….”

Gelas raksasa berisi air pantai Drini akan diminumkan kedalam mulutku. Tapi tiba-tiba aku terbangun. Saat aku terbangun ruangan dalam bus terlihat remang-remang karena lampunya dimatikan. Penumpang banyak yang tertidur termasuk Kemala disebelahku. Aku bersyukur ternyata kejadian tadi hanya mimpi. Pikiranku langsung tertuju pada oleh-oleh yang tidak berhasil aku beli. Dalam hati aku menyesal kenapa tadi aku malu dan tidak berani untuk membeli kaos, topi, dan sandal batik waktu berada di Malioboro. Yang aku beli malah bukan benda-benda pesanan mereka. Hanya sebungkus kue Bakpia Patok dan gantungan kunci. Aku merasa bodoh dan bersalah. Pasti nanti aku akan dimarahi habis-habisan apalagi aku masih ingat mba Risma sempat mengacungkan kepalan tangan ke arahku. Aku hanya bisa memanjatkan doa dan berharap semoga Abi, Umi dan mba Risma tidak marah dan ikhlas hanya diberi oleh-oleh gantungan kunci dan satu bungkus kue Bakpia Patok.

Sebelum Subuh Bus sampai di kota Slawi. Bus langsung berhenti di depan masjid Imam Safii. Rombongan segera turun sambil membawa tas masing-masing menuju teras masjid. Aku duduk-duduk di teras masjid menunggu Abi menjemput ditemani ustadz dan Ustadzah.   Tidak lama kemudian Abi dan Umi datang. Turun dari mobil Umi langsung meyapaku, mencium dan memeluku. Perasaan takut dan bersalah hilang ketika aku dipeluk Umi. Akhirnya kami bergegas menuju ke mobil untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Abi dan Umi silih berganti menanyakan kegiatanku selama di Yogya.

Sesampainya di rumah, mba Risma sudah menunggu sambil duduk di kuris meja makan. Kami duduk-duduk mengelilingi meja makan. Segelas teh manis hangat ternyata sudah dipersiapkan untuku. Setelah minum teh manis hangat, aku membuka saku tas dan mengambil barang yang aku beli di Malioboro. Dua gantungan kunci dan sebungkus kue Bakpia Patok. Aku ceritakan tempat membeli dan harganya. Anehnya mereka tidak satupun yang menanyakan oleh-oleh pesanannya. Aku bersyukur kepada Allah, karena mengabulkan doaku. Mereka tidak marah bahkan Abi dan mba Risma tertawa terbahak-bahak setelah tahu uang sakuku masih seratus delapan puluh lima ribu rupiah. “Kayla, kamu hemat sekali, uang sakunya masih sisa banyak”, kata Umi.

“Iya, Mi, ini uangnya Kayla kembalikan”, kataku sambil mengambil uang yang aku simpan dalam tas.

Sambil menunggu adzan subuh aku bercerita tentang perjalananku ke Yogya. Abi, Umi dan mba Risma mendengarkan sambil menikmati kue Bakpia Patok rasa keju. Ditengah-tengah kami bercerita, Umi sesekali mengingatkan bagaimana cara memilih barang dan menawar harga. Aku menyesal karena sebelum berangkat sebenarnya aku sudah diberi tahu bagaimana menawar harga, tapi aku malu dan ragu-ragu untuk menawar dan membeli barang. Dalam hati aku berjanji suatu saat tidak akan malu dan ragu-ragu menawar dan membeli barang. ***.

author
No Response

Leave a reply "Penyesalan Dari Yogya"