Satria Abimanyu, Siswa MI Luqman Al Hakim Taklukkan Gunung Slamet!

Oleh Satria Abimanyu/2  Juni  2016

Kali ini aku pengen berbagi pengalaman waktu hiking bersama ayah ke gunung Slamet via guci yg tingginya 3428 meter dari permukaan laut (mdpl). Tentunya semua udh pada tau dong gunung tertinggi ke-2 di pulau jawa ini setelah gunung Semeru dan merupakan gunung tertinggi di provinsi jawa tengah. Aku dan ayahku pilih jalur guci karena lebih deket dari rumahku di slawi.
Kegiatan ini aku awali dengan packing perlengkapan yang dibutuhkan untuk ke gunung, mulai dari tenda, kompor, jas hujan, baju ganti serta yang tak kalah penting makanan dan minuman. Setelah semua perbekalan sudah masuk ransel, kami langsung berangkat menuju guci pukul 09.00 WIB, tak lupa aku pamit dan mohon doa restu pada ibuku tercinta dan kedua adikku.
Di tengah perjalanan kami mampir ke toko untuk membeli tambahan persediaan makanan, sesampainya di guci kami langsung menuju basecamp KOMPAK (Komunitas Pencinta Alam Pekandangan). Ayahku melakukan registrasi agar nama kami terdaftar, setelah itu kami melakukan packing ulang agar nggak ada barang yang tertinggal.  Setelah dirasa cukup, kami memulai petualangan sekitar  pukul 10.00 WIB.
Dengan diawali doa, kami memulai perjalanan menuju pos I. Pada jalur basecamp menuju Pos I kami melewati hutan pinus. Menurut informasi dari peta yang diperoleh saat registrasi, antara basecamp sampai dengan Pos I bisa ditempuh kira-kira 1 jam (itupun kalau tidak tersesat). Karena banyak pendaki tersesat di jalur ini, malah saat baru keluar dari basecamp menuju pos I karena banyak percabangan jalan. Tapi Alhamdulillah… kami sampai pos I dengan selamat.  Kami mencoba meluruskan kaki yg sudah lumayan pegel.
Karena kami berniat mendirikan tenda di pos V, akhirnya hanya beberapa menit  kita istirahat… kami lanjutkan perjalanan ke pos II, waktu tempuh dari Pos I ke Pos II kira-kira 90 menit. Jalur dari Pos I ke Pos II kami melewati hutan yang masih sangat lebat. Pohonnya besar-besar dan batang pohonnya ditumbuhi lumut (kalau boleh jujur aku agak takut saat melewati jalur ini…hehe). Sampai di Pos II kami istirahat sekaligus makan siang dan sempat bertemu beberapa pendaki yg mau turun, kita makan seadanya, karena di gunung ga bisa mesen nasi padang. Setelah makan kita rehat sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Pos III.
Perjalanan antara Pos II sampai dengan Pos III kira-kira 60 menit. Jalurnya masih sama, hutan belantara. Akhirnya kami sampai di Pos III kami meluruskan kaki agar pegelnya bisa reda. Istirahat hanya 15 menit hanya minum seteguk air, karna biar hemat disana soalnya agak susah nyari sumber air.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos IV.  Jalur dari Pos III ke Pos VI adalah hutan yang mulai terbuka. Mempunyai jarak terjauh dibandingkan pos-pos sebelumnya. Waktu tempuh yang dibutuhkan kira-kira-kira 150 menit.

Di tengah perjalanan dari Pos III menuju Pos IV kabut mulai menutupi jalan sehinnga rumput dan tumbuhan liar melukai kaki kami. Hujan mulai turun rintik-rintik membasahi pakaian kami, ayah cepat-cepat mengambil mantel di tas dan langsung kami pakai. Setelah sampai di Pos IV kami langsung jalan menuju ke Pos V, karena hujan kami tidak istirahat dan memilih untuk terus berjalan. Di tengah perjalanan antara Pos IV sampai Pos V, segerombolan Owa Jawa (lutung) berlompatan dari pohon satu ke pohon lainnya. Mungkin gerombolan Owa Jawa itu pulang ke sarang setelah mencari makan.

Badai mulai datang sore itu aku sudah tidak kuat untuk melanjutkan ke pos V karna hawa itu dingin dan gelap. Akhirnya ayah memutuskan untuk membuat tenda di lahan miring, dan menyuruhku agar sholat dhuhur dan ashar.
Setelah hari mulai malam kita membuat tenda ayah mengeluarkan kompor untuk menghangatkan tubuh tetapi kompor yg isinya spirtus itu ke tendang ayah lalu api menyambar tenda bagian bawah dan tenda bolong, kita langsung panik gara-gara tenda terbakar. Setelah tubuh merasa hangat ayah menyuruh ku untuk memasak mie dan membuat jahe hangat.

