Telur Ayam

1 comment 408 views
Telur Ayam,5 / 5 ( 1votes )

Karya : Hilma Hakim Kelas 5A MI Luqman Al Hakimdsc_2776

Icha tidak doyan telur ayam. Padahal sebelum Icha berusia 5 tahun, hampir setiap hari telur ayam menjadi menu wajib. Sudah 3 tahun lebih Icha tidak makan telur ayam. Ini karena ayah Icha fobia telur ayam. Menurut ayah Icha, telur itu menjijikan. Ada suatu hal yang membuat ayah Icha fobia telur. [Dan aku disini sebagai penulis cerita tidak akan memberitahukan kejadian itu karena memang Icha tidak cerita he he] Icha pun jadi ikut-ikutan ayahnya. Tidak mau makan telur ayam. Akan tetapi daging ayam tetap menjadi makanan favoritnya.

“Icha, waktunya sarapan!” Seru Ibu Icha dari ruang makan.

Di meja makan sudah tersedia nasi yang masih panas, sayur sup, dan ayam goreng kesukaan Icha.

“Ibu, kapan ayah pulang?” tanya Icha

“Ayah sedang ada pekerjaan di Surabaya. Pulangnya bulan Februari “ Jawab ibu Icha. Sekarang sudah bulan Januari.

Usai makan Icha berangkat sekolah diantar ibunya menggunakan mobil.

Saat di sekolah…

“Hai Risma!” Sapa Icha. Risma adalah teman sekelas Icha dari kelas tiga SD, Risma itu murid baru kelas tiga.

“Hai! Tadi kamu sarapan apa?” Tanya Icha.

“Telor mata sapi. Kalau kamu?”

“Ayam goreng” Jawab Icha. “Telur, apa enaknya, sih?Batin Icha. Mereka pun pergi menuju kelas bersama.

***

Pulang sekolah, Icha langsung mencari ibunya.

“Ibu!

Ibu di mana, ya?” gumam Icha. Icha mencari Ibu sampai ke taman, teras, halaman, serta dapur karena Icha sudah sangat lapar.                     

“Assalamualaikum…. Ibu pulang!” Seru Ibu.

“Walaikumussalam… Ibu dari mana?” Tanya Icha yang masih kebingungan.

“Habis beli telur. Hari ini ibu mau goreng telur” Ujar Ibu.

“Lho? Telur? Ibu mau goreng telur?” Tanya Icha kaget dan heran. Ibu hanya menganggukan kepalanya pelan.

 “Kenapa?!” Icha terlihat tak suka. Maklum, bertahun tahun ia tak makan telur ayam.

“Ibu malas ke pasar. Jadi beli telur saja di warung Bu Rusdi. Lagi pula kita lama nggak makan telur..” Jawab ibu santai. Tas kresek di tangannya diletakan ke dapur. Icha berjalan mengikuti ibu.

“Ya sudah! Aku nggak mau makan!” Icha terlihat sangat kesal.

“Masya Allah! Kamu harusnya bersyukur, ibu masih bisa menggorengkan telur ayam. Di luar sana masih banyak anak seusiamu yang susah mendapatkan makanan” Nasihat ibu.

Icha menunduk sedih. Mungkin ia sadar, kata-katanya tak pantas keluar dari mulutnya.

“Menurutku telur itu tidak ada istimewanya. Beda jauh sama ayam goreng” Ucap Icha pelan. Wajahnya masih menunduk. “Ini semua karena ayah.. Gara gara ayah pergi aku harus makan telur ayam..” Gerutu Icha sangat pelan. Tapi, upss… ibu mendengarnya!

“Apa kamu bilang?! Gara-gara Ayah?! Ayahkan fobia telur. Tidak baik kamu katakana itu” Ibu sudah terlihat sangat kesal. Icha sudah hampir meneteskan air matanya.

“Pokoknya aku hanya mau ayam goreng!”

“Telur itu harus disyukuri, kalau nggak ada telur,  pasti nggak ada ayam!”

 “Ayam juga butuh tenaga yang kuat untuk mengeluarkan telur dari perut” Lanjut ibu.

Icha sudah kehabisan kata-kata untuk berdebat. Akhinya tak disengaja air mata Icha terjatuh. Tiba-tiba Icha berlari keluar. Ibu mengikutinya dari belakang.

“Ayam maafin aku ya, udah ngejek kamu. Telur kamu juga” Kata Icha.

Icha mengelus-elus kepala ayam milik Pak Arman tetangganya.

“Hus! Icha apa yang kamu lakukan?” Tanya ibu penasaran.

“Minta maaf sama ayam” Jawab Icha polos.

“Syukur yang punya ayam lagi pergi. Kalau ada? Juga buat apa minta maaf sama ayam? Aneh” Ejek ibu.

“Ih, Ibu ini” Kesal Icha. “Ayo pulang!” Seru Ibu Icha.

Icha hanya merunduk malu. Ibu langsung pergi menuju dapur sedangkan Icha…

“Ibu sebagai tanda permintamaafan aku, aku mau bantu Ibu goreng telur!” Seru Icha.

“Ha ha ha ha ha ha ha…” Tawa Icha dan Ibunya.

Akhirnya Icha kembali menyukai telur. Icha dan ibunya hari itu makan telur goreng spesial dengan toping sosis.

***

author
One Response
  1. author

    agun1 year ago

    Mantap keren hilma siip

    Reply

Leave a reply "Telur Ayam"