Lily and Astoria Magic School

1 comment 163 views

DSC_0024Oleh Mona Zulfa Aszar

Siswi MI Luqman Al Hakim Kelas 6A

“Kami akan mendaftarkanmu di sana Lily,” jelas bibi Madison.

“Ya, menurut kami sekolah itu akan bagus untukmu,” sambung paman Ryder “Astoria Magic School? Aku tidak pernah mendengar nama itu,” ujar Lily “sudahlah Lily, tak usah banyak berceloteh!” bentak bibi Madison “kapan aku akan berangkat kesana?” Tanya Lily.

“Lusa, kau akan dijemput oleh utusan Astoria,” jawab bibi Madison, lalu meletakkan sepiring kue kering diatas meja “sebaiknya kau berkemas Lily, para utusan itu tak mau menunggu!” perintah paman Ryder “baiklah, aku akan keatas sekarang,” Lily mengiyakan.

 “Astoria, Astoria, Astoria, kedengarannya tidak menarik,” Lily mengeluarkan sebuah koper besar dari kolong tempat tidurnya, lalu mengusap untuk menghilangkan debu yang menempel. “Tapi aku tertarik dengan kata Magic School, sepertinya menyenangkan. Entahlah, sebaiknya aku persiapkan diri saja,” gumam Lily, mengeluarkan beberapa baju dari lemari.

“Lily sayang, bibi membawakan seuatu untukmu,” tiba-tiba bibi Madison memasuki kamar tidur Lily. “Letakkan saja di meja kecil itu,” tunjuk Lily, bibi Madison lalu meletakkan beberapa buah kue kering dan segelas penuh coklat panas.

Bibi Madison lalu membuka lemari Lily “Astaga Lily! Berapa banyak baju yang kau bawa?” Tanya bibi Madison “Secukupnya,” jawab Lily “Kau akan tinggal di sana gadis kecil.” Bibi Madison mengeluarkan seluruh baju Lily yang masih tersisa banyak dari lemari kemudian meletakkannya di atas kasur, “Masukkan semuanya ke koper Lily!” Bibi Madison menarik tangan Lily “Baik-baik!” Lily mengibaskan tangan bibi Madison. “Gadis nakal,” ucap bibi Madison lirih. Bibi Madison lalu keluar.

“Terlalu menyebalkan!” Lily menjatuhkan tubuhnya ke ranjang setelah berkemas. “Mungkin lebih baik aku ada di Astoria daripada berada disini! Bersama orang tua yang gendut, jelek, dan cerewet!” gerutu Lily “Bosan! mungkin aku harus keluar.” Lily menguncir rambut brunette sehalus pualamnya yang berantakan.

Lily berjalan keluar rumah dengan membawa setumpuk rasa kesal,

“Hai teman-teman!” sapa Lily, menghampiri teman-temannya di taman, “Hai Lily!” balas Ashley. “Oh ya Lily, kami dengar kau akan didaftarkan di sekolah sihir, apakah di dunia ini ada sihir??” Tanya Brooklyn, suasana hening. “Hahaha….” Tiba-tiba teman-teman yang lain tertawa. “Apakah di dunia tidak ada sekolah lain yang lebih menarik bagimu selain sekolah sihir?” Sindir Hannah. “Hahaha…” seperti biasa mereka tertawa. “Hei teman-teman! Aku tidak memilih sekolah itu! Paman dan bibi yang memilihnya untukku.” Elak Lily, tersinggung “Paman dan bibi yang memilih sekolahmu? Mereka yang menyuapimu juga? Atau jangan-jangan kau masih dimandikan oleh mereka, Lily?” Kini giliran Luke yang mengejek Lily “Hentikan kawan!” ucap Lily, tidak terdengar. Mereka semua sibuk tertawa, bahkan Brooklyn sampai berguling-guling di tanah, “Selucu itukah?” Gumam Lily, “Hentikan! Tolong! Aku mohon HENTIKAN!!” seru Joseph, semua terdiam. “Bisakah kalian menghargai Lily?” Tanya Evelyn “Tidak,” dengan polosnya Dylan menjawab, disertai tawa teman-teman yang lain “STOP!” pekik Ella angkat bicara

“Kita pergi saja dari sini Lily,” ajak Lucas, membawa Lily, Evelyn, Ella dan Joseph. “Tidak teman-teman,” Lily mencoba bicara setelah berjalan enam langkah dari teman-teman yang meledeknya “Tidak Lily!” Evelyn terus menarik tangan Lily “stop! Mereka juga teman-temanku, Evelyn!” Seru Lily “Baiklah Lily, lalu kau mau apa?” Tanya Lucas “Kita duduk disitu saja,” Tunjuk Lily pada sebuah bangku kosong di bawah pohon. “Lily, maaf jika pertanyaanku menyinggung hatimu, apakah benar kau akan didaftarkan di sekolah sihir?” Tanya Ella, menyibak dedaunan diatas bangku.

