Perpisahan di Guci, Bakal Jadi History

2 comments 285 views

Oleh Sabrina Rahmasania

Ke Guci bersama teman-teman, menjadi kenangan yang ga bisa aku lupakan. Apalagi nanti bakal pisah sama mereka. Bakal jadi history bangetlah.
Pukul sepuluh kami berangkat menuju Guci dengan bus tiga perempat. Orang-orang menyebutnya elf.  Satu kelas satu bus. Putra-putri menempati bus terpisah. Kami berangkat dengan perasaan senang. Dalam perjalanan kami asyik bercengkerama bersama Ustadzah Oema tercinta.  “Nanti kalau sudah sampai di Guci, semua tas yang ada bawa turun semua, entah tas siapa itu,” pesan Ustadzah Oema.
Sampai di Guci, kami turun satu-satu dengan hati-hati. Semua saling bantu menurunkan barang bawaan.Ternyata setelah kita tiba di Wisma Srikandi, sudah banyak teman-teman dari kelas lain yang sudah sampai. Kira-kira pukul dua belas kami sampai di objek wisata pemandian air panas.
Begitu masuk wisma, Ustadzah Yuni tengah menempelkan kertas berisikan nama-nama kelompok di depan pintu kamar.  Kami segera mencari kamar yang telah ditentukan, dan segera meletakkan barang bawaan yang lumayan berat.
“Nak, Ayo makan dulu, setelah makan baru solat Dzuhur dijama’ dengan sholat Ashar yaa..,” kata Ustadzah Oema. Kami pun makan siang bersama. Menikmati lezatnya sop di tengah udara dingin pegunungan. Setelah itu sholat dzuhur berjamaah. Setelah semua selesai, ustadz Araf pun berteriak
“Kumpul dulu, kumpul.. semua baris sesuai kelas dan urut tinggi”
Tujuan kami ternyata menuju ke air terjun pancuran tiga belas. Di sana kami akan melakukan pemotretan. Kami berbaris rapi seperti kereta. Ustadz Araf pun tak lupa merekam perjalaan kami. Berjalan cukup jauh dari Wisma yang kita tempati.
Setibanya disana, satu persatu dari kami melakukan sesi pemotretan. Kami berpose seperti model. Ada yang malu-malu, ada yang terpaksa karena tak biasa difoto, malah ada yang narsis, hehehe….

***

Sore menjelang maghrib kami sempatkan untuk bersih-bersih diri sekaligus persiapan shalat maghrib. Seitar pukul setengah enam, kami berkupul untuk membaca Al ma’tsurat bersama-sama sembari menunggu adzan maghrib. Saat itu Hanifa bertugas sebagai imam shalat. Selepas isya, ada acara tukar kado. Kami istirahat sekitar pukul sepuluh malam. Semua disarankan istirahat agar besoknya fresh!
Jam setengah lima semua bangun untuk sholat Subuh, dan lanjut membaca Al Ma’tsurat bersama. Pagi itu kami bersiap-siap untuk kegiatan Outbond serta berenang di Wagu (Wahana Guci). Sebelum berenang, kita pemanasan dan mengadakan permainan yang dipandu Ustadz Ali.
Setelah puas outbound, kami sempatkan berenang di kolam renang. Puncak dari acara di Guci adalah pentas seni. Masing-masing kelas menampilkan pertunjukkan kreatifnya mulai dari menyanyi, drama, sampai stand up comedy.

author
2 Responses
  1. author

    Ustdh Oema1 year ago

    Sejarah….
    Yang akan ada dalam hati kalian, walau setitik…

    Reply
  2. author

    Dedicated servers4 months ago

    Tapi karena air pemberian wali itu sangat terbatas, pada malam Jumat Kliwon, salah seorang sunan menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Pancuran 13 tersebut dibuat Patung Naga untuk mengingatkan akan daya mistis yang ada dikawasan Obyek Wisata Guci.

    Reply

Leave a reply "Perpisahan di Guci, Bakal Jadi History"