Kecemasan Guru Baru

3 comments 152 views

Dwi Apriliani

Butuh proses menyesuaikan diri di lingkungan baru. Teman baru, murid baru, dan peraturan baru. Tak mengapa, sudah aku pikirkan hal yang mungkin terjadi. Semua diawali dari nol lagi, dan aku harus siap mental untuk menghadapinya. Suasana seperti sekolah inilah yang lama aku idamkan dan menjadi impianku sejak lama.

Suasana yang religius, penuh ukhuwah, kebijakan yang tidak otoriter, fleksibel, dan amanah terhadap hak-hak pendidik. Aku tak henti-hentinya bersyukur atas amanah ini.

Aku ditugaskan mengajar di kelas satu, sebagai guru pendamping. Aku senang-senang saja. Apapun tugas yang diberikan kepadaku, dengan sukacita ikhlas menerima, dan berusaha melaksanakan amanah sebaik baiknya.

Hari-hari berlalu, menapaki petualangan baru di MI Luqman Al Hakim. Aku merasa tidak sulit untuk menghadapi anak-anak didik kelas satu. Berbekal pengalaman mengajar di sekolah  yang dulu, membuatku tampil percaya diri di hadapan anak-anak.

Awal, aku ragu apa bisa meneruskan kebiasaan mengajar di luar kelas? Ada kecemasan sebagai guru baru, meski saya yakin ini sebenarnya hanya perasaan jelekku saja. Aku takut dianggap guru baru bertingkah “macam-macam”, sok-sokan ngajarnya. Karena aku mendapati sendiri, masih banyak sekolah  yang  menganggap aneh mengajar dan belajar di luar kelas. Ditambah lagi lingkungan sekolah yang kurang mendukung , dan motivasi dari guru sendiri yang lemah karena tak bisa mengelola kelas dengan baik.

Tapi kecemasanku tidak terbukti. Nyatanya, aku malah diminta mengeksplor sebaik mungkin, sekreatif mungkin, seinovatif mungkin dari cara mengajar. Beberapa guru di sini juga sudah lebih dulu melakukannya. Akhirnya, aku termotivasi untuk melakukan metode mengajar yang menyenangkan, salah satunya dengan outing class tadi.

Banyak yang bilang aku beruntung bisa diterima di MI Luqman Al Hakim. Anggapan mereka mungkin karena melihat gedung bertingkat, jumlah murid yang banyak, kelas pararel, fasilitas belajar mengajar memadai, ditambah gaji guru yang hampir menyamai guru PNS. Siapa tidak senang?

Manusiawi sekali jika menginginkan yang serba enak. Tetapi di lubuk hati yang paling dalam, terbesit sedikit rasa takut : kufur nikmat. Terbuai dengan kesenangan, lupa tugas awal: mendidik dengan keikhlasan. Luruskan niatku Ya Allah.

***

author
3 Responses
  1. author
    Author

    admin5 years ago

    Terima kasih Ustadzah Lia dah kirim tulisan. Insya Allah bermanfaat.

    Reply
  2. author

    oema5 years ago

    Kapan aq sempatnya ya?

    Reply
  3. author
    Author

    admin5 years ago

    Nah, ditunggu cerita-cerita serunya, Ustadzah Oema.

    Reply

Leave a reply "Kecemasan Guru Baru"