“Aku tidak mendaftar, kata paman tiba-tiba saja ada orang bertamu ke rumah, lalu orang itu berkata. Katanya aku sudah di daftarkan di Astoria, padahal paman dan bibi tidak memintanya, awalnya paman dan bibi menolak, namun orang itu memaksa dengan menawarkan sejumlah uang, akhirnya paman dan bibi menerimanya. Aneh sekali.” Jelas Lily. “Apa nama sekolah itu?” Tanya Joseph “Astoria Magic School.” Jawab Lily. “Sepertinya aku pernah dengar, dulu sepupuku bersekolah di situ, katanya tidak sembarangan orang bisa bersekolah di tempat itu, sepupuku juga mengalami hal yang sama dengan hal yang dialami paman Ryder dan bibi Madison,” Terang Lucas. “Bagaimana bisa?” Tanya Ella “Entahlah.” Jawab Lucas. “Sudah sore kawan-kawan, sebaiknya kalian pulang, sebentar lagi liburan akan usai, habiskanlah waktu lebih banyak untuk keluarga kalian.” Lily mengalihkan pembicaraan, lalu berdiri. “Baiklah. Lily, kau jangan lagi kembali ke tempat orang-orang tadi, teman-teman kita yang tidak tahu diri,” Evelyn melepas ikat rambut Lily> “Hahahahaha… jangan khawatir, Evelyn! Aku akan baik-baik saja.” Lily tersenyum. “Oke. Selamat sore, Lily.” Ella pamit, lalu pergi, disusul yang lain, dan yang terakhir adalah Evelyn “Lily, kabari aku ketika kau akan pergi.” Bisik Evelyn di telinga Lily, Lily mengangguk.

Lily berjalan pulang ke rumahnya dengan penuh kebahagiaan yang ia dapatkan dari teman-temannya, atau lebih tepat, sahabat-sahabatnya.

“Lily, Astoria memberitahu kami bahwa kau harus berangkat besok pagi pukul sembilan tepat.” Bibi Madison menyambut Lily yang baru pulang. “Apa? Bukannya lusa?” Tanya Lily

“Aku tak tahu apa-apa nak.” Jawab bibi Madison seraya mengangkat bahunya.

“Aku akan berkunjung ke rumah Evelyn.” Gumam Lily, lalu langsung keluar lagi, bibi Madison tidak mempedulikannya.

Sesampainya di rumah Evelyn..

 “Hai Evelyn!” Sapa Lily. “Hai.. kita baru bertemu tadi Lily, ada apa?” Tanya Evelyn sembari mengajak Lily masuk kedalam rumahnya. “Aku hanya ingin memberitahumu Evelyn.” Lily duduk di sofa. “Memberitahu apa?” Tanya Evelyn. “Aku akan berangkat ke Astoria besok pagi.” jawab Lily. “Bagaimana jadwalnya bisa berubah?” Tanya Evelyn. “Aku juga tidak mengerti, tadi bibi Madison yang memberitahuku.” Jawab Lily. “Padahal aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu Lily.” Ucap Evelyn menunduk sedih. “Kau sudah membuatku senang ketika kau mencoba menghentikan orang-orang yang meledekku, itu sudah cukup bagiku.” Lily tersenyum.

“Baiklah! Itu saja Evelyn, aku harus pamit.” Ujar Lily. “Kau sudah berpamitan pada Ella, Joseph dan Lucas?” Tanya Evelyn. “Belum.” Jawab Lily. “Sebaiknya aku menemanimu.” Evelyn berdiri, hendak mengantarkan Lily. “Baiklah,”

“Ella, Joseph, Lucas, mengapa kalian disini?” Tanya Evelyn. “Tidak apa-apa, kalian sendiri mau apa kesini?” Lucas balik bertanya. “Aku akan berangkat ke Astoria besok pagi, kawan.” Jelas Lily “Mengapa tidak lusa saja? Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu Lily.” Kali ini giliran Lucas yang menunduk sedih. “Kau sama saja seperti Evelyn tadi, aku pun tak tahu kenapa jadwalnya berubah.” Lily merangkul Lucas. “Lily… kami akan merindukanmu.” Ucap Ella. “Ya, kami akan sangat merindukanmu, baik-baik disana ya, Lily.” Joseph menahan tangis.

