Bulan yang Kehilangan Cahayanya

11 comments 232 views

Karya: Ibnati Ulya Darojatin

(Kelas 6C MI Luqman Al Hakim Slawi)

Bulan purnama bersinar terang. Sinarnya masuk ke dalam kamarku melalui jendela yang masih terbuka. Kulihat keluar jendela. Di luar, ada seorang anak duduk di bangku ayunan sembari menatap purnama yang bersinar terang.

Namanya Bulan. Usianya sebaya denganku. Namun dia tidak bersekolah. Warga di sini pun menjauhinya karena perlakunya yang aneh. Terkadang dia tertawa sendiri, tetapi tiba-tiba dia menangis. Bahkan, dia sering melempari orang yang tidak dikenalnya dengan batu.

“Bulan!” seruku dari atas balkon.

“Kak, ada Mama! Ada Mama!” teriaknya sambil menunjuk-nunjuk sesuatu. Segera ku hampiri dia. Aku duduk di sampingnya. Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Bulan, kita tidur di kamar saja, ya?,”

“Nanti saja, Kak. Itu, nanti Mama sendirian..” ia menunjuk ke arah bulan purnama.

“Mama kamu nggak ada, Bulan…” kataku.

“Kakak, Mama Bulan masih ada. Itu, lihat! Mama! Mama senyum, Kak!” ia terus menunjuk bulan purnama itu. Aku bingung. Ia terus menunjuk-nunjuk bulan sambil tersenyum. Dia bilang ada Mamanya disana.

“Itu? Itu Mama kamu, Bulan?” ku tunjuk juga purnama itu.

“Iya, Kak. Mama cantik ya?,” kata Bulan. Aku hanya mengangguk heran.

“Ambilkan bulan bu.. ambilkan bulan bu.. yang slalu bersinar di langit..” Bulan bersenandung kecil sambil terus menatap purnama.

Dalam hati aku menangis. Bulan merindukan Mamanya.Mamanya sudah tiada.Ia anggap bulan purnama itu Mamanya. Ia juga selalu menyanyikan “ Ambilkan bulan bu” yang pernah aku ajarkan padanya jika ia sedang ingat Mamanya.

“Bulan, ini sudah malam. Kita tidur di kamar ya,” ajakku.

“Mama, Bulan tidur dulu , ya,” ia tatap bulan purnama itu sekali lagi dan ia lambaikan tangannya. Segera ku gandeng dia ke kamar.

“Selamat tidur, Bulan,”

Esok harinya..

Hari ini hari Minggu. Namun ada setumpuk pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Dan sekarang aku hendak menyelesaikan tugasku membuat batik yang harus selesai besok.

Betapa terkejutnya aku ketika ku lihat Bulan dikamarku dan dia sedang mencorat-coret kertas gambar pola batik yang akan ku buat. Aku langsung lemas. Aku harus membuat gambar pola batik itu lagi. Pola itu sangatlah susah. Aku ingin sekali marah pada Bulan. Tapi tunggu dulu. Bulan menggambar sebuah bulan purnama. Aku tersentak. Aku urung memarahinya. Pasti Bulan teringat Mamanya lagi.

“Bulan, ini siapa?,” tanyaku sambil menunjuk gambar purnama itu.

“Ini Mama, Kak,” jawabnya sambil terus asyik mencorat-coret kertas pola batikku. Biarlah. Biarkan ia mengingat Mamanya.

Bulan, mungkin ia depresi. Ia seperti ini setelah sebuah kecelakaan merenggut nyawa kedua orang tuanya. Berhari-hari ia menangis kehilangan orang tuanya.

Setelah kejadian itu, perilakunya berubah. Ia tertawa sendiri, melempari orang dengan batu, dan yang paling sering ia lakukan adalah menganggap bulan purnama sebagai Mamanya.

Keluarganya tidak ada yang mau mengakuinya. Bulan kini sebatangkara. Ibu dan aku memutuskan mengajak Bulan tinggal di rumahku. Aku sungguh kasihan dengannya. Aku ingin sekali dia kembali seperti semula.

Setiap hari sepulang sekolah, ku bantu Bulan belajar. Ku ajari dia membaca, menulis, dan ku ajari pula dia pelajaran yang aku dapat. Kini Bulan sudah bisa banyak hal. Aku bersyukur sekali, aku tak ingin dia tertinggal dalam kebodohan.

Selama ini Bulan memanggilku “Kakak” meskipun usianya sama denganku. Dia dan aku juga tidak ada hubungan saudara. Tapi aku dan Bulan memang dekat. Aku dan dia bersahabat sejak kecil. Walaupun dia berubah, aku tetap menyayanginya.

Orang-orang disini mengucilkannya. Banyak orangtua yang tak mau anaknya dekat-dekat dengan Bulan. Mereka takut anak-anak mereka jadi seperti Bulan jika mereka bermain dengannya. Bahkan terkadang Bulan dimaki-maki.Jika aku membela Bulan, mereka malah memarahi dan mengolok-olok aku.

Bulan, hidupnya sangat menyedihkan. Tetapi semua ini ia jalani tanpa air mata. Kecuali saat ia kehilangan orangtuanya. Itu tak akan hilang dari ingatannya meskipun membuatnya menangis. Tak apa, meskipun dia sendiri, yang terpenting dia masih memiliki aku, orang peduli dengannya.

“Bulan, aku janji. Aku akan terus jadi sahabatmu, menemanimu, mengajarimu, dan merawatmu sampai kamu kembali seperti sedia kala. Aku ingin kamu bahagia, seperti aku. Aku ingin cahayamu bersinar lagi seperti dulu,” batinku dalam hati.

“Ambilkan bulan bu

Ambilkan bulan bu

Yang slalu bersinar di langit

Dilangit bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang

Ambilkan bulan bu

Untuk menerangi

Tidurku yang lelap

Di malam gelap…”

Bulan bersenandung lagi sambil mendekap erat gambar purnama itu.

* * * *

Tags:
author
11 Responses
  1. author

    Ibna4 years ago

    kok fotonya yang itu? -_-
    foto pas kemwil tu..

    Reply
  2. author
    Author

    admin4 years ago

    Ya, tadi nyari-nyari, kayaknya yang paling bagus dan tampak cantik ya foto itu. He he he

    Reply
  3. author

    kang draup4 years ago

    kalau dulu kang draup dibawah cahaya bulan main petak umpet

    Reply
  4. author

    raufa4 years ago

    Bagus

    Reply
  5. author
    Author

    admin4 years ago

    Terima kasih Ibna ceritanya. Ditunggu karya bekirutnya.

    Reply
  6. author

    Nafis Awwalia Mahardika4 years ago

    keren…

    Reply
  7. author
    Author

    admin4 years ago

    Atas permintaan penulis, foto diganti.

    Reply
  8. author

    Ibna4 years ago

    ustad… masih ada foto yg itu… tolong di hapus ya..

    akunya jelek tu.. 🙁

    Reply
  9. author

    Ibna4 years ago

    penulis meminta foto diganti atau kembali seperti foto sebelumnya

    Reply
  10. author
    Author

    admin4 years ago

    Oke Ibna cantik, foto dah diganti. Maaf.

    Reply
  11. author

    pa wi4 years ago

    ibna …. mana tulisan berikutnya ? ust nunggu lho !

    Reply

Leave a reply "Bulan yang Kehilangan Cahayanya"