Hujan Menempa Anak Manja Punya Mental Baja

3 comments 171 views

Hujan turun di malam pertama mukhoyam. Amat deras. Angin berhembus kencang. Tenda seketika basah. Anak-anak mencoba bertahan di dalamnya. Hujan tak juga berhenti bahkan semakin deras, disertai angin kencang. Tenda-tenda berkelebat tersapu angin. Sampai akhirnya sekitar tenda tergenang air.

Malam itu seluruh peserta tidur berselimutkan seadanya. Dingin terasa. Tapi hangat saat berkumpul bersama. Bahkan kita masih bercanda di tengah derasnya hujan. Sama sekali mereka tidak khawatir. Orang tua merekalah yang mencemaskan kondisi hujan. Mengkhawatikan keadaan anak-anaknya.

Ada salah satu orang tua yang kebetulan datang di malam saat hujan turun.

“Ustad, ini kan hujan. Anak saya bawa pulang ya. Kasihan. Bajunya basah.”

“Saya malah justru kasihan kalau anak ibu pulang. Hujan turun tidak untuk ditakuti. Lagipula coba lihat wajah anak ibu, sama sekali masih terlihat segar bugar.”

“Iya, sih. Tapi…”

“Saya coba tanyakan ke anak ibu ya. Kalau dia mau pulang, saya persilahkan. Tapi kalau dia mau bertahan, ibu harus ikhlaskan dia tetap di sini sampai acara selesai.”

Lantas saya bertanya pada anaknya, “Kamu masih mau bertahan atau pulang?”

“Bertahan ustad,” jawabnya mantap.

“Lihat ibu, anak ibu masih semangat. Masa tega mau mengajaknya pulang.”

Akhirnya anak tersebut tidak jadi pulang. Dia punya tekad mengikuti kegiatan ini sampai selesai.

DSC_0282

Peserta Kemah Pramuka SIT saat permainan besar (foto Araf Hakim)

Alhamdulilah… hujan juga turun di malam kedua. Namun tak sederas di malam pertama. Curahan air langit ini sudah disiasati. Begitu hujan mulai menetes. Barang-barang bisa dikemas dengan kantong plastik atau ditutupi karpet kedap air. Memastikan aman. Benar-benar aman meski hujan datang.

Benar, tak satu pun peserta mukhoyam tidur di tenda selama mukhoyam. Tapi tidak berarti acara gagal. Sama sekali tidak. Acara bahkan, tetap berjalan meski hujan datang. Bangun jam dua dini hari untuk mempersiapkan jelajah malam yang terasa sunyi. Suasana itu mendekatkan kita kepada Sang Pencipta. Hujan semalam yang mengguyur menambah suasana tenang di bumi. Shalat subuh tetap berjamaah. Hawa dingin, sama sekali menyurutkan agenda.

Pagi hari, lanjut dengan mencari jejak. Berjalan di jalan setapak. Melewati pos demi pos. menyaksikan pemandangan menakjubkan. Di sepanjang perjalanan menikmati luasnya Waduk Cacaban. Seru dan menantang, begitu komentar para peserta mukhoyam.

DSC_0681

Peserta kemah di pos tali-temali

Menariknya tak satu pun anak-anak merasa tersiksa dengan hujan. Bahkan yang sakit pun memaksa untuk tetap bertahan. Anak yang sempat pulang pun, kembali keesokan harinya.

Ustad Wiyarso menyampaikan bahwa hujan itu rahmat Allah. Hujan juga makhluk Allah. Jadi tak perlu panik, nggak usah cemas. Lewat hujan kita bisa belajar tentang pentingnya evakuasi. Memindahkan ke tempat lebih yang lebih aman untuk berkegiatan. Hujan tidak mendidik anak menjadi manja, tapi justru mampu menempa anak memiliki mental baja.

author
3 Responses
  1. author

    Suto3 years ago

    Slamat dan sukses ….. anak-anak yang mampu menyelesaikan kegiatan mukhoyyam dari awal sampai akhir,kakak sangat bangga thd kalian .keg.mukhoyyam ini lebih dahsyat ,medan dan cuaca yg hebat bisa dilalui sampai akhir ,kakak yakin pd saat itu mental kalian terasah sangat kuat,dan ini sesuatu yang abstrak akan dirasakan ketika menghadapi problem dikemudiqan hari.

    Reply
    • author
      Author

      admin3 years ago

      Yang bertahan membuktikan mereka memiliki jiwa tangkas, tangguh,

      Reply
  2. author

    pawie3 years ago

    LUAR BIASA Selamat yang berhasil menaklukan tantangan selama di bumi perkemahan

    Reply

Leave a reply "Hujan Menempa Anak Manja Punya Mental Baja"