“Kalian amat berlebihan, jika liburan aku akan berkunjung kesini lagi.” Hibur Lily, namun tidak berhasl menghibur sahabat-sahabatnya. “Lily, jangan pernah lupakan kami.” Isak Evelyn. “Aku tidak akan pergi jauh untuk selamanya, jadi jangan bersedih.” Lily kembali menghibur.

“Baiklah, aku pamit dulu kawan-kawan.” Lily bangkit lalu membalikkan badan akan berjalan pulang. “Lily, kau besok pergi jam berapa?” Tanya Ella. “Jam sembilan, memangnya kenapa?” Lily memutar tubuhnya lagi, kembali menghadap ke arah teman-temannya. “Kami akan berada di rumahmu besok sebelum jam sembilan.” Evelyn mewakili teman-temannya. “Oke, sampai bertemu besok.” Pamit Lily lalu berjalan menuju rumahnya.

Rumah..

“Lily, kau sudah persiapkan segala sesuatu yang akan kau bawa besok?” Tanya paman Ryder sewaktu makan malam. “Ya paman, aku sudah mempersiapkannya.” Jawab Lily. “Kami sudah menaruh uang sakumu di meja kecil dalam kamarmu.” Bibi Madison memberitahu. “Baik, terima kasih paman, bibi. Aku tidak akan melupakan kalian.” Lily meletakkan air di dalam gelas. “Hati-hati Lily, kami akan sangat merindukanmu.” Bibi Madison mengusap rambut Lily, Lily mengangguk “Kalimatnya seperti kalimat sahabat-sahabatku tadi, apa tidak ada kalimat lain?” Batin Lily, lalu melanjutkan makannya. “Paman, bibi, aku akan menuju kamarku.” Ujar Lily setelah mencuci piring. “Silahkan Lily, kau butuh banyak istirahat malam ini.” Balas paman Ryder sambil membaca koran.

“Mia, aku akan pergi ke Astoria besok, dan kau harus ikut bersamaku.” Lily memeluk boneka kelincinya, yang ia beri nama Mia, lalu memasukkannya kedalam ransel. “Selesai! Kini waktunya aku tidur.” Gumam Lily pada dirinya sendiri, kemudian menuju kamar mandi untuk sikat gigi, lalu tidur.

Pagi..

“Pukul berapa ini? Pukul enam. Hoaaamm.. masih pagi, sebaiknya aku mandi dulu.” Lily mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Selesai mandi dan mengenakan baju, Lily ke bawah untuk menemui paman dan bibi, tak lupa Lily membawa kopernya dan sebuah tas ransel. “Pagi paman, pagi bibi.” Sapa Lily. “Pagi Lily.” Jawab paman dan bibi. “Mari Lily, bibi sudah membuatkanmu sarapan.” Ajak bibi Madison, menuntun Lily ke meja makan. “Baik bi, terimakasih.” Lily mendongak menatap wajah bibi lalu tersenyum.

Lily lalu duduk di kursi meja makan, mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai kacang diatasnya. “Jeruk panas untukmu Lily.” Bibi Madison menyerahkan segelas jeruk panas untuk Lily.

Pukul 08.00.

Ting-tong! Ting-tong! Bel rumah berbunyi, Lily segera membukakan pintunya dan mereka adalah teman-temannya. Tapi mengapa disitu ada. Orang-orang yang kemarin meledeknya? “Hai Lily.” Sapa Brooklyn, terlihat agak gugup. “Hai!” Balas Lily, lebih gugup lagi. “Ayo masuk.” Lily mempersilahkan teman-temannya masuk kedalam, bibi Madison lalu menyuguhi mereka dua piring kue kering sisa kemarin, dan beberapa gelas teh hangat. “Mmh.. Lil.., Lily.” Ashley berbicara kepada Lily. “Ya?” Tanya Lily, lalu melihat Hannah dan Ashley yang duduk berseblahan saling menyikut “ada apa?” Tanya Lily. “Kami minta maaf karena kemarin kami meledekmu. Ternyata kami salah. Kami telah mendengar cerita dari Lucas yang mengatakan bahwa sepupunya pernah bersekolah di Astoria, dan sekolah sihir itu memang ada.” Jelas Luke, Lily terdiam. “Apakah kau memaafkan kami Lily?” Tanya Luke dengan hati-hati. “Tentu aku memaafkan kalian, karena kalian adalah teman-temanku,” jawab Lily sambil tersenyum, semua tertawa.

