Anak Penurut, Selalu Baik?

No comment 199 views

medium_47anak-penurut-selalu-baikMemiliki anak penurut tentu membuat orangtua bahagia. Namun, anak yang “terlalu” penurut tanpa argumen sama sekali, patut diwaspadai.

ummi-online.com. Alih-alih senang, orangtua sebaiknya juga mencermati apa yang menyebabkan anak penurut, bahkan terlalu penurut. Sikap atau perilaku anak tak terlepas dari pengasuhan yang diterapkan orangtua. Bila penyebab anak jadi penurut adalah karena pola asuh yang buruk, sikap yang tampaknya baik ini justru berimplikasi buruk bagi kepribadian dan masa depan anak.

PENURUT KARENA DIPAKSA

Apakah perilaku penurut anak hanya didasari rasa takut pada orangtua? Bila jawabannya ya, menurut Adib Setiawan, M.Psi, biasanya orangtua bertipikal otoriter. Anak terpaksa patuh demi menyenangkan orangtua dan menghindarkan kekerasan fisik yang dilakukan orangtua. Nyatanya, masih banyak orangtua yang menyertakan kekerasan fisik dalam mendidik anak.
Kepatuhan yang didasari rasa takut bisa berakibat buruk pada kepribadian dan kehidupan sosial anak. Psikolog ini menjelaskan, anak akan jadi pribadi yang tertutup, pendiam dan kerap kesulitan memecahkan masalahnya sendiri. Mereka selalu bergantung kepada orang lain karena terbiasa diatur orangtua tanpa kesempatan berpendapat. Pakaian, mainan, buku, dan sebagainya adalah pilihan orangtua. Bahkan bisa jadi cita-citanya pun pilihan dan keinginan orangtua.
Dalam lingkungan sosial, anak ini juga mengalami kesulitan. Karena di rumah tak terbiasa mengungkapkan perasaan dan pendapat, dia sukar mendapat teman. Rasa percaya dirinya amat rendah hingga mudah minder. Anak-anak seperti ini pula yang mudah menjadi korban bullying teman-temannya. “Dia merasa sangat kecil dan tidak punya daya sama sekali. Ini juga akan memengaruhi performa belajar anak,” kata lulusan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini. Bahayanya lagi, anak seperti ini amat mudah terbawa pergaulan negatif karena merasa tak punya daya untuk melawan serta mengganggap dirinya selalu salah dan orang lainlah yang benar.
Orangtua juga jangan berbangga dulu bila anaknya selalu patuh dan menuruti kata-katanya. Selalu ada kemungkinan anak hanya menunjukkan kepatuhannya di rumah, sementara di sekolah atau lingkungan lain suka membangkang dan bersikap agresif. Karena tak berani bersuara di rumah, maka di luar rumah mereka melakukan pelampiasan dengan tindakan-tindakan agresif.
Apalagi mereka menganggap tindak kekerasan adalah sesuatu yang wajar dilakukan, sebagaimana yang dicontohkan orangtua di rumah. “Misalnya orangtua memukul dengan sapu, maka kalau kesal dengan teman, si anak bisa jadi memukul temannya dengan sapu juga,” kata alumnus Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.
Kalaupun pelampiasan tidak dilakukan kini, selalu ada kemungkinan anak akan melampiaskannya saat dewasa. Ada dendam dalam dirinya terhadap orangtua dan lingkungan yang menekannya sedemikian rupa untuk selalu menuruti keinginan mereka. Alangkah mengerikan jika dendamnya dilampiaskan dengan cara-cara yang keji.

POLA ASUH YANG BAIK

Sebenarnya ada cara yang jauh lebih baik untuk menjadikan anak penurut tanpa pemaksaan berupa bentakan, luapan amarah, atau kekerasan fisik. Tentu saja usaha yang dikeluarkan orangtua harus besar dan disertai kesabaran.
Fasenya dimulai sejak anak menggunakan egonya. “Ego tiap orang tidak bisa seluruhnya ditekan. Jika ditekan di satu tempat, maka akan dikeluarkan di tempat lain,” jelas Adib yang juga aktif di Autism Care Indonesia (ACI).
Anak terlahir dengan egonya dan semakin menguat pada usia 1 – 3 tahun. Saat itu anak sudah menyadari arti kepemilikan. Orangtualah yang mengarahkan agar anak tahu ada saatnya berbagi kepemilikan dengan orang di sekitar, seperti meminjamkan mainan kepada kakak, adik, teman, dan sebagainya. Ada konsep berbagi dan kompromi yang mesti dipahami anak.
Bila orangtua bisa mengarahkan ego anak pada usia itu, maka pada usia selanjutnya kadar ego anak bisa menurun 40 – 60 persen. “Pada usia 3 – 6 tahun, anak jadi tidak terlalu egois. Ego tentu masih ada, tapi normal saja. Di sekolah dia tak akan menjadi biang masalah, mudah mendengarkan kata guru, dan menjadi sosok yang nice,” papar Adib.
Pada usia 0 – 6 tahun inilah kepribadian anak terbentuk. “Bagaimana orangtua memperlakukan anak dan membentuknya, inilah fasenya. Apakah kemudian anak tumbuh jadi anak penurut, atau disebut anak yang mudah, ataukah anak akan tumbuh menjadi anak yang suka melawan atau difficult child,” terang dosen di Universitas Borobudur, Jakarta ini.
Dengan pengasuhan yang baik, anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Kepatuhan mereka pada orangtua atau guru didasari kesadaran dan pemahaman yang utuh, bukan lagi ekspresi dari tekanan yang mereka rasakan.

Asmawati
Wawancara: Desmalia Anggraini

Menumbuhkan Kepatuhan

Ada beberapa hal yang mesti diingat orangtua agar anak bisa mematuhi mereka secara sehat, antara lain:
• Memberi aturan disertai penjelasan. Setiap aturan yang diberikan pada anak mestinya disertai penjelasan bahwa tujuannya baik bagi si anak sendiri. Anak akan memahami dan bisa mematuhinya.
• Konsistensi. Satu kali aturan diterapkan hendaknya begitu untuk seterusnya. Jangan hari ini tak boleh, pada hari lain boleh. Anak jadi bingung dan tak sungkan untuk melanggar.
• Kekompakan orangtua. Ayah dan ibu harus satu kata dalam mendidik anak. Bila ayah berkata begini, tapi ibu berkata begitu, anak bingung aturan mana yang mesti dipatuhi.
• Hindari kekerasan fisik. Tak ada efek positif dari hukuman fisik, selain ketakutan anak dan kepatuhan semu. Berikan hukuman yang lebih positif dengan konsekuensi atau tugas tertentu.

author
No Response

Leave a reply "Anak Penurut, Selalu Baik?"