Mengasah Jiwa Enterpreneurship Sejak Dini

No comment 165 views

“Mentega mana mentega!”
“Minyaknya bawa sini…!”
“Tambah garam sedikit lagi…!”
“Ini keasinan. Tambah sedikit gula!”

Suasana crowded menghiasi ruang kelas 5C. Mereka terlihat sibuk mempersiapkan menu spesial yang akan diperlombakan dalam merebut perhatian pelanggan. Tingkah sekaligus polah khas anak yang berisik  justru berhasil menarik perhatian kelas lain penasaran dengan apa yang tengah mereka lakukan. Hasilnya, anak-anak kelas sebelah yang penasaran pun jadi  tertarik untuk memesan.

Jumlah mereka pun bertambah hanya dalam hitungan menit. Mereka bahkan rela antri demi mendapatkan pesanan. “Senang sih, untungnya teman-teman pembeli sabar menunggu. Ya, walaupun ada di antara mereka yang nggak sabaran, minta didahulukan. Tapi tetap kita layani siapa yang lebih dulu pesan,” ungkap Adinda disela-sela kesibukannya melayani pelanggan.

Rabu, 21 April kemarin kelas 5C menjadi kelas paling sibuk. Ruang kelas beralih fungsi seperti stand kuliner yang menawarkan aneka makanan dan minuman yang menggoda lidah.Pagi itu, seluruh anak-anak terlihat bekerja sama saling membantu  satu sama lain dalam satu tim untuk menyiapkan menu yang akan mereka jual, dalam momen market day!

Menu yang mereka tawarkan beragam, mulai dari roti bakar aneka rasa. Ada pula yang membuat tempe mendoan, mie telor, pale-pale, omelet, cireng, dan cilok special. Dari minuman pun tak kalah menggiurkan, mulai dari es buah, es jeruk, lemon tea, es the, ice milk, dan es selasih.

Masing-masing kelompok berkompetisi meraup omset terbanyak. Beragam strategi pun mereka lancarkan. Mulai dari ada yang memberikan harga terjangkau, bahkan sampai harga yang sangat terjangkau! Termasuk memberikan sample kepada calon pembeli.

Saya sebagai pengampu mata pelajaran Kurikulum 2013 pun sangat menikmati kesibukan mereka. Semua proses yang mereka kerjakan, sama sekali tanpa campur tangan saya. Itu murni kreativitas mereka dalam membuat sajian kuliner. Nyatanya mereka bisa. Masalah rasa, tidak begitu mengecewakan. Saya membayangkan ke depan mereka adalah entrepreneur-enterpreneur hebat! Semua diawali dari sini.

Yang menarik dalam moment market day kemarin adalah laris manisnya jualan mereka, malah ada  yang sampai indent! Bahkan kelompok Tsabita, sampai belanja bahan-bahan lagi karena pesanannya sudah ludes terjual! Kelompok ini bahkan mendapatkan omset dan laba terbesar dibandingkan kelompok lain.

Saat saya tanya apa hal paling mengesankan selama memasak ini?  “Waktu belanja lagi ustad!” kata Adits dengan mata berbinar. Omset yang mereka raih dari hasil jualan omelet sebesar 149ribu rupiah! Modal yang mereka keluarkan hanya 32ribu. Itu artinya total laba yang mereka dapatkan adalah 117ribu. Inilah kelompok dengan penghasilan omset terbanyak!

Sementara kelompok Shafira, harus puas dengan omset sebesar Rp. 84.500. Kelompok Hanifa mendapatkan omset yang lebih tinggi dengan selisih yang tidak terlalu banyak, yakni Rp. 87.000. Perolehan laba keduanya hampir 50% dari omset setelah dikurangi modal.

Sementara dari tiga kelompok putra, tak satu pun dari mereka yang mendapatkan untung. Dagangan mereka memang laris, tapi mereka kurang perhitungan dalam menentukan harga jual. Hasilnya, omset yang mereka dapatkan, lebih kecil dari modal yang mereka keluarkan. “Kelompok kami rugi, tapi kami senang, karena sekarang jadi tahu bagaimana cara jualan yang benar. Tidak sekedar laku, tapi juga harus untung,” ungkap Kenny. Meski mengaku rugi, tapi mereka mengalokasikan sebagian hasil penjualan hari itu untuk diinfakkan ke dalam kas kelas. Subhanallah! [Ali Irfan]

author
No Response

Leave a reply "Mengasah Jiwa Enterpreneurship Sejak Dini"