“Baiklah, sekarang aku lapar.” Ajak Evelyn kemudian mengambil sepotong kue kering dan menyeruput tehnya. Lily, Evelyn, Ella, Lucas, Joseph, Luke, Hannah, Ashley dan beberapa teman yang lain bercengkrama dengan riangnya, mereka tertawa-tawa bersama, sampai akhirnya pukul 09.00.

Tin…Tin…! Klakson mobil bus jemputan dari Astoria Magic School berbunyi nyaring, bibi Madison repot sekali menyiapkan beberapa kue kering untuk Lily di perjalanan nanti, lalu memasukannya ke dalam kotak bekal dan menyerahkannya pada Lily. “Lily! Kau harus segera pergi!” Teriak paman Ryder dari luar. “Ya paman!” Lily balas berteriak dari dalam, lalu bibi Madison beserta Lily dan teman-temannya menuju keluar rumah. “Kami tidak akan melupakanmu Lily, tidak akan.” Teman-teman Lily terisak, Lily memeluk mereka satu per satu. “Aku juga tidak akan melupakan kalian. Aku pergi semuanya..!” Teriak Lily lalu masuk ke dalam bus.

Suasana dalam bus sangat ramai, kondektur berkumis lebat mengantarkan Lily sampai ke tempat duduknya. Di kursi itu ada nama Lily Breghinberg, nama Lily. Lily lalu meletakkan koper dan ransel di bawah kursinya, lalu duduk tenang. “Hai!” Sapa gadis di sebelah Lily. “Aku Chole.” Lanjutnya, lalu mengulurkan tangan. “Aku Lily.” Lily menerima uluran tangan Chole. “Kau adalah murid terakhir yang dijemput.” Jelas Chole. “Ooh.” Jawab Lily singkat. “Pegangan yang erat Lily!” pekik Chole, lalu bus itu pergi secepat kilat, satu detik, dua detik, tiga detik “SAMPAI!” Seru kondektur berkumis itu, sebagian anak bersorak, sebagiannya lagi sibuk mengemasi barang mereka. Lily tampak terkejut. “Apakah ini yang dilakukan oleh bis gila yang kita naiki setiap kali menuju suatu tempat?” Tanya Lily, Chole tertawa. “Ya, dan ruginya, aku adalah murid pertama yang dijemput.” Jawab Chole. Lily dan Chole turun bersama dari bus.

Deg! Lily tercekat melihat bangunan besar di depan matanya, ada ukiran dari emas yang bertuliskan Astoria Magic School berukuran besar pada gerbangnya. Beberapa murid senior sedang menaiki sapu, mengobrol dan saling menjahili satu sama lain. “Kemari.. kemari anak-anak…”Ttiba-tiba ada sebuah suara namun tak ada yang berbicara, murid baru terkejut dan sangat bingung, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seorang lelaki tua berperut buncit “Perkenalkan! Aku adalah Mr. James, kepala sekolah Astoria, sebenarnya aku ingin menemani kalian berkeliling, namun aku tidak bisa. Tapi jangan khawatir! Akan ada sekretarisku yang menemani kalian, Sophia…!” Tiba-tiba Mr. James memanggil nama seseorang. “Hai!” Tiba-tiba muncul seorang wanita di sebelah Mr. James. “Aku Sophia, panggil aku Miss Sophia! Aku akan menemani kalian berkeliling.” Ujar Miss Sophia, Mr.James lalu menghilang.

“Ikuti aku.” Ajak Miss. Sophia. Tidak ada yang mengikutinya, semua sibuk memperhatikan sekeliling mereka. “Bergegaslah!” Seru Miss. Sophia. Murid-murid baru lalu segera membuntuti Miss. Sophia. “Dan ini, asrama putri. Asrama putra ada di belakang asrama putri, kalian mengerti?” Miss. Sophia mengakhiri tur mereka.