Hujan pun reda ayah mencari pasak agar tenda tidak terbang, tetapi pasak tenda tidak ketemu, ayah menyuruhku untuk mencari ranting untuk dijadikan pasak. Setelah dipasak menggunakan ranting, aku segera masuk ke tenda untuk melaksanakan solat maghrib dan isya. Lalu aku membuat kopi hangat sambil ngobrol dengan ayah. Dalam obrolan itu ayah banyak menasehatiku. Satu nasehat yang paling kuingat ”Bim hidup itu seperti mendaki gunung. Untuk bisa meraih puncak Abim harus melewati jalan yang menanjak, kadang terpeleset bahkan kadang terpelanting. Harus berjalan dibawah teriknya matahari atau menembus dinginnya hujan. Tapi Abim jangan menyerah dan jangan gampang putus asa. Tetap fokus menuju puncak, boleh nengok kebawah tapi jangan sampai Abim berfikir untuk turun sebelum kau raih puncakmu. Tapi jangan konyol lo ya, naik gunung bukan untuk gaya-gayaan, harus dengan persiapan yang matang, baik persiapan fisik, mental dan peralatan yang standar. Tanpa persiapan yang baik, kita bisa mati konyol digunung ”. Setelah ngobrol panjang kami mulai ngantuk, kemudian aku menyiapkan baju kepompong (sleepingbag) untuk tidur. Pada saat tidur aku dan ayah terpeleset ke bawah karena lahan tenda yang miring.

Matahari pun mulai terbit. Aku dibangunkan ayah dan ayah langsung menyuruhku shalat shubuh. Sudah menjadi tekad, dimanapun dan dalam keadaan apapun jangan tinggalkan sholat. Setelah shalat aku membuat energen untuk sarapan, setelah sarapan ayah menyuruhku menjemur pakaian yg basah karena terkena badai kemarin, tak kusangka tenda kami bergeser kebawah karena pasak ranting lepas. Aku berusaha mencari pasak yg hilang dan akhirnya ketemu. Aku segera memasang pasak tenda, setelah selesai ayah menyuruhku untuk mempersiapkan perlengkapan untuk menuju puncak gunung slamet.

Aku berangkat pukul 07.00 WIB, medan yg terjal tidak menyurutkanku untuk melangkah, aku tiba di pos V dan di pos lima itu ada peraturan yg tidak ada di basecamp yaitu : dilarang mengambil apapun selain foto, dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak, dilarang membunuh siapapun kecuali waktu.
Dan dipos V itu terakhirnya ada tumbuhan atau hutan karena di atas pos V disebut batas vegetasi. Setelah 2 jam lebih aku mencium bau belerang yg sangat menyengat berarti kawah sudah dekat, aku senang sekali karena hampir seluruh mimpiku tercapai.

Akhirnya aku sampai puncak gunung slamet yg tingginya 3428 mdpl, mimpiku tercapai untuk menaklukan gunung tertinggi ke 2 di Pulau Jawa dan mimpiku selanjutnya adalah menaklukkan Mahameru (puncak gunung semeru) yg ada di Jawa Timur. Alhamdulillah aku bisa menaklukkan Gunung Slamet dengan selamat. Dari puncak terlihat pemandangan yg indah sekali.
Kami menyempatkan foto-foto untuk mengabadikan momen spesial ini. Ada foto spesial buat seluruh teman-temanku kelas 6.

Kita turun dari puncak sekitar jam 10.30 WIB perjalanan turun ditempuh kira-kira 90 menit, ketika berjalan turun menuju tenda kita tersesat dan tak tau arahnya kemana, tapi untungnya kami bertemu pendaki lain yang hafal jalan arah turun ke pos V. Dari pos V kita turun sedikit dan akhirnya sampai tenda. Sesampainya di tenda aku membuat mie instan, aku memasak dan ayah merapikan tenda dan membereskan barang2 untuk dibawa turun (pulang), setelah mie matang kita makan bersama-sama. Aku mulai turun pukul 13.00 WIB menuju pos VI, sebenarnya perjalanan turun lebih cepat dari pada perjalanan naik. Saat turun aku bertemu para pendaki yg kebetulan mau turun juga, aku lalu meminta agar pendaki itu untuk turun bersama-sama saja biar ga sepi. Dan mereka setuju dengan usulku. Kita berjalan turun bersama ke pos III, II, dan pos I sesampainya di pos I aku rehat sebentar sambil meregangkan kaki. Setelah istirahat aku melanjutkan perjalanan menuju basecamp untuk segera pulang ke rumah.
Sampai di basecamp aku segera mandi membersihkan diri dari rumput liar. Lalu  aku melaksanakan dolat duhur dan ashar. Sambil menunggu adzan magrib aku membeli stiker adzan magrib berkumandang aku segera solat dan menuju ke rumah.

Demikianlaah pengalaman ku pergi hiking bersama ayah. Dari cerita di atas ada yg bisa kita ambil pelajaran, bahwa untuk meraih cita-cita yang kita impikan (apapun cita-citanya) kita harus fokus. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Dalam proses meraih cita-cita tersebut tentunya banyak rintangan yang menghadang. Tapi jangan mudah menyerah dan putus asa. Tetap berusaha sebaik-baiknya dan hasilnya serahkan pada Allah swt.
Pesanku buat teman-teman, jangan pernah takut untuk naik gunung karena banyak sisi positifnya. Tapi ingat, jangan asal naik gunung tanpa persiapan yang cukup dan tanpa didampingi oleh yang berpengalaman.

author
One Response
  1. author

    Ustdh Oema1 year ago

    Mas abiem sholih selalu ya nak…

    Reply

Leave a reply "Satria Abimanyu, Siswa MI Luqman Al Hakim Taklukkan Gunung Slamet!"