Air Mata Pun sampai Menetes di Lembaran Surat

2 comments 177 views

Bagi anak-anak kelas IV, Mabit adalah momen paling ditunggu-tunggu setelah buka puasa sunnah bersama. Jauh-jauh hari mereka sudah membayangkan suasana mabit. Mata mereka berbinar-binar manakala melihat di materi pekanan ada agenda mabit.

Ini terbukti, saat kegiatan mabit kelas 4 yang dilaksanakan Sabtu malam Minggu kemarin berjalan dengan penuh meriah. Anak-anak datang jam 5 sore. Dengan penuh semangat mereka murojaah surat Al Mutaffifin dan surat Al Infitor, dilanjut dengan shalat maghrib. Sesi malamnya siswa diberi materi ibadah, kepribadian, motivasi ESQ, dan terakhir muhasabah.

Sesi terakhir ini anak-anak tak kuasa menahan haru, meneteskan air mata. Mereka diingatkan tentang jasa ayah dan juga ibu yang tak pernah lelah merawat dan mendidik dengan penuh cinta. Mereka diingatkan pula tentang kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat, yang lebih banyak menyakiti perasaan ayah dan juga ibu.

Hampir dipastikan siapapun tak kuasa menahan haru ketika diminta merenungi jasa ayah apalagi ibu. Sat itu mereka diajak membayangkan betapa tak kenal lelahnya seorang ayah mencari nafkah, namun sebagai anak lebih banyak mengecewakan, lebih banyak menuntut sesuatu diluar kemampuan ayahnya. Sebagai anak selalu meminta lebih sementara perhatian kepada ayah tak pernah diperhatikan.

Air mata anak-anak kelas 4 semakin menderas manakala diingatkan tentang sosok ibu, yang rela tak tidur semalaman karena tangisan anaknya sewaktu kecil, seorang ibu yang tak pernah mengungkapkan kelelahanya meskipun lelah mendera sedemikian hebat. Semua itu ia lakukan karena untuk anaknya.

Masih dalam suasana isak tangis, Ustad Amirudin meminta anak-anak menulis surat cinta kepada kedua orang tuanya. Pada momen itu dengan bebas anak-anak mengungkapkan perasaan cintanya lewat kata-kata. Bahkan sampai ada air mata menetes di atas lembaran surat yang sedang mereka tulis. Surat itu lalu diberikan kepada ayah ibunya.

Berikut adalah contoh surat yang ditulis oleh Fai kelas 4B.

Tulisan ini dari Fai untuk ibu dan bapak

Ibu, bapak, maafin Fai kalo sering marah. Teriakin dan mukulin ibu atau bapak. Tolong maafin sekali lagi, maafkan sekali lagi

Fai mulai sekarang akan nurut sama bapak ibu. Ga akan pernah bantah lagi, nggak akan mukulin ibu lagi. Nggak akan kasar lagi. Fai janji nggak akan nakal  lagi.

Fai tau selama ini mungkin pernah berkata kasar. Fai tahu, banyak sekali perlakuan kasar sama bapak dan juga ibu.

Sebenarnya Fai yang salah sama ibu dan  bapak.  Bapak dan ibu nggak pernah salah karena sudah banyak jasa. Ibu sudah capek-capek nyari makanan buat Fai. Sedangkan bapak sudah capek kerja sampai lembur.

Mungkin Fai bakal ngomong sepuluh ribu kali ucapan terimakasih. Pokoknya terimakasih atas semua kemanjaannya ya bu, pak, Fai sangat berterimakasih.

Dari anakmu

Fai

 

 

author
2 Responses
  1. author
    Author

    admin4 years ago

    Jam 3 pagi anak-anak harus bangun untuk melaksanakan sholat malam. Ustad Herwanto yang jadi imam dengan sabar memberi semangat anak-anak untuk menyelesaikan hingga 8 rokaat ditambah 1 rokaat witr.

    Setelah sholat subuh berjamaah, olah raga bersama menjadi kegiatan penutup mabit. Jadi anak sholeh ya, Nak!

    Reply
  2. author

    Rafi Gm4 years ago

    Suratnya mengharukan

    Reply

Leave a reply "Air Mata Pun sampai Menetes di Lembaran Surat"