“Mengerti Miss.” Jawab murid-murid. “Sekarang kalian boleh beristirahat.” Tutur Miss. Sophia, lalu menghilang. Lily dan Chole memasuki asrama putri, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang mendarat dari sapunya. “Halo murid baru, perkenalkan, aku adalah seorang guru disini, namaku Miss. Avery. Kalian murid putri, mari masuk ke asrama, akan kutunjkkan tempat kalian.” Ujar Miss Avery. “Lily Breghinberg, Olivia Browd, Chole Xeward dan Zoey Growsone. Kalian masuk kedalam kamar lima belas. Lalu, blablabla….” Miss. Avery menunjukkan kamar untuk Lily. Lily, Chole, Olivia dan Zoey saling berkenalan, lalu masuk kedalam kamar. Olivia menempati kasur paling pojok, disebelahnya ada Lily, lalu Chole, dan Zoey menempati kasur dipinggir. Menurut Lily, kamar itu terkesan tidak menyenangkan, bahkan sangat aneh. Seperti atap yang tinggi, lantai dari kayu yang selalu berdecit ketika diinjak, dan banyak sarang laba-laba di setiap sudut ruangan. Tiba-tiba pintu diketuk, lalu ada seorang wanita yang masuk. “Hai! Kalian pasti Lily, Olivia, Chole dan Zoey kan? Kenalkan, namaku Miss. Natalie, aku adalah pengurus kalian, nanti setelah membereskan barang-barang, kalian turun kebawah menuju ruang makan. Aku akan menunggu disana. Sampai jumpa gadis-gadis manis.” Miss. Natalie langsung keluar dan menutup pintu kembali. “Aku heran, mengapa orang tadi tidak menggunakan ilmu sihirnya seperti Miss. Sophia, Mr. James dan Miss. Avery.” Celetuk Zoey. “Cukup lucu.” Timpal Olivia lalu merangkul Zoey, mereka tertawa bersama, seperti sudah lama kenal. Lily tidak tertawa, rangkulan Olivia pada Zoey mengingatkannya pada teman-temannya di rumah. Oh.. Lily jadi merindukan mereka

 Lima belas menit kemudian…

“Cepat kawan! Ayo kita menuju ruang makan!” Ajak Lily. Ssebentar! Aku masih sibuk!” Chole berteriak, suaranya menggaung didalam kamar 15. “Ada yang bisa kubantu?” Tawar Olivia “tidak, terimakasih Olivia, aku hampir selesai.” Balas Chole. “Baiklah.” Olivia mengalah. Lily, Zoey dan Olivia menunggu Chole berkemas, beberapa menit kemudian, Chole selesai, mereka pun turun bersama. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat tangga dari batu berbentuk spiral yang menurun sampai kebawah. “Panjang sekali,” Chole berkata lirih, lalu mundur beberapa langkah, “bagaimana kita bisa menuruninya? Secara logika, kita pasti akan sampai dibawah besok,” Zoey melihat tangga takut-takut “mari kita coba dulu,” Lily menengahi ketakutan teman-temannya “Tapi Lily, apakah kau bisa?” Tanya Olivia. “Mungkin, setidaknya kita harus mencoba.” Lily memimpin teman-temannya.

Tak berapa lama kemudian. “Hmm… kita sudah menuruninya sebanyak tujuh puluh enam langkah, cukup, aku tidak kuat lagi.” Keluh Olivia. “Hai kawan! Butuh bantuan?” Tiba-tiba muncul beberapa murid menggunakan sapu terbang, mereka tampak menahan tawa, entah karena apa. “Siapa kalian?” Tanya Zoey. “Aku David, ini Andrea, lalu itu Samantha, dan yang terakhir Nicholas.” Ujar seorang anak sambil menunjuk teman-temannya. “Kami satu angkatan diatas kalian.” Gadis cantik yang bernama Andrea itu bicara. “Kalian butuh tumpangan? Silahkan menaiki sapu kami.” Tawar Samantha. “Boleh.” Jawab Olivia, lalu menuju sapu milik Samantha. Lily mendekati sapu Andrea, Zoey bersama Nicholas, lalu Chole bersama David. “Kita pergi.. pegangan yang eraatt!” teriak Samantha, mereka lalu terbang menuju ruang makan.

