Selaraskan Persepsi Melalui Apersepsi

3 comments 291 views

Oleh Ali Irfan

Bagi kalangan guru, istilah apersepsi tentu sudah sangat familiar. Namun sayang, masih banyak ditemukan para guru yang belum benar-benar memanfaatkan apersepsi saat mulai mengajar. Masuk kelas, langsung to the point. Tidak jarang cara mengajar model ini membuat anak didiknya merasa tertekan.

Salah satu contoh adalah ketika saya mendengar ada seorang guru tidak mengajar gara-gara tak mampu mengendalikan siswa-siswa yang hiperaktif. Ia lebih memilih mengabiskan waktu duduk dan baca koran di perpustakaan, dibandingkan mengajar. Ketika saya tanya kenapa tidak mengajar? Jawaban yang saya dapatkan sungguh mengejutkan, “Anaknya susah diatur.” Ia sudah langsung down, begitu masuk kelas melihat anak-anak yang ramai sekali. Sudah berusaha menenangkan, tapi tak membuahkan hasil.

Satu kata yang terlintas saat menemui kejadian di atas adalah ada yang salah tentang apersepsi. Mungkin masih terpacu pada pola lama, datang hanya bawa materi yang akan diajarkan, yang dalam bayangannya anak-anak akan mengikuti semua perintahnya saat di kelas, sementara kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Kejadian di atas menjadi suatu pertanda bahwa pemahaman apersepsi masih sangat kurang dikuasai guru.

Banyak yang menganggap apersepsi hanya berperan kecil terhadap proses belajar mengajar, padahal bagian ini menjadi bagian terpenting karena menentukan keberhasilan proses pembelajaran berikutnya.

Menit-menit pertama saat memulai pembelajaran akan sangat menentukan pada menit-menit berikutnya. Jika guru mampu menghadirkan nuansa penuh kenyamanan saat memulai pembelajaran di kelasnya, maka sudah bisa dipastikan menit-menit berikutnya akan menjadi miliknya.

Kesan pertama atau dalam istilah pedagogic disebut apersepsi merupakan momentum penting bagi guru dalam mengawali kelas. Apersepsi tidak sebatas pada tugas guru mengecek kehadiran siswa, mengulas pelajaran sebelumnya sampai bab mana atau mengajukan sebuah pertanyaan, pelajaran  kemarin sampai mana? Lebih dari itu, apersepsi merupakan sebuah seni menarik perhatian anak-anak di awal pelajaran agar anak-anak merasa tertarik, terpacu semangatnya untuk mengikuti pelajaran pada hari itu.

Apersepsi ini sering salah dipersepsikan sebagai kegiatan mengucapkan salam, mengabsen kehadiran, padahal pengertian apersepsi sebagaimana yang dipaparkan oleh William James sebagai ide terpenting dalam psikologi pendidikan. Ia menyebut apersepsi sebagai the act of taking a thing into the mind, bahasa  yang paling mudah dipahami atas pengertian itu adalah pengondisian, yakni mengondisikan otak anak ke dalam kondisi alfa, sebuah kondisi yang tepat untuk anak belajar. Menurut Munif Chatib, anak yang sedang masuk dalam kondisi alpa akan mengalami kondisi yang rileks tapi waspada.

Berikut beberapa contoh apersepsi yang bisa dipraktekkan saat mengawali sebuah kelas, agar tak ada lagi kejadian seperti yang terjadi pada kisah guru yang saya ceritakan di awal paragraph ini.

Kata-kata motivasi yang menghibur

Kata-kata motivasi ini disampaikan dengan penuh antusias dan senyum lugas, dan menggunakan bahasa positif. Sebagai contoh, “Alhamdulilah hari ini kita masih bisa merasakan segarnya udara pagi. Ya, silahkan yang tidak masuk angkat tangan?!”

Atau dengan cara lain, “Sebelum belajar kita harus konsentrasi. Ingat, konsentrasi. Konsentrasi itu dari dua  kata. Konsen dan terasi. Jadi, kalau nanti ada yang nggak konsen, berarti…”

Otomatis anak-anak akan menjawab, “Terasi.”

Guru sambil ngeles, “kalian sendiri lho yang bilang,”

Ice Breaking

Gambaran jelas saat mempraktekkan apersepsi jenis ini adalah semua anak berdiri, tangan kanan diangkat, kemudian peserta menepuk pundak kanan teman sebelah kanannya, sambil mengikuti kata-kata gurunya.

