Perdebatan Sia-sia

3 comments 197 views
Oleh : Nabilah Kharisma Aulia
Kelas 6c

 

Azka, Ibna, Hilya, Salma, Nahla, Nasya, Nastya dan Chirly berkumpul di depan papan pengumuman sekolah.  Mereka berdelapan memang teman sebaya satu kelas.  Hobi mereka memang tergolong unik.  Mereka suka berburu berbagai  kegiatan lomba.  Dimanapun, kapanpun dan jenis apapun lomba yang diselenggarakan, mereka pasti tidak pernah ketinggalan ikut menjadi peserta.  Bisa dibilang lomba adalah mata pencaharian mereka berdelapan.  Banyak koleksi hadiah dan piala yang sudah mereka dapatkan.  Mulai dari lomba tarik tambang, lomba balap karung beregu, gopak sodor, memasak beregu, menari, lari estafet, kasti dan sebagainya.  Mereka memang terkenal sebagai kelompok anak-anak yang rukun dan kompak.  Kebersamaan mereka yang tidak dipertanyakan lagi itu membuat lawan-lawanya lemas sebelum bertanding.

Tapi anehnya akhir-akhir ini tampaknya kebersamaan dan kekompakan mereka sudah mulai melemah.  Jalinan pertemanan merekapun sudah mulai tidak baik.  Diantara mereka mulai sering terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan.  Payahnya lagi, mereka masing-masing mulai menonjolkan dirinya masing-masing.  Kebersamaan yang dulu terbangun tampaknya sedikit demi sedikit mulai akan runtuh.  Yang ada hanyalah akulah yang berjasa, akulah yang benar, akulah yang paling menentukan keberhasilan selama ini.  Masing-masing dari mereka mulai merasa berjasa dan mulai mementingkan kepentingannya masing-masing.

Kali ini mereka sedang mencermati sebuah pengumuman lomba yang cukup menarik minat mereka.  Pengumuman lomba menari daerah dengan hadiah yang sangat menggiurkan.   Betapa tidak, hadiah itu adalah hadiah yang selama ini mereka impi-impikan.  Hadiah umroh bersama untuk semua peserta tari.

“Woooww sangat menggiurkan bro….“ kata mereka bersamaan.

“Kita harus ikut” kata Chirly penuh semangat.

“Ya, kita ikut dan harus juara” teriak Ibna dengan nada tinggi.

“Oke bro, cepat kita daftarkan grup kita, lihat pendaftaran terkahir hari ini.  Kita harus segera mendaftaraka grup kita”.

“Tenang bro, pendaftaran tutup sampai sore hari, masih ada waktu” celetuk Nastya dan melanjutkan

“Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah jenis tari daerah mana yang akan kita tampilkan?”.  Nahla langsung mengomentari

“Ya, harus kita tentukan dulu jenis tarinya.  Kalau saya punya pendapat tari jawa saja, gampang dan asyik”.

“Tari jawa? Uhh ribet dan sulit untuk dilakukan.  Kalau menurutku lebih baik tari Aceh, iramanya enak, dan mudah dikerjakan. Dan yang pasti tari Aceh punya lebih besar peluang untuk juara”  Salma tidak mau ketinggalan memberikan pendapat.

Ternyata keinginan mereka tidak sama, masing-masing punya keinginan sendiri-sendiri. Mereka tampak terus berdebat mempertahankan pendapatnya  masing-masing

Tanpa mereka sadari hari sudah menjelang maghrib, mataharipun hampir tenggelam.  Mereka berdelapan belum juga selesai berdebat untuk menentukan tari apa yang akan mereka tampilkan.  Bahkan perdebatan semakin seru.

Sementara ditempat sekretariat panitia lomba, beberapa panitia  tampak sedang berkemas merapikan berkas pendaftaran peserta lomba.  Ketua panitia lomba terlihat memberikan arahan kepada anggota panitia.