            “Lily! Chole! Olivia! Zoey! Kemari!!” Panggil seseorang, ternyata Miss Natalie, Lily dan kawan-kawannya segera menghampiri Miss. Natalie yang duduk di kursi sebuah meja makan, Lily, Chole, Olivia dan Zoey ikut duduk disamping Miss. Natalie. Lalu tiba-tiba ada orang berbicara diatas podium, ternyata pria tua berperut buncit tadi. “Kalau tidak salah namanya Mr.James.” Batin Lily. “Selamat siang anak-anakku!” Sapa Mr. James. “Pagi sir!” Jawab seluruh murid-murid di ruang makan. “Perkenalkan! Aku adalah Mr. James, kepala sekolah Astoria, salah satu alasan aku berkata begitu adalah karena hari ini kita kedatangan murid baru! Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kita akan mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan murid baru, blablabla…..” Mr. James kembali berpidato panjang lebar. “Baiklah! Sepertinya sambutanku sudah cukup! Silahkan menikmati hidangan!” Mr. James menyelesaikan pidatonya, anak-anak bersorak, mereka segera mengambil makanan sebanyak dan sesuka mereka, tidak terkecuali Lily dan kawan-kawannya, mereka sudah seperti makan dirumah sendiri. “Lily, darimana asalmu?” Tanya Zoey. “Aku berasal dari Victoria Village.” Jawab Lily. “Oh ya! Besok kalian akan mulai masuk sekolah, ini adalah jadwal kelas kalian.” Miss Natalie menyerahkan selembar kertas pada masing-masing murid asuhnya. “Apa ini? Besok? Apakah tidak ada masa orientasi Miss?” Tanya Chole “Orientasi? Apa itu? Disini tidak ada kata itu Chole! Berangkat lalu langsung bersekolah!” Jawab Miss. Natalie. “Oh, tidak.” Olivia melemas “Hahaha… sudahlah! Tidak usah dipikirkan! Sekarang makanlah! Setelah itu kalian harus membeli peralatan sihi.” Miss Natalie mengalihkan pembicaraan. “Ini yang kusuka!” ucap Lily riang. Seusai makan.

“Sekarang kalian menuju ke Madam’s Magic Tools. Tempatnya ada disebelah Utara asrama.” Pesan Miss. Natalie. “Kalian tidak usah membayar, pelayan toko akan langsung mengambilkan peralatan yang kalian butuhkan.” Sambungnya. “Bagaimana kami tau alat yang akan kami butuhkan Miss?” Tanya Lily. “Kalian cukup berkata, bahwa kalian adalah murid baru, pelayan akan segera mengambilkan barang yang kalian butuhkan.” Jawab Miss. Natalie. “Natalie!” tiba-tiba ada seorang pria memanggil Miss. Natalie dari kejauhan. “Rapat akan dimulai lima menit lagi!” Teriaknya. “Kalian pergilah sendiri, sampai jumpa!” Miss. Natalie meninggalkan Lily, Chole, Olivia dan Zoey. “Ayo kawan!” ajak Zoey bersemangat, memimpin teman-temannya. “Kira-kira apa yang akan diberikan pada kita?” Tanya Lily. “Bagaimana kami tau Lily, kami saja baru mengunjungi tempat aneh ini.” Jawab Olivia. “Sudahlah, kita percepat saja langkah kita, supaya cepat sampai.” Timpal Chole. “Baiklah!” Lily dan Olivia menjawab serempak. “Ini dia tempatnya.” Ucap Zoey lirih. “Kecil sekali.” Olivia menghina. “Ayo kita masuk!” Ajak Zoey, mereka lalu masuk. “Besar sekali!” Puji Olivia. “Petapi dari depan terlihat kecil.” Lanjut Olivia. “Tipuan sihir macam apa in.,” Gumam Lily. “Ada yang bisa kubantu?” Tanya seseorang, pelayan toko. “Kami murid baru, apa yang kami butuhkan?” Lily bertanya balik. “Miss. Natalie tidak meminta supaya kita mengakatakan. “Apa yang kami butuhkan?” Mengapa kau mengatakannya?” Bisik Zoey. “Kalimat itu mengalir begitu saja.” Lily balas berbisik. “Murid baru ya? Tunggu sebentar.” Pelayan itu pergi. Tak berapa lma kemudian, pelayan itu datang sambil membawa empat buah kotak kecil lalu membagikannya satu-satu pada Lily, Chole, Olivia dan Zoey, mereka langsung membukanya. “Apa ini?” Tanya Lily. “Di dalam kotak itu, ada tongkat, buku catatan dan pena.” Jawab pelayan toko itu. “Baik, terimakasih. Kami pergi dulu!” Sahut Zoey. “Ya. Semoga berhasil di hari pertama kalian.” Balas pelayan toko itu. Sesampainya di asrama.

