Hidup Bagaikan Roda

1 comment 158 views

Karya : Raisha Sovia Mawarni

Kelas 6 B MI Luqman Al Hakim

Aku sedang duduk sendiri di dekat sawah belakang sekolah. Aku sedang meratapi kesengsaraanku. Aku bingung, mengapa hidup ku seperti ini? Hidup orang lain bahagia. Mengapa aku tidak? Ha? Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku perbuat sehingga membuatku seperti ini?

Aku perhatikan,mereka yang lain gampang sekali mendapat kan kebahagian bagi diri nya dan juga diri orang lain. Mengapa aku tidak bisa? Padahal aku hanya ingin merasa kebahagian di hidupku. Mengapa aku harus terluka agar orang lain bahagia ?

Sekali lagi, aku ingin merasakan bahagia. Bukan hanya melihat kebahagiaan orang lain. Itu saja.

Tapi kapan ssemua itu terjadi?

“Hidup memang seperti ini” Ucap seseorang

“Apa? “ belum apa-apa, aku sudah emosi. Mungkin karena aku sedang sedih.

“Aku pernah merasakan apa yang sedang kamu rasakan.”

“Kau tau nama ku. Tapi kau tak tau cerita hidup ku”. Aku tak suka dengannya.

“Aku pernah merasakan rasanya saat sedang banyak masalah. Sungguh itu tak mengenakan” Dia seperti tak menghiraukan omongan pedasku.

“Aku tak suka denganmu, tinggalkan aku sendiri.” Ucapku galak.

Dia hanya tersenyum tipis.

“Hei, dengar tidak? Tinggalkan aku!” Aku mengulangi ucapanku.

“Hidup akan terasa bosan saat kau tarlalu sering sendiri. Apalagi kau mengusir orang yang telah peduli padamu”. Ujar nya

“Siapa? Kau peduli padaku?“  Aku mendengus kesal.

“Sudah kukatakan tadi. Aku pernah merasa sengsara. Tapi buktinya, aku sekarang bahagia. Aku bahagia karna aku bisa menerima kritikan orang lain. Walau itu mungkin memang menyebalkan dan terlihat mengerti. Padahal tidak mengerti. Itu memang menyebalkan. Tapi apa yang kau sedang rasakan sekarang itu adalah pengalaman yang pernah aku rasakan.” Ujar nya panjang.

“Aku dengan kau beda. Jangan samakan aku dengan kau” Aku masih kesal.

“Memang beda. Hidup itu bagaikan roda yang berputar. Kadang kita ada di atas, kadang pula kita ada di bawah.” Dia menjelaskan dengan bahasa orang dewasa.

“Apa maksudmu? Ha ?” aku yang emosi sudah mulai mengeluarkan kata-kata yang agak kasar.

“Kadang kita di bawah. Maksudnya, kadang kita sedih dan sengsara seperti ini. Kadang memang kita menganggap hidup sudah tak ada artinya lagi. Namun sebenarnya ada. Kadang kita di atas. Kadang kita merasa senang bisa tersenyum, bahkan kita bahagia. Bahagia membuat kita  lupa dengan semua nya. Sampai Tuhan memberikan cobaan pada kita. Dan kita harus sadar itu. Bersyukurlah bila Tuhan masih memberikan kita cobaan. Artinya, Tuhan masih sayang sama kita. Tuhan ingin,kita slalu ingat Dia. ”Dia tersenyum lebar. Dia seperti menghibur ku. Namun tak bisa.

“Begitu, ya ?”  Dengan muka cuek aku berkata seperti itu.

“Ya, Kau senang?”

“Tidak sama sekali.”

“Mengapa?” Baiklah, aku akan pergi.tapi jangan menyesal jika kau di takdirkan sendiri di dunia ini.” Ancamnya.

“Ha? Apa maksud mu? Aku sudah bilang, aku tak suka dengan mu” Aku emosi dan mendorong bahunya.

“Santai, aku akan di sini bersamamu. Aku ingin, aku lah yang pertama melihat mu tersenyum. Boleh ya?” Tanya nya.

“Mungkin kau bisa disini..”Aku mulai tersenyum karena kata kata nya itu.

“Aku sudah melihat nya! “ Dia tersenyum sangaatt lebar.

“Ya, kau sudah melihat nya…”

Namanya juga hidup. Tuhan yang menentukan, kita yang menjalani, orang lain yang mengomentari. ~ simple

Apapun yang akan terjadi, semua harus diterima dengan ikhlas. Dan syukuri apa yang ada.

Bukalah matamu sebesar dunia. Dan lihatlah mereka yang juga peduli padamu. Bukan hanya satu orang yang peduli pada mu~

***

author
One Response
  1. author

    raisa bla bla bla4 years ago

    :3

    Reply

Leave a reply "Hidup Bagaikan Roda"