Aku Sayang Kakak

8 comments 239 views

Karya : Tsabita Maula Izzati

Kelas 3A MI Luqman Al Hakim Slawi.

Terdengar suara bergemuruh dari kamar kakak sehingga memembangunkanku dari tidur dan mimpi indahku yang semula indah menjadi berantakan. Aku pun keluar dari kamar dan berjingkat seperti pencuri, menuju kamar kakak yang berada di sebelah kamarku.

Kubuka pintu kamar kakak. Aku membukanya dengan sangat perlahan seperti pencuri (yang aku ceritakan tadi hihihi…pencuri apaan yah? Perasaan tadi aku nggak nyeritain deh, hihihi…).

Setelah kubuka, ternyata di dalam kamar sudah ada Ummi yang tengah membereskan barang-barang yang berserakan di kamar kakak sambil menenangkan kakak yang sedang marah tanpa sebab (hihihi…)dan tak lama kemudian, setelah selesai membereskan barang-barang kakak, Ummi pun merangkul kakak.

“Huh, kakak lagi, kakak lagi,” aku menggerutu kesal. Lalu, aku pun menangis dan lari menuju kamar (hihihi… gayanya… kayak di sinetron…) agar tidak ada yang melihatku menangis.

***

Kriiing…Kriiing… bel pulang sekolahku (yang terkenal itu,ciee…)yaitu SDIT Ar-Ridho berdering. Anak-anak kelas IVA langsung bubar kecuali aku dan sahabatku Nisa.

“Kesya, aku boleh nggak main ke rumah mu?” Tanya Nisa dengan penuh harapan.

“Em… mungkin lain hari” kataku sambil menundukkan kepala. Sepertinya Nisa kecewa karena beberapa kali dia ingin bermain ke rumahku, aku selalu menolaknya.

Maaf kan aku sahabat, aku tidak akan mengecewakanmu, tetapi, bagaimana dengan keadaan kakakku sekarang, kakakku penyandang Autis. Kadang, kalau di ajak bermain di luar, kakak selalu masuk ke rumah orang tanpa izin hanya untuk melihat kipas angin yang berputar (ya iyalah, namanya aja kipas angin,).

Pernah juga, banyak anak kecil yang menyebut kakakku orang gila, tentang kejadian itu, aku langsung mengadu pada Ummi. Lalu, Ummi berkata;

“Kakak itu penyandang Autis, makanya, kakak itu disenangi dan disayang Allah” kata Ummi.

***

Malam harinya, Abi baru pulang dari kantornya. Setelah Abi mandi dan berganti baju, kami (Abi, Ummi, Aku dan kak Aliya) se-keluarga pun sholat maghrib berjamaah dan makan malam bersama. Dimeja makan, Abi dan Ummi bercakap-cakap (ngobrol-ngobrol) tentang kejadian tadi siang.

“Bi, tadi siang, saat sedang terapi wicara, kakak sudah bisa menyebutkan kata sayang, cantik dan mengucap serta menjawab salam” Ummi memulai pembicaraannya.

“Alhamdulillah…” kata Abi singkat. Kakak lagi, kakak lagi, yang diurusin kakak…,terus, gerutuku kesal. Tiba-tiba, selera makan ku hilang.

***

Setelah selesai makan malam, Abi duduk-duduk di ruang tamu. Aku dan Ummi baru selesai mencuci piring dan Ummi langsung menghampiri Abi dan aku lari menuju kamar. Perkataan Nisa tentang tadi siang ter- ngiang-ngiang dipikiranku. Sedangkan kakak sedang asyik menggambar di ruang keluarga. Oh,iya! Aku lupa, kakakku itu, sangat pandai menggambar. Sampai-sampai, dia pernah menjuarai lomba menggambar tingkat nasional. Lalu,tak lama kemudian, aku pun menghampiri Abi dan Ummi yang sedang duduk-duduk di ruang tamu.

“Kesya kenapa? Kok wajah nya kusut begitu? belum di setrika ya?” Tanya Abi sambil bercanda.

“Hush, jangan begitu Bi, nanti wajahnya tambah kusut lagi,” Ummi juga, iseng nya mulai keluar.

“Ini Mi, Bi, kan temanku yang namanya Nisa kan mau main kesini, selain Nisa, banyak teman perempuan ku yang mau main kesini, tapi, setiap ada yang mau main kesini, aku selalu menolak nya, Mi, Bi” jelasku panjang lebar.

“Kenapa kamu tolak?” Tanya Ummi. Alis nya berkerut tanda tidak tau.

“Aku malu Mi, kalau aku punya kakak kayak gitu” kataku.

“Kenapa harus malu? Kalau temanmu Tanya, lebih baik kamu jawab seperti ini; ’Kakakku itu anak paling istimewa dimata Ummi Abiku dan juga dimata Allah’” kata Abi panjang lebar.

Lalu, aku menghampiri kakak yang sedang asyik  menggambar di ruang keluarga.

“Kakak sayang…” kataku. Kakak sama sekali tak menjawabnya seakan tak mendengarkan perkataanku. Lalu, aku memegang dagu kakak dan mengarahkannya ke hadapanku. Cara ini biasa dilakukan Ummi dan Abi saat mengajak kakak bicara.

“Kesya sayang kakak,” kataku kembali. ”Iya” jawab kakak singkat lalu berhenti sejenak seakan sedang berpikir sesuatu.

“Kakak sayang cantik Kes-ha…” kata kakak. Ummi dan Abi yang melihatnya terkejut spontan dan tak henti-hentinya menyebut Asma Allah. Kalimat ini kalimat yang paling panjang dan paling sempurna yang baru kali ini kakak katakan.

Aku sayang kakak. I Love you Kak Aliya!.

author
8 Responses
  1. author

    Ariez4 years ago

    Subhanallah… Tulisan Mba Bita bagus, Keren… Sepertinya bakat neh jadi Penulis, Terus Berkarya ya Mba…

    Reply
  2. author

    ismail4 years ago

    kereeen

    Reply
  3. author

    Alvy4 years ago

    Well done mba Bita… 🙂 subhanaAllah luar biasa.. Salam sayang Dari kami di Newcastle

    Reply
  4. author

    al_husna4 years ago

    subhanallah, luar biasa …
    sangat inovatif dan imajinatif,.
    padahal masih kecil ya…
    yg sudah tua seperti sy sja belum tentu bisa. hehe,..
    terus berkarya ya mb bita,..

    Reply
  5. author

    Raufa4 years ago

    Allahu Akbar. Ceritanya bagus buanget. Sangat menyentuh sarat hikmah. Aku sayang Tsabita!

    Reply
  6. author

    Anita Triyastuti4 years ago

    Subhanallah, Ceritanya bagus, semoga bisa memotivasi temen-temen lain untuk berkarya, Semangat !

    Reply
  7. author
    Author

    admin4 years ago

    Ananda Tsabita, ditunggu cerita serunya lagi. Banyak yang nuggu, lho…

    Reply
  8. author

    Ali Irfan4 years ago

    Deg! Ini bukan tulisan main-main. Luar biasa Tsabita! Kau sudah punya bakat jadi penulis hebat. Kisah ini tidak biasa untuk ditulis seorang anak-anak. Nanti ikut ekskul jurnalistik ya.. biar semakin terasah kemampuan menulisnya.

    Reply

Leave a reply "Aku Sayang Kakak"