“Oke teman-teman, hari ini merupakan hari terakhir pendaftaran peserta lomba sampai sore hari ini telah terdaftar 50 group.  Ini artinya  jumlah peserta telah melebihi target.  Oleh karena itu saya nyatakan pendaftaran lomba ditutup dan tidak boleh lagi ada pendaftaran.  Sekali lagi kami nyatakan pendaftaran lomba telah ditutup”.

Seluruh anggota panitia lomba segera berkemas dan menutup pintu kantor sekretariat panitia dan pulang ke rumah masing-masing.

Azka, Ibna, Hilya, Salma, Nahla, Nasya, Nastya dan Chirly masih belum menentukan jenis tari yang akan mereka tampilkan.  Masing-masing saling membantah dan bersikeras bahwa pendapatnyalah yang harus disetujui.

Tiba-tiba, ketika suara adzan magrib berkumandang mereka baru tersadar kalau mereka belum mendaftar ikut lomba.

“Waduh…kenapa kita tidak segera mendaftar? Inikan hari terakhir pendaftaran?  Hilya bertanya dengan nada gugup dan cemas.

 “Ya, ampuuunnnn, ini sudah magrib, ini sudah malam” jerit Ibna sambil memandang ke atas langit.

“Betul kamu Hil, ini terakhir pendaftaran dan pasti loket pendaftarn lomba sudah tutup. Kenapa kita buang-buang waktu berdebat tentang jenis tari? Sekarang pupus sudah harapan untuk ikut lomba” Kata Nasya sambil matanya berkaca-kaca mau menangis.

“Ya, Nas, kita tidak mungkin ikut lomba dan kita sudah tidak mungkin lagi mendapatkan hadiah yang selama ini kita impi-impikan, hu..hu…hu…” Nastya menangis sesenggukan, “Kita sudah kalah sebelum bertanding gara-gara kita berdebat yang tidak penting, huuu..huuu..huuuu”.

“Gara-gara kamu sih Nas, kita jadi lupa untuk mendaftar nih..” kata Chirly menyalahkan Nastya.

“Coba kita tadi langsung mendaftar ke panitia lomba, jadinya nggak seperti ini”, lanjut Chirly.

“Huuuu….huuuu..huuuuu” Nastiya terus menangis.

“Sudah-sudah, kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, ini kesalahan kita semua. Kita terlalu mementingkan dan memaksakan keinginan kita masing-masing”,  Azka mencoba menghibur teman-temannya yang sangat kecewa dan sedih.

“Tidak Azka, ini salahku, Chirly benar, ini semua gara-gara aku, huu…huuu…huu.”  Jawab Nastya lirih sambil menangis.

“Maafkan aku, huu…huuu…huuuu”  lanjut Nastya sambil menundukan kepala sembari mengusap air matanya yang mulai mengalir deras.

“Kamu tidak salah Nas, kita semua yang salah.  Coba kita renungkan, seandainya kita tidak saling memaksakan keinginan kita masing-masing, kejadianya tidak begini”  Ibna mencoba menyadarkan tema-temannya.

Suasana hening, yang terdengar hanya suara lirih tangis sesenggukan. Mereka menyadari kesalahannya masing-masing.  Sebuah pelajaran berharga telah mereka dapatkan.

Merekapun berpelukan, menangis, saling meminta maaf menyesali sikapnya yang telah keliru.  Dalam hati mereka berjanji tidak akan lagi memaksakan kehendak dan keinginannya tanpa mau mendengar pendapat dan kehendak orang lain.

Sambil menunduk dan membisu, mereka bersama-sama berjalan menuju masjid untuk mengambil wudhu dan sholat magrib.

***

author
3 Responses
  1. author

    oema5 years ago

    Terus semangat untuk selalu bekarya…I love u girl….

    Reply
  2. author

    daryono5 years ago

    ceritamu menyentuh hati nok cantik…..kamu sangat berbakat menjadi penulis, teruskan..!!!!

    Reply
  3. author

    Ning Nafis4 years ago

    Semoga menjadi inspirasi untuk kita bisa memanaje waktu tidak dengan sia-sia

    Reply

Leave a reply "Perdebatan Sia-sia"