“Teman-teman/ hari ini/ kita akan/ belajar Bahasa Inggris/ Agar kelak/ kita bisa/ keliling benua/ yang tersebar /di berbagai belahan dunia/ Karena itu/ semangatlah/ belajarlah/ agar bisa/ meraih apa yang kita impikan! Berjanjilah/ agar nanti/ saat belajar/ tidak mengantuk/”

Kemudian sebaliknya, tangan kiri membalas kata-kata yang tadi.

“Baiklah teman/ saya turut bahagia/ karena hari ini / kita bisa belajar bersama. Saya berjanji, akan selalu semangat / dan tidak ngantuk / dan jika nanti / saya mengantuk / maka saya siap / menguras lautan!”

Dijamin pada kalimat terakhir kelas akan terbawa suasana gerr.

Senam Otak

Senam ini identik dengan training, padahal kalau diterapkan di kelas tidak salah-salah amat, karena senam otak  ini mampu merilekskan anak-anak. Ini efektif dipraktekkan saat pergantian jam pelajaran. Gerakan brain game ini gerakan sederhana saja yang dipraktekkan, seperti pada contoh berikut:

“Coba angkat tangan kanan ke atas. Tunjukkan kedua jari seperti ini, lalu gerakkan, semakin cepat, semakin cepat, lalu tempelkan ke dagu!” begitu mengucap kata dagu, kedua jari guru ditempelkan ke dahi. Bisa dipastikan sebagian peserta menempelkan jarinya ke dahi, bukan ke dagu. Cukuplah sang fasilitator dalam hal ini guru mengatakan, “Sejak kapan dagu pindah ke dahi?”

Atau bisa dengan cara seperti ini,

Tahap pertama, tangan kanan putarkan ke depan, pastikan semua anak bisa melakukannya. Langkah berikutnya adalah menggerakkan tangan kiri ke belakang, atau arah sebaliknya. Langkah ketiga adalah menggerakkan kedua tangan secara bersamaan dengan arah berlainan. Ini akan semakin seru ketika dibarengi dengan musik.

Fun Story

Cerita lucu ini bisa berupa gambar, cerita lucu, atau tebak-tebakan yang didapat dengan berbagai cara mulai dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, buku-buku humor, maupun internet, dll.

Dalam B’right Teacher yang saya tulis, saya menuliskan pengalaman saat mengawali kelas Bahasa Inggris, sebagai berikut.

“Please make sentences by combining three words, green, pink, and yellow!” Buatlah sebuah kalimat yang mengganbungkan tiga kata, green, pink, dan yellow dalam Bahasa Inggris.

Semua berpikir keras untuk membuat kalimat dengan menggunakan tiga kata tersebut, namun dianggap sebagai bukan jawaban yang diharapkan, meskipun benar. Jawaban yang saya lontarkan adalah, “When I heard the phone rang, green, green, green, I pink up the phone holder, and I said, yellow?”

Pada prinsipnya, apersepsi adalah cara merebut hak mengajar. Hak mengajar itu ada di tangan siswa, bukan di tangan guru, selembar ijazah atau akta IV. Apabila siswa rela memberikan hak mengajar itu kepada seorang guru, guru tersebut pasti akan diterima oleh siswanya ketika proses belajar berlangsung. Nah, seorang guru harus proaktif untuk memperoleh hak tersebut. Gerbang awal itu untuk mendapatkan itu adalah dengan memaksimalkan apersepsi. (foto: Araf Hakim)

 

Ali Irfan, Penulis Buku B’right Teacher,

Guru Sekolah Islam Terpadu MI Luqman Al Hakim, Kabupaten Tegal

author
3 Responses
  1. author

    Ayasy Abdurrahman5 years ago

    admin itu sapa sich

    Reply
  2. author

    Eva Ilmiyatin Wihdah5 years ago

    wah bagus banget ustad Ali,tulis lagi dong pengalaman mengajarnya.Boleh tanya nggak, gimana sich cara membangkitkan motivasi belajar pada anak? soalnya susah sekali anak saya kalo disuruh belajar. Matur nuwun sebelumnya

    Reply
  3. author

    Ali Irfan4 years ago

    Terimakasih sdh membaca, Bu Eva. Insyaallah, saya akan selalu menuliskan kisah-kisah belajarmengajaryang saya alami. Kisah2sebelumnya sudah saya bukukan dalam buku B’right Teacher :PanduanJitu Jadi Guru Bermutu. Disana,Bu Eva bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Kuncinya simple, Jadilah pusat Perhatian anak-anak, dengan Mengajar yang tidak biasa.

    Reply

Leave a reply "Selaraskan Persepsi Melalui Apersepsi"