“Sudah sore, sebaiknya kalian mandi dan beristirahat.” Miss. Natalie membuka pintu kamar. “Baiklah Miss.” Olivia mengiyakan. “Kau yang bilang iya, sekarang kau dulu yang mandi!” Celetuk Zoey. “Ya..ya.. oke.. baikla.,” Olivia merengut, lalu menuju kamar mandi. “Miss, siapa yang akan mengajar di kelas kami besok?” Tanya Lily “coba lihat jadwal kalian.” Jawab Miss. Natalie. “Hanya ada tanggal dan pelajarannya Miss, jam pertama pelajaran Pengendalian Sihir. Jam kedua pelajaran Mantra.” Jawab Chole. “Pengendalian sihir ya, kalian akan belajar bersama Mr.Anthony. Lalu pelajaran mantra dengan Mrs. Kaylee, kalian harus berhati-hati dengan Mrs. Kaylee, salah perkataan, kalian akan dirubahnya menjadi kodok.” Jelas Miss Natalie “kodok! Menjijikan!” Zoey bergidik. “Kau takut kodok?” Tanya Lily, Zoey mengangguk. “Takut dengan kodok?” Tanya Chole. Lalu tertawa. “Bisakah kau tidak mengejekku Chole?” Tanya Zoey, sedikit tersinggung. “Oh ya, maaf Zoey. Aku tidak bermaksud begitu.” Chole merasa bersalah. “Baiklah. Aku akan turun dulu.” Kata Miss Natalie. “Tunggu dulu miss.” Tahan Lily. “Ada apa sayangku?” Tanya Miss Natalie “Apakah Miss akan menggunakan ilmu sihir untuk menuju kebawah? Atau menuruni tangga spiral berbatu yang dapat ditempuh dengan limaratus langkah kaki?” Tanya Lily. “Kalian sudah tertipu, itu adalah tangga fantasi untuk menjahili murid-murid baru seperti kalian, tapi biasanya akan ada murid senior yang membantu kalian. Kalau ingin lewat tangga sungguhan, berbeloklah ke kanan, jangan ke kiri.” Jawab Miss. Natalie “tapi Miss, saat kami belok kanan, ada tulisan jalan buntu, lalu kami berbelok ke kiri.” Ujar Chole. “Itu hanya tipuan, lewati saja, lalu kalian akan sampai pada tangga yang menuju kebawah, tangga yang hanya dua puluh langkah.” Miss Natalie terkikik. “Oke, Miss boleh turun.” Zoey mempersilahkan, Miss Natalie keluar sambil tertawa lirih. “Astaga. Airnya sedingin es batu!” Pekik Olivia saat keluar dari kamar mandi. “Benarkah?” Tanya Lily, matanya tampak berbinar-binar. “Ya, sungguh! Aku hampir beku di dalam sana.” Olivia berjalan lunglai. “Biarkan aku mandi dulu, Chole! Zoey!” Seru Lily. “Aku suka air dingin.” Lanjut Lily, lalu mengambil handuk dan pakaiannya, kemudian berlari menuju kamar mandi.

Makan malam.

“Jangan lupa lewat kanan!” Sahut Chole. “memangnya kenapa? Bukannya lewat kanan jalan buntu?” Tanya Olivia bingung “tidak, tangga limaratus langkah dan tulisan jalan buntu itu hanya tipuan,” Lily memberitahu “oh tuhan! Siapa yang membuatnya! Membuatku gila saja!” Olivia menyumpahi “hahaha…”

            2 Tahun kemudian, Lily dan kawan-kawannya behasil lulus dengan nilai memuaskan. Ia disekolahkan setinggi-tingginya oleh paman Ryder dan bibi Madison. Sampai akhirnya, cita-cita Lily sebagai dokter dapat terpenuhi. Good Luck, Lily!

author
One Response
  1. author

    salman hakim4 years ago

    keren***

    Reply

Leave a reply "Lily and Astoria Magic School"